Ragam

Diiringi Puluhan Ambulans, Relawan Kemanusiaan Ahmad Zaki Ali Dimakamkan di TPU Sukabumi Selatan

adminsigiku.com
×

Diiringi Puluhan Ambulans, Relawan Kemanusiaan Ahmad Zaki Ali Dimakamkan di TPU Sukabumi Selatan

Sebarkan artikel ini

Pewarta : red

Jakarta – Suasana duka menyelimuti pemakaman Relawan Gerak Cepat Ahmad Zaki Ali di TPU Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (22/8/2026) malam. Jenazah almarhum diantar menuju tempat peristirahatan terakhir dengan iringan puluhan mobil ambulans.

Berdasarkan pantauan di lokasi, jenazah Ahmad Zaki Ali yang telah dishalatkan langsung dibawa menuju TPU Sukabumi Selatan. Sedikitnya lebih dari 50 mobil ambulans berjalan perlahan secara beriringan mengawal perjalanan terakhir relawan kemanusiaan tersebut.

Tak hanya ambulans, sejumlah rekan almarhum dari berbagai komunitas relawan juga ikut mengiringi perjalanan jenazah dengan berjalan kaki. Mereka menempuh jarak lebih dari dua kilometer dari rumah duka hingga ke lokasi pemakaman.

Di TPU Sukabumi Selatan, keluarga, sahabat, dan rekan-rekan seperjuangan tampak larut dalam kesedihan. Kepergian Ahmad Zaki meninggalkan duka mendalam, terutama bagi kalangan relawan kemanusiaan yang selama ini mengenal sosoknya sebagai pribadi yang aktif dan selalu cepat merespons bencana.

Ahmad Zaki Ali meninggal dunia di Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Jumat petang (21/8/2026). Ia diduga mengalami kelelahan saat dalam perjalanan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan.

Selalu Terdepan Saat Bencana

Kakak pertama almarhum, Reza, mengatakan Ahmad Zaki dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan keluarga. Di tengah aktivitasnya sebagai aktivis dan relawan, almarhum disebut tidak pernah membawa identitas atau atribut perjuangannya ke dalam kehidupan keluarga.

“Beliau di luar mungkin punya atribut sebagai seorang aktivis, sebagai founder Gerak Bareng, sebagai aktivis pemuda Muslim, tapi ketika di keluarga, dia melepas semua atribut itu,” ujar Reza kepada wartawan.

Menurut Reza, dunia kemanusiaan bukan sekadar aktivitas bagi adiknya. Respons cepat terhadap bencana telah menjadi panggilan hidup dan passion yang dijalani Ahmad Zaki.

“Misalkan hari ini gempa, mungkin malam sudah tiba di lokasi gempa. Kalau tsunami Aceh, hari pagi ini, malam sudah di Aceh. Beliau termasuk yang sangat responsif berkaitan dengan mitigasi bencana. Dan itu yang menjadi passion beliau,” katanya.

Hal senada disampaikan salah seorang rekan relawan, Janton. Ia mengenang Ahmad Zaki sebagai sosok muda yang rendah hati, namun memiliki kepedulian besar terhadap masyarakat terdampak bencana.

Menurut Janton, hampir setiap kali bencana terjadi, baik di Jakarta maupun berbagai daerah lain di Indonesia, Ahmad Zaki selalu berupaya hadir dan menggerakkan jaringan relawan.

“Almarhum ini anak muda yang humble, yang memang kepeduliannya luar biasa. Setiap ada bencana, baik di lokal dalam Jakarta sampai ke luar, beliau akan selalu hadir ketika bencana itu ada di Indonesia,” ujarnya.

Janton menuturkan, Ahmad Zaki juga dikenal kerap memotivasi para relawan agar tidak menunggu lama untuk bergerak. Persiapan dilakukan dengan membawa kemampuan fisik, logistik, hingga bantuan yang dapat langsung disalurkan kepada korban.

“Kita memang kalau setiap ada bencana, kita sudah prepare, baik fisik, logistik, dan bantuan-bantuan yang memang bisa kita bawa, kita bawa,” katanya.

Selain terlibat langsung dalam berbagai penanganan bencana, Ahmad Zaki juga disebut aktif merintis sejumlah kegiatan dan lembaga kemanusiaan.

Bagi Janton, salah satu kepedulian almarhum yang paling membekas adalah perhatiannya terhadap anak-anak jalanan di Jakarta. Ahmad Zaki disebut tidak hanya mengajak mereka menerima bantuan, tetapi juga mendorong mereka untuk ikut melakukan kegiatan-kegiatan positif.

“Yang saya sangat terharu, dia mengajak anak-anak punk itu untuk melakukan kebaikan-kebaikan juga,” tuturnya.

Kepergian Ahmad Zaki Ali meninggalkan kehilangan besar bagi keluarga dan jaringan relawan. Iringan puluhan ambulans menuju TPU Sukabumi Selatan menjadi simbol penghormatan terakhir bagi seorang relawan yang selama hidupnya dikenal selalu berusaha hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan.