Pewarta : Arief
Kabupaten Cianjur — Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Cianjur mulai menyisir aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cianjur yang masih memiliki tunggakan pajak kendaraan maupun pajak tanah.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan penerimaan pendapatan asli daerah (PAD), khususnya dari sektor pajak daerah.
Kepala Bidang Pendataan dan Penetapan Pajak Daerah (PPPD) Bapenda Cianjur Muharam mengatakan pihaknya telah mengimbau ASN yang memiliki tunggakan agar segera memenuhi kewajiban pajaknya.
“Imbauan kepada ASN yang belum membayar pajak untuk segera membayar pajak, baik kendaraan maupun pajak tanah yang atas nama ASN. Bulan ini sudah mulai banyak juga yang masuk,” kata Muharam, Minggu (27/9/2026).
Selain ASN, Bapenda Cianjur juga memperketat pengawasan terhadap wajib pajak. Pengawasan untuk sektor Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) dilakukan bersama pihak kecamatan, sementara pemerintah desa dilibatkan untuk mempercepat pelaporan.
Hingga saat ini, realisasi penerimaan pajak daerah Kabupaten Cianjur tercatat mencapai 70,7 persen.
Realisasi tertinggi berasal dari Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB) yang telah mencapai 120 persen. Selanjutnya, Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) sebesar 75 persen, PBB 71 persen, serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebesar 63 persen.
Namun, sejumlah sektor pajak masih berada di bawah target, termasuk pajak air tanah. Muharam mengatakan salah satu kendalanya adalah sejumlah wajib pajak yang masa izinnya telah habis dari pemerintah provinsi.
Sektor pajak hotel juga masih menghadapi kendala. Bapenda mencatat keterlambatan pelaporan dan penyetoran pajak oleh sejumlah pengelola hotel turut memengaruhi realisasi penerimaan.
“Untuk capaian pajak hotel memang masih di bawah. Faktornya akibat kendala dari manajemen hotel yang terlambat melaporkan dan menyetorkan pajak,” ungkapnya.
Di sisi lain, tingkat kunjungan hotel disebut relatif stabil. Namun, sebagian wisatawan mulai beralih ke akomodasi glamping yang menawarkan biaya menginap lebih murah.
“(Kunjungan) relatif lebih stabil, cuma banyak yang beralih dari hotel ke glamping karena memang pembayarannya lebih murah,” pungkas Muharam.













