Penulis: Dwi Arifin (Jurnalis Media Cetak dan Online )
Masa pandemi membuat produk usaha media cetak menurun jumlah pembacanya. Disisi lain sejak awal pandemi virus covid19 cenderung dominan menyebar di perkotaan, sedangkan di desa lebih sedikit jumlahnya. Sama halnya penyebaran koran, secara garis besar jumlah publik baca media massa lebih banyak di perkotaan, sedangkan jumlah publik baca di pedesaan lebih sedikit. Maka hal ini sangat menarik dibahas tentang peluang koran menyentuh warga desa.
Lebih dari 200 tahun surat kabar menjalankan fungsinya sebagai satu-satunya media penyampai berita kepada khalayak dan sebagai sumber untuk mengakses informasi yang dibutuhkan atau sebagai sosial kontol untuk kemajuan pemerintah dan rakyatnya.
Di Indonesia, surat kabar berkembang dan mempunyai peranannya di tengah masyarakat dulu hingga sekarang. Sejarah mencatat bahwa produk mesin cetak, telah mengambil peran yang cukup signifikan dalam perkembangan surat kabar di Indonesia dari berbagai aspek kehidupan keterkaitannya sebagai media massa yang berpengaruh di masyarakat.
Dengan berkembangnya media online di internet, disertai banyaknya perusahaan koran dan majalah yang beralih mendirikan situs online dan dibarengi juga dengan trend penggunaan gadget seperti Handphone, Ipad, Galaxy tab maupun Playbook untuk akses internet, dan beralihnya publik baca dari media cetak ke media online. Mampukah media cetak bertahan menghadapi pandemi dan bersaing di tengah pertumbuhan teknologi informasi?
Tak ada media cetak yang tak ingin berkembang mengikuti kemajuan jaman, itulah penggalan kata yang cocok menggambarkan perkembangan industri media massa yang banyak bersaing dengan media lain belakangan ini. Media massa yang berkembang di era baru ini tidak lagi sama dengan era lama yang hanya dapat dinikmati melalui televisi, cetak, dan radio melainkan dapat dinikmati melalui media online. Bila melihat perkembangan media online yang baru booming pada tahun 1999 saat undang-undang pers No.40 Tahun 1999 mendukung tumbuhnya usaha media. Lalu dimulai lahirnya media online dengan Blog.com hingga sampai pesat sampai sekarang jumlah media online mencapai jutaan di dunia maya.
Banyaknya media cetak (koran) yang tidak terbit lagi menandakan peluang usaha yang semakin sempit karena persaingan yang sangat pesat antara media online dengan media cetak. Kalau dibaratkan media cetak dan media online satu saudara kaka adik. Maka keduanya harus saling mendukung untuk kehidupan masa depannya. Harus ibarat sayap kiri dan kanan untuk terbang tinggi.
Membangkitkan usaha media cetak koran dengan basis desa ke depan merupakan hal menarik yang akan dibahas. Dengan adanya program pemerintah pusat secara nasional bertema desa membangun. Maka ini menjadi peluang usaha media cetak koran berkembang di desa.
Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menyatakan dana desa boleh digunakan untuk pengembangan perpustakaan di daerah.
“Wujud konkret dari pengembangan perpustakaan desa ini adalah Permendes No.19 Tahun 2015, yang memastikan bahwa pengembangan perpustakaan sebagai prioritas penggunaan dana desa. Artinya, masyarakat desa boleh menggunakan dana desa untuk pengembangan perpustakaan”
Sebelumnya Kemendes PDTT dan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) melakukan penandatanganan nota kesepahaman untuk mengatasi rendahnya tingkat literasi di perdesaan.
Kesepahaman itu menjelaskan dana desa bisa digunakan untuk membeli koleksi buku-buku bahan bacaan atau koran untuk di perpustakaan desa atau ruang pelayanan desa agar dapat dinikmati para pengunjung warga saat ke kantor desanya.
“Tidak ada batasan berapa dana desa yang boleh digunakan, tapi intinya kepala desa diberikan ruang untuk dapat menggunakan dana desa untuk perpustakaan dan bahan bacaannya yang mendukung pertumbuhan literasi hingga budaya atau daya baca warga di desa”
Permendesa PDTT No 11 tahun 2019 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa tahun 2020 menjelaskan adanya alokasi untuk pengembangan kegiatan pelayanan sosial dasar sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) meliputi:
- Pengadaan, pembangunan, pengembangan, serta pemeliharaan sarana dan prasarana dasar untuk pemenuhan kebutuhan:
- lingkungan pemukiman;
- transportasi;
- energi;
- informasi dan komunikasi; dan
- sosial.
Bahan bacaan media cetak koran sangat cocok untuk menjadi sarana informasi dari pemerintah kepada rakyatnya. Sehingga hadirnya media cetak koran disetiap kantor desa menjadi penting karena dibutuhkan.
Selain itu juga media cetak koran menjadi sarana yang tepat untuk arsip pembangunan di desa. Selain kantor desa, kantor RW hingga pos ronda menjadi tempat yang perlu hadirnya media cetak koran disana. Kenapa, karena saat warga berkumpul media cetak koran akan menjadi bahan diskusi yang positif. Untuk pengadaan pembiayaan media cetak korannya bisa dari alokasi dana bersumber APBDesa yang jumlahnya rata-rata miliaran setiap desanya. Maka dengan dasar aspirasi masyarakat pada saat musyawarah rencana pembangunan desa, koran dapat digratiskan bagi warganya melalui pembiayaan APBDesa.
Dengan adanya media cetak koran disetiap titik kumpul masyarakat umum mereka akan penasaran untuk membaca dan ahirnya mereka memiliki kebiasaan membaca yang didasari kebutuhan. Hadirnya media cetak di ruang berkumpulnya warga desa juga sebagai jalur komunikasi antara pemerintah desa atau pemerintah pusat kepada setiap rakyatnya.
Kalau dicermati dahulu media cetak atau koran hanya beredar di perkotaan. Sekarang saatnya meluas hingga pelosok desa. Karena dengan memiliki publik baca yang berbasis warga desa secara tidak langsung akan merubah pola pikir seperti orang kota yang dinilai lebih maju dan kreatif. Jadi akan tersinergiskan upaya pembangunan sumber daya manusia di Desa dengan Kota.
Setelah tumbuh peredaran media cetak koran di desa. Maka semua akan merasakan dampak positif. Karena dalam unsur negara atau bangsa yang maju ada media cetak bahan bacaan yang tumbuh pesat disana.











