Drs. H. Sukadi M.I.L.
(Praktisi Pendidikan, Kepala SMA Bina Dharma 1 Bandung)
Pengantar
Di negara kita, setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Maksud dan tujuannya ialah untuk memberikan penghargaan kepada para pahlawan bangsa yang telah rela berjuang dan mengorbankan jiwa serta raganya untuk kejayaan bangsa dan negara. Selain itu, peringatan Hari Pahlawan merupakan wujud rasa syukur kita akan kemurahan Allah SWT yang telah mengutus para pejuang bangsa di setiap zaman. Harapannya, dengan peringatan Hari Pahlawan ini, lahir generasi penerus bangsa yang meneladani jejak dan jiwa pejuang yang telah dicontohkan oleh para pahlawan kita di masa lalu.
Peringatan Hari Pahlawan harus menjadi momentum bagi kita semua untuk tetap mempertahankan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah jiwa kepahlawanan yang patut kita teladani dari para syuhada bangsa di masa lalu?
Nilai-nilai Kepahlawanan
Dalam situs https://www.republika.co.id/ disebutkan terdapat beberapa nilai kepahlawanan yang patut diteladani generasi masa kini dari para pejuang kita,
Pertama, nilai pengorbanan. Para pejuang bangsa dan negara kita dahulu adalah orang-orang yang berani berkorban demi tegaknya kebenaran dan keadilan. Jika dahulu pengorbanan diorientasikan untuk mencapai dan mempertahankan kemerdekaan, maka kini pengorbanan lebih diarahkan pada upaya mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.
Esensi dari pengorbanan adalah “memberi”, bukan “meminta”. Maka, siapa pun yang memiliki jiwa sebagai pemberi (dermawan) dengan ketulusan hati tanpa pamrih, maka ia berjiwa pahlawan. Inilah semangat yang harus ditumbuhkembangkan dalam dada generasi muda kita.
Kedua, meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan lainnya. Inilah ciri kedua jiwa seorang pahlawan. Bagaimana dahulu para pejuang kita berani menanggalkan kepentingan diri dan keluarganya demi kemerdekaan bangsa dan negaranya. Jiwa seperti ini perlu dilanjutkan saat ini, sehingga setiap warga negara hendaknya lebih mengutamakan kepentingan bersama (bangsa dan negara) ketimbang kepentingannya sendiri.
Dalam istilah John F. Kennedy sebagaimana sering dikutip oleh Bung Karno, “Tanyakan apa yang telah engkau berikan kepada negara, jangan tanyakan apa yang telah negara berikan padamu”. Inilah sikap pahlawan sejati.
Ketiga, nilai kesatria, yaitu bersikap jujur dan berani mengakui kesahalan. Jika bersalah ia berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya, bukan menutupi kesalahan dengan kesalahan yang lain. Sikap ini nampaknya perlu mendapatkan perhatian, karena saat ini telah menjadi barang langka dalam kehidupan kita. Banyak orang yang tidak berani lagi mengakui kesalahannya sendiri.
Keempat, nilai “uswatun hasanah” atau keteladanan yang baik. Para pejuang bangsa kita dahulu mampu meneladankan nilai-nilai kebaikan dalam hidupnya. Mereka menunjukkan integritas kepribadian yang baik dalam menjalani kehidupannya, sehingga keteladannya itu memancarkan kekuatan bagi diri dan lingkungannya.
Siapa Guru Pahlawan Itu ?
Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, guru dilabeli sebagai “Pahlawan tanpa tanda jasa”. Label ini di satu sisi terasa menyanjung hati guru, namun di sisi lain dapat pula meruntuhkan “marwah guru”. Kapan label “Pahlawan tanpa tanda jasa” dirasa sebagai sanjungan? Yaitu apabila guru mampu memerankan dirinya sebagai sosok pahlawan bagi kehidupan bangsa dan negara.
Ia menunjukkan nilai-nilai kepahlawanan dalam proses pembelajaran. Sebaliknya, jika guru tak mampu mewujudkan nilai-nilai kepahlawanan dalam kegiatan pembelajaran, gelar “Pahlawan tanpa tanda jasa” menjadi semacam “penghinaan” bagi profesi keguruan.
Pertanyaannya sekarang, siapa guru yang berhak menyandang gelar sebagai “Pahlawan tanpa tanda jasa?”
Dalam analisis penulis, dilihat dari motif internalnya, guru dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu guru terpaksa, guru pekerja, dan guru panggilan jiwa (Sukadi, 2010: Guru Malas dan Guru Rajin). Guru terpaksa adalah mereka yang menjadi guru karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan. Karena di dunia pendidikan kekurangan tenaga guru, maka ia mengisi formasi itu dengan hati terpaksa.
Guru terpaksa menunjukkan perilaku pembelajaran yang kurang optimal, mengajar malas-masalan, dan kurang gairah. Ia mengajar asal mengajar, tak peduli dengan target-target pembelajaran yang harus melahirkan otput dan outcome sebagaimana diharapkan dalam kurikulum. Guru semacam ini tidak menunjukkan jiwa kepahlawanan, sehingga ia tak layak menyandang predikat sebagai “Pahlawan tanpa tanda jasa”.
Guru pekerja adalah mereka yang menjadi guru untuk mendapatkan nafkah semata, tanpa diiringi dengan motivasi untuk mendarmabaktikan jiwa dan raganya untuk kemajuan bangsa dan negara. Guru semacam ini melakukan aktivitasnya sebagai guru karena motivasi ekonomi. Tipe guru kedua ini juga tidak bisa dikatakan sebagai “Pahlawan tanpa tanda jasa”.
Adapun tipe guru ketiga adalah “guru panggilan jiwa”. Motivasi yang mendorong guru tipe ini ialah panggilan jiwanya. Ia benar-benar menjadi guru karena ingin melakukan perubahan positif dalam dunia pendidikan untuk kejayaan bangsa dan negara. Guru dengan tipe ini melakukan pembelajaran dengan sepenuh hati.
Totalitas dirinya diabdikan untuk membangun pendidikan melalui proses pembelajaran. Guru tipe ini tidak pernah berhenti belajar sepanjang waktu. Ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk selalu meng-upgrade dirinya. Baginya, mengajar adalah panggilan jiwa, sehingga semangatnya tetap membara dalam situasi dan keadaan apa pun.
Kendatipun kesejahteraannya tidak mencukupi untuk pemenuhan kehidupan diri dan keluarganya, ia tetap menjaga marwah dirinya sebagai guru. Apalagi jika kesejahteraanya diperhatikan, maka ia merasa malu jika tidak menunjukkan pengabdian yang lebih baik dari sebelumnya.
Guru tipe ketiga ini jiwanya tidak akan tenang jika belum mampu mempersembahkan perubahan positif bagi dunia pendidikan tempatnya ia mengabdi. Oleh sebab itu, guru tipe ini akan selalu berusaha mencari inovasi-inovasi pembelajaran sehingga pembelajaran yang ia lakukan membuahkan perubahan yang berarti bagi masa depan siswa utamanya dan masa depan bangsa dan negaranya.
Guru tipe ketiga inilah yang menurut hemat penulis layak menyematkan predikat sebagai “Pahlawan tanpa tanda jasa”. Guru tipe inilah yang juga layak disebut sebagai guru yang mampu menjaga marwah guru sebagai “Pahlawan Pendidikan”. Wallaahu a’lam.











