OPINI/ArtikelRagam

Sekolah Penggerak Di Arus Liar

adminsigiku.com
×

Sekolah Penggerak Di Arus Liar

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Adalah guru dan TAS SMAN 1 Parungpanjang sebagai pelaksana PSP angkatan 1 benar-benar kompak. Kompak apa? Kompak menaklukan arus liar Sungai Citarik, Cikidang Sukabumi Jawa Barat. Bagi mereka arus liar Citarik sangat asyik dan menantang sebagaimana tantangan menjadi guru dan TAS di sekolah pelaksana PSP.

Sebagai pelaksana PSP SMAN 1 Parungpanjang terus belajar dan belajar. Terutama timsus komite pembelajaran. Kepala sekolah, pengawas sekolah dan timsus komite pembelajaran adalah inti dari jalannya roda “pemerintahan” pelaksana PSP. Sangat tak mudah menjadi sekolah pelaksana PSP.

Mengapa tak mudah ? Karena menjadi pelaksana PSP adalah menjadi sekolah model di Era Merdeka Belajar yang harus menjadi sekolah rujukan. Saya sebuat saja sekolah pelaksana PSP harus menjadi “imbaser” bagi sekolah sekitar, atau sekolah lainnya. Sekolah pelaksana PSP harus mengimbaskan parktik baiknya bagi sekolah lain.

Menjadi sekolah PSP bagaikan menjadi sekolah yang berada di “arus liar” dinamika tuntutan arus perubahan pendidikan yang liar. Liar dalam artian penuh tantangan perubahan, tantangan regulasi, tantangan program baru, tantangan format administrasi baru, tantangan kurikulum baru, tantangan tuntutan baru, tantangan citra baru sebagai sekolah pelaksana PSP.

Bahkan saat guru dan TAS SMAN 1 Parungpanjang sudah satu fase melayani anak didik kelas 10 PSP. Mereka butuh menguatkan kinerja dan prestasi sebagai pelaksana PSP. Banyak cara untuk meningkatkan kinerja dan prestasi bagi guru dan TAS di setiap satuan pendidikan. IHT, seminari, webinar, workshop dan sejumlah giat kreatif lainnya.

Guru dan TAS SMAN 1 Parungpanjang akhirnya bersepakat menjajal arus liar Sungai Citarik. Setelah sebelumnya diberikan pembekalan dan penguatan spiritulitas dan mentalitas kolaboratif. Penguatan kolaborasi dan membangun mental aparatur pendidik terbaik tentu tak mudah. Dibutuhkan kebersamaan dalam giat efektif.

Melihat dinamika kelompok, ekspresi kelompok dan individual dalam giat upgrading guru dan TAS SMAN 1 Parungpanjang, nampak sangat baik. Apalagi dalam membangun kebersamaan saat menaklukan arus liar Sungai Citarik. Guru dan TAS berada dalam tantangan arus liar, kontur sungai yang berkelok, bebatuan yang mengintai. Sungguh memacu adrenalin.

Instruktur dan pendamping kegiatan dalam bimbingan Bapak Yusup sungguh efektif. Sejumlah guru yang awalnya ragu dan agak takut menghadapi arus liar Sungai Citarik, akhirnya ceria dalam kebersamaan. Basah kuyup semua, terombang ambing semua. Namun tetap kompak dan senyum bersama. Bersama sama dalam arus liar Sungai Citarik ibarat bersama-sama dalam menaklukan “arus liar” tuntutan publik pendidikan.

Pola baru, paradigma baru layanan pendidikan di sekolah pelaksana PSP tentu harus terlihat. Tiga dosa besar dunia pendidikan dan target lahirnya profile pelajar Pancasila menjadi “beban” tersendiri bagi guru dan TAS sekolah pelaksana PSP. SMAN 1 Parungpanjang berusaha optimal dalam mengadaptasi dan beradaptasi dengan tuntutan zaman era sekolah penggerak.

Sepulang dari “penaklukan” arus liar Sungai Citarik maka SMAN 1 Parungpanjang punya spirit bersama dalam meningkatakn kinerja dan prestasi. Spirit apa? Mentalitas apa yang akan dibangun dan menjadi “kebaruan” bagi guru dan TAS SMAN 1 Parungpanjang dalam mensukseskan layanan pendidikan?

Kebaruan semangat, spirit itu terwujud dalam yel-yel baru pasca menaklukan arus liar Sungai Citarik di tahun baru 2022. Spirit itu adalah jadilah guru dan TAS yang benar-benar “ Sukses Melayani dan Memuliakan” anak didik. Tentu melayani dan memuliakan siapa pun yang ada civitas akademika SMAN 1 Parungpanjang.

Dalam acara penutupan Saya katakan pada guru dan TAS SMAN 1 Parungpanjang. “Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang gagal hidupnya karena melayani dan memuliakan orang lain. Sebaliknya semua orang yang melayani dan memulikan orang lain selalu sukses menjalani kehidupan”.

Diakhir kalimat Saya katakan, “Kolaborasi dan saling melayani memuliakan itu dilakukan para nabi”. Nabi hidupnya sukses dunia akhirat karena menjadi pelayan dan pemulia orang lain. Jangan lupa kolaborasi dengan sesama, sejawat dalam dunia pendidikan. Guru dan TAS bagaikan “para sahabat” dalam kisah kenabian.

Tidak ada orang hebat sendirian. Nabi saja sebagai “kekasih” Allah, Tuhan yang maha Esa tidak ada yang bisa sendirian. Butuh sahabat, para sahabat dan jamaah dalam membangun kesuksesan.

SMAN 1 Parungpanjang sebagai organisasi layanan pendidikan tentu membutuhkan kolaborasi dan kekuatan kejamaahan sebagaimaa kekompakan menaklukan arus liar Sungai Citarik dalam satu perahu karet.

Nabi Muhammad saat wafat berkata, “Ummati ummati”. Seorang guru, bisa berhati dan berkata setiap hari, “Murid Ku, Murid Ku”. Artinya kita “berhamba” melayani masa depan bangsa melalui anak didik. Sekolah adalah “Rumah Ibadah Pendidikan Terbaik”. Jadilah imam teladan bagi semua anak didik.