Pewarta : Herlina SC
Kab. Bandung Barat – Prestasi gemilang di level internasional ternyata belum menjadi jaminan seorang atlet disabilitas mendapatkan pembinaan yang layak di daerah asalnya.
Hal itu dialami Dwi Widiantoro, atlet bowling disabilitas asal Kampung Sudimampir, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang pernah mempersembahkan medali emas untuk Indonesia pada ajang Asian Para Games 2018 di Jakarta.
Di balik prestasi tersebut, Dwi mengaku masih harus mengandalkan biaya pribadi untuk menjalani latihan dan mempertahankan performanya.
Menurutnya, dukungan pembinaan maupun fasilitas bagi atlet disabilitas di Kabupaten Bandung Barat hingga kini masih belum memadai. Kondisi tersebut membuat atlet harus berjuang secara mandiri agar tetap mampu berlatih dan mengikuti berbagai kejuaraan.
“Di situlah saya sadar, keterbatasan bukan alasan untuk lemah. Saya justru menemukan tempat mengembangkan bakat dan terus berjuang berprestasi,” ujar Dwi, Kamis (6/8/2026).
Kehilangan Penglihatan di Usia 15 Tahun
Perjalanan Dwi menjadi atlet berprestasi tidak lahir dari kondisi yang mudah.
Ia kehilangan penglihatan secara total ketika berusia 15 tahun akibat serangan virus. Namun, keterbatasan tersebut tidak membuatnya berhenti mengejar mimpi.
Dwi kemudian menemukan dunia olahraga, khususnya bowling disabilitas, sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk meraih prestasi.
Perjuangan itu akhirnya berbuah hasil. Dwi berhasil mempersembahkan medali emas bagi Indonesia pada Asian Para Games 2018 di Jakarta.
Namun, setelah mengharumkan nama bangsa di panggung internasional, persoalan justru muncul ketika ia kembali berlatih di daerah asal.
“Dibandingkan daerah lain, dukungan dan fasilitas di sini masih jauh sekali,” ungkapnya.
Prestasi Internasional, Pembinaan Masih Mandiri
Dwi mengatakan, mempertahankan prestasi sebagai atlet tidak cukup hanya dengan kemauan dan semangat.
Dibutuhkan tempat latihan, fasilitas olahraga yang memadai, program pembinaan berkelanjutan, pendampingan, serta dukungan pembiayaan untuk mengikuti pertandingan.
Dalam kondisi tersebut, Dwi mengaku masih mengeluarkan biaya pribadi untuk menjalani latihan dan mempertahankan kemampuannya.
Dukungan keluarga, khususnya sang istri, menjadi salah satu kekuatan utama yang membuatnya tetap bertahan menjalani latihan dan mengikuti berbagai kompetisi.
Kondisi tersebut menjadi ironi tersendiri. Seorang atlet yang pernah membawa pulang medali emas Asian Para Games justru masih harus berjuang mencari biaya agar dapat terus mempertahankan prestasinya.
Dwi berharap Pemerintah Kabupaten Bandung Barat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap pembinaan atlet disabilitas, termasuk memperkuat peran National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Bandung Barat.
“Padahal, tanpa pembinaan yang berkelanjutan, Kabupaten Bandung Barat berisiko kehilangan bibit-bibit atlet potensial. Prestasi yang selama ini diraih dengan semangat luar biasa bisa berhenti hanya karena negara, melalui pemerintah daerah, gagal menyediakan ruang tumbuh bagi para atlet disabilitas seperti kami,” tegasnya.
Bukan Minta Perlakuan Istimewa
Bagi Dwi, perhatian pemerintah terhadap atlet disabilitas bukan berarti memberikan perlakuan istimewa.
Yang dibutuhkan adalah kesempatan yang setara untuk berlatih, berkembang, dan berkompetisi.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu memastikan ketersediaan sarana dan prasarana olahraga yang aksesibel serta sistem pembinaan yang dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika atlet akan menghadapi pertandingan atau setelah berhasil meraih prestasi.
“Perhatian terhadap atlet disabilitas tidak harus diwujudkan dalam perlakuan khusus, melainkan melalui penyediaan sarana, prasarana, dan pembinaan yang berkelanjutan,” katanya.
“Sarana dan prasarana yang belum memadai tak seharusnya menjadi penghalang prestasi anak-anak disabilitas daerah,” lanjut Dwi.
Persoalan ini menjadi penting karena potensi atlet disabilitas di daerah tidak akan berkembang hanya dengan mengandalkan perjuangan individu.
Tanpa ekosistem pembinaan yang kuat, talenta-talenta baru berpotensi berhenti di tengah jalan. Bahkan atlet berprestasi yang sudah terbukti mampu mengharumkan nama Indonesia pun dapat kehilangan kesempatan untuk mempertahankan prestasinya.
Medali Bukan Sekadar Logam
Meski menghadapi keterbatasan dukungan, Dwi memilih untuk tetap optimistis.
Ia mengajak para penyandang disabilitas untuk tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti mengembangkan potensi.
Baginya, prestasi bukan semata-mata soal memenangkan pertandingan, tetapi tentang proses panjang untuk membuktikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan meraih mimpi.
“Sebab bagi saya pribadi, sebuah medali bukan sekadar logam berkilau, tapi cerminan diri, bukti kerja keras tanpa henti dan jawaban bahwa mimpi itu tetap bisa diraih meski jalannya penuh rintangan,” tandasnya.













