Ragam

Melihat Demo Mahasiswa

adminsigiku.com
×

Melihat Demo Mahasiswa

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Ada dua entitas warga negara yang sangat berharga di semua negara. Keduanya adalah pelajar dan mahasiswa. Pelajar dan mahasiswa adalah entitas yang cenderung berpihak pada idealisme. Pelajar dan mahasiswa adalah generasi muda yang sedang belajar menegakan kebenaran dan jauh dari kontaminasi politik praktis.

Terutama mahasiswa, memiliki kecenderungan menyuarakan hati nurani rakyat. Namun saat ini kita harus lebih waspada. Mahasiswa juga manusia biasa. Mereka sedang mencari jati diri. Bisa jadi ada pihak-pihak tertentu yang mengendalikan jati dirinya. Ada sponsor ? Semoga tidak, kecuali sponsornya aspirasi rasa keadilan dari rakyat.

Mahasiswa zaman kini dengan zaman doeloe tentu tidak akan sama iramanya. Dulu Sukarno didemo karena terkait Tritura. Bubarkan PKI, Retool Kabinet Dwikora dan Turunkan Harga. Soeharto didemo terkait KKN. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme menggurita. Bung Karno berkuasa 20 tahun lebih. Soeharto 30 tahun lebih.

Demo saat ini unik dibanding demo zaman Bung Karno dan Soeharto. Zaman Bung Karno terkait public enemy PKI, zaman Soeharto terkait public enemy korupsi yang merajalela. Kini motivasi demo diantaranya terkait wacana penundaan pemilu dan tiga periode masa jabatan Presiden karena melanggar konstitusi dan semangat reformasi.

Kita masih yakin bahwa 99 persen mahasiswa selalu membela rakyat dan kritis menyuarakan idealisme. Namun disisi lain kita pun harus waspada akan adanya pihak non mahasiswa yang memolitisir gerakan mahasiswa. Terutama para politisi dan tokoh nasional yang “membawa udang” dibalik batu.

Kita tahu percis sejumlah tokoh politik dan oknum penceramah radikal cukup inten menyuarakan nada kebencian pada pemerintah. Semoga para mahasiswa dapat mencerna dengan baik narasi-narasi yang berkembang. Keberpihakan mereka tetap pada kebenaran dan idealisme suara rakyat. Sejatinya demikian.

Beruntung sekali sosok Prabowo dan Sandiaga Uno menjadi bagian dari pemerintah. Setidaknya memberi daya dukung kondusif dan rekonsiliatif. Setidaknya bisa memperbaiki pemerintah dari dalam, bukan dari luar dengan provokasi dan beroposisi. Dua calon pasangan Presiden dalam kontestasi Pilpres 2019 ada dalam satu rumah pemerintahan.

Mahasiswa zaman Bung Karno dan Soeharto berdemo pada hal yang sudah terjadi. Kini demo mahasiswa lebih pada peringatan pada wacana. Sesuatu yang belum terjadi yakni terkait penundaan pemilu dan tiga periode masa bakti Presiden. Ini hanya wacana bukan fakta. Mendemo wacana tidaklah mengapa, baik-baik saja.

Anak didik dan mahasiswa yang terlahir di era UN tentu akan berbeda dengan anak didik yang lahir di era EBTANAS. Bahkan nanti pun akan beda lagi dengan era AN dan era Profile Pelajar Pancasila. Setiap zaman ada orangnya, ada karakter zamannya. Inilah yang disebut jiwa zaman atau zeit geist.

Selamat berjuang para mahasiswa. Ingat demo adalah kenangan manis dan heroik, bila tidak ditumpangi pihak lain yang punya tujuan lain. Sakaralitas demo mahasiswa akan menjadi lain bila ditunggangi pihak lain. Mendemo sesuatu yang akan terjadi pun tidak mengapa. Mendemo wacana pun tidak mengapa.

Menjadi mahasiswa tanpa pengalaman demo bagai sayur tanpa garam. Demo adalah pengalaman yang baik bagi uji nyali keberpihakan mahasiswa pada rakyat. Mereka lahir dari rakyat dan harus mendengar suara rakyat. Penguasa lebih takut pada mahasiswa, karena menyurakan kebenaran.