Oleh : Ai Sumiati (Pemerhati Sosial)
Beberapa waktu terakhir, publik dikejutkan dengan berbagai tingkah anak-anak dan remaja, di antaranya kasus perundungan yang menimpa seorang anak SD di Tasikmalaya, yang berakhir dengan meninggalnya anak tersebut. Di sisi lain, mewabahnya Citayam Fashion Week, yang diawali dengan eksistensi remaja tanggung di seputaran Citayam hingga viral, yang diapresiasi oleh banyak kalangan muda, dan diberitakan oleh berbagai media massa.
Dua realitas tersebut mewarnai peringatan Hari Anak Nasional tahun ini, yang menyisakan rasa miris dan sedih jika terkait kasus perundungan yang terjadi di Tasikmalaya. Korban yang mengalami depresi hingga sakit keras dan akhirnya meninggal usai dipaksa menyetubuhi kucing oleh teman sebayanya, ditanggapi oleh seorang pengamat masalah perempuan, keluarga, dan generasi, dr. Arum Harjanti, bahwa peristiwa ini mencerminkan buruknya pengaturan banyak hal, mulai dari pendidikan dalam keluarga, pendidikan di sekolah dan juga masyarakat, serta kontrol negara atas berbagai tayangan. Peristiwa memilukan ini menunjukkan bobroknya negara dalam menjaga anak-anak, apalagi kasus bullying marak terjadi di lembaga pendidikan seperti sekolah yang notabene ada dalam pengaturan negara.( MNews Senin,25/7/2022).
Wajah remaja muda lainnya tampak dalam Citayam Fashion Week beberapa waktu lalu, yang menampilkan gaya hidup muda-mudi dengan segala bentuk kebebasan mereka dalam berekspresi, mulai dari cara berpakaian, bergaul, yang sarat dengan gaya hidup hedonis materialistis, akibat ketenaran yang instan, bahkan tidak tertarik untuk bersekolah, seperti si Roy sang bintang Citayam.
Dua realitas tersebut menggambarkan bahwa remaja kita mengalami krisis jati diri, khususnya bagi remaja muslim yang bahkan niat sholat saja tidak hapal. Di sisi lain mereka akrab dengan gaya hidup bebas yang bertentangan dengan agama mereka, salah satunya kemunculan bibit-bibit L68T di tengah mereka.
Inilah generasi muda produk sistem yang mengagungkan kebebasan, yang setiap orang berhak melakukan apa yang mereka ingin lakukan dan dipertontonkan di depan publik, tanpa rasa malu. Hal ini dilandaskan pada cara pandang sekularis yang menjauhkan agama dari kehidupan, diserahkan kepada individu masing-masing, tanpa ada yang boleh untuk campur tangan. Standar kebahagiaan hanya diarahkan untuk mencapai sebanyak -banyaknya materi, dengan menghalalkan segala macam cara.
Sekular-liberal telah merusak fitrah anak-anak yang seharusnya terjaga dalam kebaikan. Diperparah lagi dengan kelalaian manusia dewasa di sekelilingnya, mulai dari rendahnya literasi digital (di zaman gadget seperti sekarang ini), dan longgarnya kontrol orang tua dan juga guru, telah semakin menjerumuskan anak-anak kepada kenistaan perilaku.
Oleh karena itu, harus ada upaya mengembalikan anak kepada fitrahnya, yaitu dengan melandaskan kehidupan ini kepada agama yang sesuai fitrah manusia, yaitu Islam. Agama yang berasal dari Dzat Sang Pencipta, yaitu Allah SWT.
Terkait tumbuh kembang anak, Islam telah menetapkan tiga pihak yang harus berperan aktif, yaitu:
Pihak pertama adalah orang tua dan keluarga. Pemahaman anak terkait kehidupan berawal dari ajaran orang tua di keluarga yang menanamkan prinsip-prinsip akidah Islam serta hukum syariat, sehingga anak bisa membangun tujuan hidupnya yang diarahkan pada kemuliaan Islam.
Pihak kedua yaitu masyarakat. Masyarakat adalah sebuah entitas yang menjadi tempat belajar dan praktek langsung bagi generasi. Masyarakat dalam islam memiliki corak yang khas, yaitu interaksi diantara mereka adalah amar makruf nahi munkar. Tolok ukur keberhasilan dan kebahagiaan adalah keridhaan Allah SWT, Bukan materialistik seperti dalam sistem sekuler kapitalisme saat ini.
Pihak ketiga adalah negara, yang berperan dalam memastikan setiap warga negaranya terikat dengan hukum Allah. Maka negara akan melakukan pembinaan kepada warga negaranya melalui penerapan sistem pendidikan Islam. Sistem pendidikan ini akan menghasilkan generasi yang memiliki kepribadian (syakhsiyah Islam).
Mereka juga akan dibekali dengan ilmu pengetahuan dan ilmu teknis agar mampu mengarungi kehidupan sehingga menghasilkan generasi-generasi unggul. Generasi yang menjadikan halal-haram sebagai tolok ukur di dalam kehidupan, yang merupakan cerminan dari kuatnya keimanan kepada Allah SWT, Sang Pencipta.
Wallahu’alam bishshawab
Dari : Sumiati











