OPINI/Artikel

Memahami, Melayani, Memuliakan

adminsigiku.com
×

Memahami, Melayani, Memuliakan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Dalam sejumlah diskusi dan paparan sering Saya katakan, “Tidak ada orang yang gagal hidup, hidup gagal bila selalu memahami, melayani dan memuliakan orang lain”. Selanjutnya, “Tidak ada orang sukses bila tidak memahami, melayani dan memulikan orang lain”.

Psikolog praktis, Dale Carnegie mengatakan, “Semua orang ingin dihargai, diapresiasi dan diperhatikan”. Masalahnya kita semua kikir memberi penghormatan pada orang lain, malah inginnya kita dihargai dan menunggu apresiasi orang lain.

Mental saling menunggu diapresiasi dan kikir apresiasi ini, menjadi asbab relasi sosialita kita kurang harmoni bahkan disharmoni. Bahkan tidak sedikit munculnya kaum gossiper, orang yang suka gossip sana sini. Entitas gossiper menebarkan narasi-narasi negatif.

Pangkostrad, Jenderal Dudung Abdurachman mengatakan, “Orang-orang sukses dan tokoh besar hampir tak pernah membicarakan hal negatif orang lain, kalau pun bicara, mereka membicarakan hal besar orang lain”. Sungguh pesan ini sangat positif. Ternyata orang sukses pikirannya positif terhadap kehidupan, bukan gossiper.

Kembali ke mental 3M, Memahami, Melayani dan Memuliakan. Betapa pentingnya mental 3M hadir dalam pikir dan tindak kita. Mengapa? Karena mental 3M akan melahirkan sirkel dan sosialita kehidupan kita jauh lebih harmoni penuh cinta. Cinta memahami keinginan orang lain.

Sebenarnya 3M ini adalah diantara esensi ajaran agama. Sebagai warga negara, warga agama dan warga sosialita, sebaiknya kita sangat memahami pentingnya 3M. Bahkan jauh lebih penting dari 3M versi wabah, menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker.

Dalam 3M versi sosialita justru dibutuhkan mental 3M kebalikan yakni jangan jaga jarak secara mental, jangan cuci tangan tapi cuci hati orang lain dan jangan memakai masker mental tapi berikan wajah ramah yang tulus dan penuh kasih. Wajah kita dihadapan orang lain jangan “bermasker” secara mental, tapi jujur apa adanya.

Para Nabi sebenarnya adalah para pelayan, tentu saja beda dengan pelayan di sejumlah giat industri atau kantoran. Para Nabi dan tokoh besar adalah pelayan publik yang sangat memahami, melayani dan memuliakan umatnya. Bila ada Nabi egois, ingin dilayani, inginnya dipuja puji, Ia tidak akan jadi Nabi.

Apa yang dilakukan para tokoh besar, pribadi besar dan sosok mulia adalah memahami, melayani dan selalu memuliakan orang lain. Ia sudah tak perlu lagi difahami, dilayani dan dimuliakan orang lain. Ia maunya memahami, melayani dan memuliakan orang lain.

Dalam bahasa lainnya tokoh pemulia itu adalah kaum altrusitik, kaum filantropis. Mereka berbuat baik, karena memang hati dan pikirnya suci bersih tanpa modus, bahkan tak memerlukan pahala secara spiritual. Sebagai orang beragama tidaklah mengapa, kita berbuat baik atas dasar Lillah, ridho Allah, Tuhan yang maha Esa.

Kita semua kebanyakan menjadi egoiser entity, tak pernah selesai dengan kebutuhan. Baik kebutuhan mental atau pun material. Kita selalu modus dan melekat kepentingan. Muncul istilah, “Kepentingan itu abadi, pertemanan itu sementara”. Ahaa, ini sungguh mainstream namun tidaklah positif.

Idealnya paradigma bau politis itu diubah menjadi “Kepentingan itu sementara, tapi pertemanan itu abadi”. Pahami, layani dan muliakan kepentingan orang lain. Kepentingan kita hanya satu memahami, melayani dan memuliakan orang lain sebagaimana Allah, Tuhan yang maha Esa perintahkan.

Sebaiknya kita belajar pada orang yang sudah selesai dengan dirinya. Walau jumlah orang ini 10.001, sangat sedikit. Mereka begitu tulus dan suci dalam berkata, bertindak dan menjalani kehidupan. Bahkan cacian, makian dan sejumlah dinamika kehidupan baginya adalah sama saja.

Setidaknya, “Marilah kita memahami, melayani, dan memuliakan orang terdekat kita, tidak harus seluruh warga dunia”. Asbab mentalitas 3M ini akan melahirkan keajaiban hidup. Bukan hanya provokasi dan doa yang disebarkan dalam WAG, dengan ayat-ayat suci, padahal itu design perusahan agar bisnisnya sukses.

Sering kita baca di WAG dengan “mukadimah” awal, viralkan!!! Narasinya menjelekan pemerintah dan jualan ayat suci, tujuannya agar habis kuota kita. Plus pembodohan kaum luguwan luguwati. Waspadalah. Kita fokus pada 3 M saja. Kita coba.