Pewarta : Ida
Kota Bandung – Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Kota Bandung menargetkan pengurangan sampah sebesar 20 persen dari sumbernya di kawasan Bandung Raya. Untuk mencapai target tersebut, sebanyak 25.000 mahasiswa dari sekitar 90 perguruan tinggi disiapkan untuk mengedukasi masyarakat di 50 kecamatan.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, mengatakan pelibatan mahasiswa menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat penanganan sampah dari hulu, terutama melalui pengurangan sampah makanan, pemilahan, pemanfaatan kembali, dan daur ulang di tingkat rumah tangga.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi agar pemerintah provinsi dan kabupaten/kota memperkuat sinergi dalam menangani persoalan strategis, termasuk sampah dan penataan ruang milik jalan.
Hal itu disampaikan Herman seusai berkoordinasi dengan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di Balai Kota Bandung, Kamis (15/10/2026).
Menurut Herman, penanganan sampah di Bandung Raya membutuhkan pendekatan terstruktur, sistematis, dan melibatkan seluruh unsur masyarakat. Kebijakan pemerintah harus didukung perencanaan berbasis data serta pelaksanaan yang konsisten hingga tingkat kewilayahan.
“Tidak bisa by feeling, harus by design. Hati harus hadir, logikanya juga harus hadir. Artinya, empirik dan saintifik harus diadu-maniskeun atau dipadukan,” ujar Herman.
Ia menegaskan, koordinasi lintas pemerintahan harus diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan. Pemerintah kecamatan, kelurahan, pengurus RW, perguruan tinggi, dan masyarakat perlu bergerak bersama agar pengurangan sampah tidak berhenti pada program dan sosialisasi.
25.000 Mahasiswa Diterjunkan ke 50 Kecamatan
Pemprov Jabar telah menjalin komunikasi dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV untuk menggerakkan mahasiswa dari sekitar 90 perguruan tinggi di kawasan Bandung Raya.
Program ini menargetkan 25.000 mahasiswa berkolaborasi dengan camat, lurah, pengurus RW, dan unsur masyarakat lainnya di 50 kecamatan. Sebanyak 26 kecamatan berada di Kota Bandung, sedangkan sisanya tersebar di wilayah Bandung Raya.
Mahasiswa akan terlibat langsung dalam edukasi dan pendampingan masyarakat, terutama untuk membangun kebiasaan mengurangi sampah makanan serta memilah sampah sejak dari rumah tangga.
Herman mencontohkan penerapan program serupa di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Selama tiga bulan, mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba) mendampingi masyarakat dalam upaya pengurangan dan pemilahan sampah.
Berdasarkan hasil yang disampaikan Herman, volume sampah di wilayah tersebut berkurang sekitar 20 persen, sementara jumlah sampah terpilah meningkat hingga dua kali lipat.
Pengalaman tersebut akan direplikasi ke kecamatan lain di Bandung Raya sebagai salah satu model penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Kalau pengalaman di Arcamanik ini kita replikasi dan diperkuat bersama, insyaallah kita optimistis pengurangan sampah 20 persen dari hulu bisa dicapai,” katanya.
Herman menyebut, timbulan sampah di Bandung Raya diperkirakan mencapai 5.000 ton per hari. Dengan target pengurangan 20 persen, sekitar 1.000 ton sampah per hari berpotensi tidak lagi masuk ke rantai pengelolaan sampah hilir.
“Sebanyak apa pun teknologi yang kita siapkan di hilir, kemampuan kita mengurangi sampah dari hulu harus diperkuat. Sebaik-baiknya penanganan sampah adalah mengurangi sampah, memanfaatkan sampah, dan mendaur ulangnya sejak dari rumah tangga,” tuturnya.
TPA Sarimukti Diperkuat, Risiko Longsor Diantisipasi
Selain mengurangi sampah dari sumbernya, Pemprov Jabar menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga keberlangsungan operasional Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti yang menghadapi tekanan kapasitas.
Herman mengatakan, pemerintah telah melakukan konsolidasi dan kajian bersama sejumlah pihak, termasuk perguruan tinggi, untuk mengoptimalkan kapasitas fasilitas sekaligus memitigasi berbagai risiko operasional.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah pemadatan sampah atau compacting yang direncanakan berlangsung hingga Desember 2026. Kajian teknis telah dilakukan bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan mempertimbangkan potensi gas metana dan aspek keselamatan.
Pemprov Jabar juga merencanakan pembangunan dua gravity wall atau dinding penahan untuk memperkuat struktur timbunan sampah dan mengurangi risiko longsor. Proses pengadaan ditargetkan berjalan agar pembangunan dapat dimulai pada awal 2027.
Di sisi lain, pemerintah melakukan mitigasi terhadap peningkatan air lindi di zona baru serta menjajaki dukungan teknis dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Pengembangan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar minyak juga tengah dijajaki bersama TNI Angkatan Darat. Sementara itu, pemanfaatan sampah menjadi refuse – derived fuel (RDF) melalui kerja sama dengan sektor swasta masih dalam tahap finalisasi.
Pengurangan dari Hulu Jadi Kunci
Herman menegaskan, berbagai upaya di hilir tidak akan cukup tanpa pengurangan sampah dari sumbernya. Penambahan teknologi dan penguatan fasilitas harus berjalan beriringan dengan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sehari – hari.
Karena itu, pelibatan mahasiswa dan penguatan peran pemerintah di tingkat kecamatan hingga RT/RW diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat.
Dengan target pengurangan 20 persen atau sekitar 1.000 ton sampah per hari, Pemprov Jabar berharap beban pengelolaan sampah di Bandung Raya dapat ditekan dan ketergantungan terhadap TPA Sarimukti berkurang.
Keberhasilan program tersebut akan sangat ditentukan oleh konsistensi pelaksanaan di lapangan, efektivitas pendampingan masyarakat, serta sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan warga dalam menerapkan pemilahan dan pengurangan sampah dari rumah tangga.













