Pewarta : Herlina SC
Kab. Bandung Barat – Kondisi SDN Girimukti di Kabupaten Bandung Barat kian memprihatinkan. Kerusakan bangunan sekolah yang telah berlangsung bertahun – tahun memaksa 120 siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar secara bergiliran, karena ruang kelas yang layak digunakan sudah tidak mencukupi.
Dari 6 (enam) ruang kelas yang dimiliki sekolah, 1 (satu) ruang mengalami kerusakan berat dengan sebagian bangunan telah roboh. Sementara 5 (lima) ruang lainnya juga berada dalam kondisi rusak dengan plafon berlubang, dinding retak, serta lantai yang mulai mengalami kerusakan.
Ironisnya, hingga kini belum ada rehabilitasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat, meski pihak sekolah telah berulang kali mengajukan permohonan perbaikan.
Fasilitas yang masih relatif layak hanya Ruang Guru dan Perpustakaan. Sementara halaman sekolah masih berupa tanah merah yang menimbulkan debu saat musim kemarau dan berubah menjadi lumpur ketika hujan turun.
Kondisi sanitasi pun tak kalah memprihatinkan. Seluruh 4 (empat) Unit Toilet (MCK) siswa rusak total dan tidak dapat digunakan. Akibatnya, para siswa harus menggunakan toilet di masjid atau pondok pesantren di luar lingkungan sekolah.
Di sisi lain, hanya tersisa 1 (satu) toilet untuk digunakan oleh 11 (sebelas) guru dan tenaga kependidikan, itupun kondisinya mulai mengalami kerusakan.
Pihak sekolah mengungkapkan telah mengirimkan puluhan proposal rehabilitasi kepada pemerintah daerah. Namun, hingga kini belum ada realisasi. Perbaikan terakhir dilakukan pada 2018, tetapi bangunan yang saat itu direhabilitasi kini kembali mengalami kerusakan.
Harapan sempat muncul pada 2026 ketika SDN Girimukti masuk dalam daftar calon penerima bantuan rehabilitasi. Namun pada tahap akhir, sekolah tersebut tidak memperoleh alokasi anggaran, sementara dua sekolah lain tetap mendapatkan bantuan.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius dari pihak sekolah maupun orangtua siswa. Selain mengganggu proses belajar mengajar, ruang kelas yang mengalami kerusakan berat berada berdampingan dengan 2 (dua) ruang kelas yang masih digunakan sehingga dikhawatirkan dapat roboh sewaktu – waktu dan membahayakan keselamatan siswa.
Pihak sekolah berharap Pemerintah Kabupaten Bandung Barat segera turun tangan melakukan rehabilitasi menyeluruh agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung aman, nyaman, dan sesuai dengan standar kelayakan pendidikan.

