Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Saya menyebutnya Doktor Caca, walaupun Ia masih kandidat Doktor. Sebuah apresiasi atas ikhtiar belajar formal yang tak bisa dilakukan semua guru biasa. Butuh dompet tebal, mental tebal dan kadang tebal muka untuk meraih sebuah tantangan.
Persis apa yang Saya alami di masa lalu, saat Prof. Dr. H. Moh. Surya di IPI Garut memanggil Saya Doktor Dudung Nurullah Koswara. Saat itu Saya sebagai narsum bersama Prof. Uman dan pakar lainnya. Padahal saat itu Saya masih kandidat. Apresiasi orangtua, maha guru pada muridnya, agar terus semangat menyelesaikan sekolah.
Padahal disudut lain ada juga orang usil dan memberi nyinyiran Doktor Cand, can doktor dalam bahasa Sunda. Kadang itulah hidup, ada yang nyinyir ada yang afirmatif. Termasuk apa yang terjadi dengan sosok Doktor Caca.
Doktor Caca bukan guru biasa. Ia guru luar biasa dan istimewa. Ia pun selain luar biasa pernah pula mendapatkan nyinyiran dan stigma dari sejawat dan bisa jadi dari atasannya. Itulah dinamika. Sejawat nyinyir, anak didik mengidolakan.
Faktanya Doktor Caca lagi dan lagi, kembali menjadi Guru Favorit di sekolahnya. Ini satu pencapaian yang 1001 bisa diraih guru. Hanya guru istimewa yang bisa meraih ini. Guru yang di hatinya ada anak didik dan di hati anak didik ada gurunya.
Apa pun kata orang, kata gossip atau kata modus, bila seseorang mengaku menjadi guru terbaik, guru berprestasi tapi tidak ada di hati anak didik, bagaimana? Bila Ia tidak memesona bagi anak didiknya, bagaimana?
Bila seorang guru pernah ke Bulan, ke Bintang, keliling planet, atau kemana pun Ia pergi meraih prestasi dan jabatan, bila tak ada di hati anak bagaimana? Ia tetap sebagai guru yang tidak istimewa. Ukuran istimewa seorang guru diantaranya ada di hati anak.
Seorang kepala sekolah atau entitas kepala sekolah Sangat berutang pada guru favorit karena Ia adalah kepala sekolah kecil yang ada di ruang kelas dan ruang anak. Kepala sekolah adalah pemimpin pemelajaran dan manajer.
Kepemimpinan pemelajaran dan manajerial itu implementasinya ada di para guru. Setiap guru harus mensukseskan kepemimpinan pemelajaran kepala sekolah dan bagian dari manjerialistiknya. Guru favorit telah mengimplementasikan dengan baik pemelajaran dan manajerialistik ruang kelas dan luar ruang kelas.
Setiap guru adalah pelayan masa depan anak didik. Maka setiap guru wajib favorit, semi favorit atau dikagumi anak didiknya. Bila tidak maka suasana pembelajaran akan tak bergairah. Anak didik harus aman, nyaman dan berkembang.
Guru favorit tentu saja mampu memberikan rasa aman, nyaman dan tumbuh kembang potensi setiap anak didik. Siapa kita? Apa kata orang lain. Siapa guru terbaik? Apa kata anak didik. Iri pada guru terbaik untuk lebih baik adalah baik. Asal jangan iri destruktif













