Pewarta: Arief
LDR (Long Distance Relationship) atau dikenal dengan hubungan jarak jauh, biasanya dipakai oleh sepasang kekasih yang terpisah oleh jarak. Tetapi, LDR kali ini bukan dengan sang kekasih, melainkan dengan siswa/siswi tercinta dimasa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Mengapa berat ? karena harus membangun chemistry secara virtual agar proses pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Selain itu, tugas sebagai wali kelas pun harus dilaksanakan secara virtual. Membimbing siswa/siswi kelas 11 IPA 2, dimana saya belum mengenal dekat karena di kelas 10 tidak mengajar.
Untuk membangun chemistry, pendekatan pertama yang saya lakukan adalah berusaha mencairkan suasana di grup kelas dengan masuk ke dunia mereka ketika berkomunikasi. Misalnya, dengan menggunakan stiker-stiker lucu whatsapp agar anak pun tidak takut atau kaku ketika berkomunikasi. Tetapi tetap dengan membatasi agar komunikasi yang terjalin dapat saling menghormati. Alhamdulillah, dengan berusaha beradaptasi masuk ke dunia mereka, komunikasi hingga saat ini berjalan lancar.
Apa contohnya ? salah satu contoh chemistry yang mulai terbentuk yakni kelas 11 IPA 2 menjadi kelas dengan siswa/siswiterbanyak dalam mengerjakan tugas pada jenjang kelas 11. Alhamdulillah, itu merupakan kabar gembira untuk kami dan menjadikan kami lebih dekat dalam berkomunikasi. Dimasa PJJ ini, saya berusaha membentuk karakter anak untuk saling menghormati, saling membantu, bertanggung jawab dan jujur. Ketika ada kawan yang kesulitan, kami berusaha melacak bersama untuk membantu mencarikan solusi.
LDR kali ini pun tidak luput dari kendala. Ada beberapa kendala, salah satunya yaitu anak hilang. Kok bisa anak hilang? Ya, beberapa siswa hilang dalam komunikasi yang kami jalin di grup WhatsApp. Saya berusaha melacak beberapa anak hilang bersama siswa/siswi lainnya sehingga karakter saling membantu pun dapat terbentuk.
Beberapa informasi saya peroleh, dan saya pun berusaha berkomunikasi dengan beberapa anak hilang tersebut namun hasilnya tetap nihil. Mereka tetap tidak mengerjakan tugas dari guru ataupun sebagai PJ mata pelajaran. Oleh karena itu saya memberanikan diri untuk home visit dimasa PSBB ini, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan covid-19.
Home visit membuahkan hasil. Beberapa anak hilang telah kembali. Salah satunya kita sebut saja M, ia akhirnya datang ke sekolah ketika diminta mengambil soal PTS yang dikerjakan secara luring. Betapa bahagianya bertemu dengan M, yang siap untuk mengejar tugas yang tertinggal. Hingga saat ini M mengerjakan tugas dengan baik, mencicil tugas-tugas yang terlewat.
PJJ ini menuntut kami para guru untuk tetap bersabar melayani siswa/siswi sepenuh hati sebagaimana mestinya. Home visit mungkin salah satu cara yang saya gunakan agar komunikasi dapat terus berjalan dengan baik.
Sungguh LDR itu berat! seorang guru harus benar-benar memikirkan cara agar tidak kehilangan anak. Entah sebagai guru mata pelajaran ataupun wali kelas. Kami para guru pun dipaksa untuk terus berinovasi dalam penggunaan media pembelajaran agar proses PJJ terus berjalan dengan baik. Kecenderungan anak yang mulai bosan dimasa PJJ ini menjadi tantangan yang berat bagi kami para guru.
Walaupun demikian, PJJ ini merupakan cara terbaik dalam proses pembelajaran dimasa pandemi, karena kekhawatiran akan penyebaran Covid-19 masih sangat tinggi. Guru yang dipaksa untuk terus berinovasi, merupakan satu diantara hal positif lainnya yang dapat diambil dari PJJ ini. Tetap semangat untuk semua guru dalam melayani anak didik sepenuh hati, demi ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Keep Spirit













