Ragam

960 Hektare Sawah di Cianjur Terancam Kekeringan, Pompanisasi Dimaksimalkan

adminsigiku.com
×

960 Hektare Sawah di Cianjur Terancam Kekeringan, Pompanisasi Dimaksimalkan

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Arief

Kabupaten Cianjur – Sebanyak 960 hektare lahan persawahan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terancam terdampak kekeringan. Pemerintah daerah kini memaksimalkan pompanisasi dan sejumlah langkah teknis untuk menjaga pasokan air ke lahan pertanian selama musim kemarau.

Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur mencatat, hingga 31 Juli 2026, ancaman kekeringan tersebar di 13 kecamatan. Kecamatan Cibeber menjadi wilayah dengan luas lahan terancam paling besar, yakni mencapai 191 hektare.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Cianjur Dandan Hendrayana mengatakan, selain Cibeber, lahan yang terancam kekeringan tersebar di Kecamatan Kadupandak, Sukanagara, Pagelaran, Gekbrong, Cugenang, Pasirkuda, Campaka, Cilaku, Karangtengah, Ciranjang, dan Naringgul.

“Dampak kekeringan terbagi dalam empat tingkatan, yakni ringan, sedang, berat, dan puso. Untuk kategori berat terdapat di empat kecamatan, yakni Cibeber, Gekbrong, Cilaku, dan Sukaluyu,” kata Dandan di Cianjur, Kamis (6/8/2026).

Ratusan Hektare Mulai Terdampak

Dari pemetaan sementara, lahan yang mengalami dampak kekeringan kategori sedang mencapai sekitar 13 hektare. Kondisi tersebut tersebar di Kecamatan Haurwangi, Cikalongkulon, Sukaluyu, Gekbrong, Cilaku, dan Cibeber.

Sementara itu, dampak ringan tercatat mencapai 146 hektare. Rinciannya meliputi 52 hektare di Sukaluyu, 26 hektare di Haurwangi, 14 hektare di Ciranjang, 10 hektare di Cibeber, 34 hektare di Cibeber, dan 10 hektare di Pagelaran.

Menghadapi kondisi tersebut, DTPHP Cianjur memperkuat langkah antisipasi, terutama di wilayah yang masih memiliki akses terhadap jaringan irigasi. Penambahan debit air dan pompanisasi menjadi strategi utama untuk menjaga lahan tetap mendapatkan pasokan air.

Dandan mengatakan upaya tersebut dilakukan agar produksi padi tidak terganggu meski musim kemarau terus berlangsung.

“Berbagai cara dilakukan agar produksi padi tetap maksimal meski musim kemarau, sehingga target serapan Gabah Kering Giling dapat tercapai sebesar 630.402 ton dari luas tanam sekitar 140 ribu hektare,” ujarnya.

Distribusi Air Diperketat

Menurut Dandan, penanganan kekeringan sebenarnya telah dipersiapkan sejak sebelum memasuki musim kemarau. Pada musim tanam April-September, antisipasi dilakukan agar lahan pertanian tetap memperoleh pasokan air dari berbagai sumber, tidak hanya mengandalkan jaringan irigasi.

Pengawasan terhadap distribusi air juga diperketat. Petugas kontrol di pintu-pintu air diintensifkan untuk memastikan aliran air tetap diprioritaskan menuju lahan pertanian.

Selain itu, DTPHP mengoptimalkan penggunaan pompa, menyesuaikan jadwal tanam, serta mendorong pemanfaatan sistem irigasi perpompaan secara lebih merata.

Pola tanam juga disesuaikan dengan kondisi ketersediaan air di masing-masing wilayah.

Langkah tersebut menjadi penting mengingat ancaman kekeringan tidak hanya berdampak terhadap kondisi tanaman, tetapi juga berpotensi mengganggu produktivitas dan target produksi padi Kabupaten Cianjur.

Pemerintah daerah pun terus memantau perkembangan kondisi lahan untuk memastikan setiap wilayah yang mulai mengalami kekurangan air dapat segera mendapatkan penanganan.