OPINI/Artikel

Hari Raya Bagi Entitas Guru

adminsigiku.com
×

Hari Raya Bagi Entitas Guru

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Dewan Pembina PGRI dan Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia)

Pesan seorang bijak mengatakan ada tiga hal penting di negeri ini. Pertama jaga agama, jaga NKRI dan jaga anak didik. Ketiganya sangat penting dan menentukan masa depan dunia akhirat kita.

Menarik terkait agama, semua agama sama harus dijaga. Menarik terkait NKRI, harga mati, ormas anti kebangsaan dan tak terlibat dalam perjuangan kemerdekaan, memang layak dilarang.

Lebih menarik lagi adalah anak didik. Ia adalah entitas paling berharga di muka bumi dan di semua bangsa mana pun. Anak didik adalah warga negara paling istimewa di semua bangsa mana pun.

Bila kita mengenal tanah suci, hari raya yang suci maka hakikatnya kita punya manusia yang suci yakni anak didik. Mereka tidak berpolitik dan belum terkontaminasi urusan duniawi. Tapi mereka adalah calon penghuni masa depan.

Hanya ditangan para guru, warga negara teristimewa ini setiap hari dilayani dalam proses belajar. Mereka ada di sekolahan sebagai rumah ibadah pendidikan terbaik. Hubungan antara guru dan anak didik adalah hubungan ibadah luar biasa dalam ritual belajar.

Kalau kita mau jujur setiap hari pertemuan antara guru dan anak didik adalah “hari raya” yang sebenarnya. Mengapa menjadi hari raya? Karena proses belajar dan mendidik adalah hari terbaik, hari raya, paling layak dirayakan.

Hari raya tahunan, tanah suci, hari suci lainnya tidak melebihi strategis dan sakralnya proses ibadah pendidikan dalam melayani anak didik belajar. Ibadah terbaik adalah belajar dan melayani anak didik.

Proses KBM atau belajar mengajar di sekolahan yang dilakukan para guru itulah hari raya yang sebenarnya. Betapa mulia dan betapa indahnya bila guru dan anak didik belajar dengan sangat efektif.

Bila anak didik menjadi berakhlak baik, berkarakter dan kelak menjadi warga negara paling bermanfaat, sungguh ruang kelas dan sekolahan telah menjadi hari raya setiap hari.

Bagi entitas guru hari raya yang sebenarnya adalah saat melayani proses pelajaran dan pembelajaran bagi anak didik. Para guru “berkurban” segalanya untuk melayani anak didik apalagi entitas guru honorer, sangat berkurban banyak.

Saat orang kaya membagikan daging kurban pada masyarakat dewasa tentu tidak lebih dahsyat dengan saat guru membagikan ilmu pada anak didik yang belum dewasa. Daging kurban urusan makanan dan mengajar mendidik urusan isi kepala dan rekayasa akhlak.

Sungguh menjadi guru adalah menjadi orang yang setiap hari berkurban, setiap hari menjadi hari raya dan benar benar beruntung, beramal banyak. Tentu bagi guru terbaik. Bukan guru pemalas loyo atau indolenan.

Berbahagialah para guru karena hampir setiap hari adalah hari raya dan hari berkurban. Surga terbaik dan kehidupan penuh keberkahan akan menjadi bagian dari para guru terbaik. Sekali lagi para guru terbaik yang bekerja dari panggilan hati.