Pewarta : Arief
Kabupaten Cianjur – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi basah mulai 1 November 2026 hingga 30 April 2027. Kebijakan ini menyusul meningkatnya potensi hujan yang diperkirakan memicu banjir, tanah longsor, hingga pergerakan tanah di sejumlah wilayah.
BPBD memetakan wilayah selatan Cianjur sebagai kawasan yang perlu mendapat perhatian khusus terhadap ancaman longsor. Sementara itu, wilayah utara dan kawasan perkotaan diwaspadai berpotensi mengalami banjir.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cianjur, Samudra Wira Purnama, mengatakan penetapan status siaga tersebut mengacu pada prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait peningkatan curah hujan.
Menurutnya, banjir dan tanah longsor menjadi ancaman utama selama musim hujan. Kondisi geografis Cianjur yang didominasi kawasan perbukitan serta memiliki sejumlah titik rawan pergerakan tanah turut meningkatkan risiko bencana.
“Yang kita khawatirkan dari status siaga ini adalah biasanya bencana yang banyak terjadi, yakni banjir dan longsor. Apalagi, karakteristik wilayah Cianjur juga memiliki potensi pergerakan tanah,” ujar Samudra, Selasa (3/11/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tanah yang mengalami kekeringan cukup panjang selama musim kemarau berpotensi meningkatkan kerawanan longsor ketika diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi. Bahkan, sejumlah lokasi dilaporkan telah menunjukkan retakan tanah akibat pergerakan tanah sebelumnya.
Wilayah Cianjur selatan menjadi salah satu perhatian utama karena banyak permukiman warga berada di lereng dan kawasan perbukitan. Selain faktor geografis, perubahan fungsi lahan perkebunan teh dan kawasan hutan menjadi lahan pertanian sayuran juga dinilai dapat memengaruhi daya serap serta kestabilan tanah.
Sementara di wilayah utara, kawasan Pacet, Cipanas, Karangtengah, dan Sukaluyu masuk dalam pemantauan BPBD karena memiliki potensi bencana hidrometeorologi.
Adapun di kawasan perkotaan, ancaman banjir dipengaruhi kondisi drainase, gorong-gorong, dan saluran air yang tersumbat sampah maupun sedimentasi.
Angin Kencang Rusak Puluhan Bangunan di Kuningan
Sementara itu, bencana angin kencang menerjang sejumlah desa di Kabupaten Kuningan, Senin (2/11/2026). Peristiwa tersebut menyebabkan puluhan rumah warga dan bangunan sekolah mengalami kerusakan, baik kategori ringan maupun berat.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Kuningan, salah satu wilayah terdampak berada di Desa Sindangsuka, Kecamatan Luragung. Selain rumah warga, angin kencang juga merusak 13 ruang kelas SMP Negeri 1 Luragung.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, mengatakan kerusakan bangunan sekolah terutama terjadi pada bagian atap. Akibatnya, air hujan masuk melalui celah plafon hingga menyebabkan kebocoran dan sejumlah plafon ambruk.
“Sebanyak 13 ruang kelas di SMPN 1 Luragung mengalami kerusakan akibat diterjang angin kencang,” kata Indra saat dikonfirmasi, Selasa (3/11/2026).
Selain Desa Sindangsuka, angin kencang juga menerjang Desa Legok, Kecamatan Cidahu. Akibat kejadian tersebut, satu rumah warga dan sebuah musala dilaporkan mengalami kerusakan.
Rentetan kejadian tersebut menjadi peringatan meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Jawa Barat seiring berlangsungnya musim hujan.













