(Penulis: Dwi Arifin, Jurnalis Media Cetak & Online, Anggota Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Jawa Barat, Duta Baca 2017 di Dinas Perpusatakaan Provinsi Jawa Barat)
“Bahan bacaan di peradaban manusia pada dasarnya ada 4 jenis, mulai dari kitab suci, kitab ulama/buku, koran dan literasi digital. Semua bacaan tersebut hingga saat ini terus dimintai oleh masyarakat”
Al-Qur’an yang merupakan sebuah kitab suci utama dalam agama Islam, yang dipercayai oleh umat islam atau kaum Muslim. Bahwa kitab ini diturunkan oleh Allah, yang diturunkan kepada nabi umat Islam Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam.
Umat Islam percaya bahwa Al-Qur’an difirmankan langsung oleh Allah kepada Muhammad melalui Malaikat Jibril, berangsur-angsur selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari atau rata-rata selama 23 tahun. Umat Muslim menghormati Al-Qur’an sebagai sebuah mukjizat terbesar dari Nabi Muhammad, sebagai salah satu tanda dari kenabian. Al-Qur’an juga merupakan puncak dari seluruh pesan suci (wahyu) yang diturunkan oleh Allah sejak Adam dan diakhiri dengan Nabi Muhammad.
Menurut ahli sejarah beberapa sahabat Nabi memiliki tanggung jawab menuliskan kembali wahyu Tuhan berdasarkan apa yang telah sahabat lain hafalkan. Setelah kematian Nabi Muhammad, para sahabat segera menyusun dan menuliskan kembali hafalan wahyu mereka. Penyusunan kembali al-Qur’an ini diprakarsai oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq atas usulan dari Umar bin Khattab dengan persetujuan para sahabat senior.
Al-Qur’an yang berisi cerita mengenai kisah bersejarah, yang menekankan pentingnya moral. Selain itu hingga saat ini Al-Qur’an digunakan bersama dengan hadis untuk menentukan hukum Syari’ah dan Islam (fiqih) untuk mengatur kehidupan manusia.
Bahan bacaan selanjutnya menurut sejarah, tumbuhnya penerbitan kitab-kitab ulama Nusantara di Timur Tengah adanya pembentukan ekosistem intelektual Nusantara di Timur Tengah. Melalui hadirnya percetakan dan penerbit, kedigdayaan ulama semakin menguat ditengah masyarakat
Terbentuknya ekosistem intelektual ulama Nusantara di Timur-Tengah pada pertengahan abad 19 sampai pertengahan abad 20 tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor pendukung lain. Salah satunya adalah percetakan dan penerbit. Tanpa penerbit dan percetakan, tentu saja mustahil geliat keilmuan ulama Nusantara akan mewarnai dinamika intelektualitas di Timur Tengah bahkan Dunia. Karena harus diakui, berkat penerbit dan percetakan yang berkualifikasi, karya-karya ulama kita tersebar dan dibaca banyak kalangan.
Geliat percetakan dan sejarah penerbitan kitab-kitab ulama Nusantara di Timur Tengah bisa dipetakan ke dua teritori utama; Mekkah dan Mesir. Mengenai sejarah penerbitan kitab-kitab ulama Nusantara di Timur Tengah, Bombay dan India sebenarnya adalah lokasi sentra awal yang menjadi tempat lahirnya kitab-kitab berbahasa Melayu yang ditulis ulama Nusantara.
Geliat percetakan dan sejarah penerbitan kitab-kitab ulama Nusantara di Timur Tengah adalah contoh bagaimana sebuah ekosistem intelektual terbentuk. Penulis, penerbit, penjual dan pembaca membentuk semacam rangkaian yang seimbang dalam menciptakan satu iklim intelektualisme cita rasa Nusantara. Penulisnya banyak dan ulamanya produktif. Penerbitnya semangat dan percetakannya tangguh. Penjualnya kreatif dan massif serta berjejaring. Komunitas pembacanya juga banyak, militan dan serius. Ketika salah satunya tumbang, tentu saja unsur-unsur dalam ekosistem tersebut juga akan turut tumbang.
Setelah kitab para ulama tersebar di masyarakat. Hadirlah karya jurnalistik baru yang diberi nama Koran atau media massa pertama di dunia. Dalam literatur komunikasi massa, cikal-bakal koran merujuk pada Acta Diurna pada zaman Romawi kuno papan pengumuman berisi informasi tulis tangan. Acta Diurna ini pula yang melahirkan istilah jurnalistik, jurnalis, dan wartawan
Sedangkan saat ini hadir produk baru, bahan bacaan masyarakat berupa literasi digital atau sumber teknologi untuk memperoleh pengetahuan. Serta kecakapan dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet dan lainnya. Sabagai sarana untuk mempermudah komunikasi antar masyarakat bahkan antar negara.
“Kalau disimpulkan dengan hadirnya semakin banyak bahan bacaan, maka semakin banyak orang dengan mudah mendapatkan ilmu pengetahuan sebagai modal mengembangkan potensi diri dan membangun peradaban yang lebih baik”












