OPINI/Artikel

Pesan Dari SMPN 1 Ciawi

adminsigiku.com
×

Pesan Dari SMPN 1 Ciawi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Masa depan sebuah bangsa sangat terkait dengan apa yang terjadi pada anak didik saat ini. Bila semua anak didik saat ini proses pendidikannya terlayani dengan baik, maka masa depan bangsa akan baik.

Masa depan bangsa tidak ditentukan partai politik dan kekuatan bersenjata yang kita miliki. Sekali lagi masa depan bangsa dan Indonesia emas tahun 2045 ditentukan oleh proses pendidikan saat ini.

Apa yang terjadi di sekolahan, ruang kelas, bahkan toilet sekolahan, adalah apa yang akan terjadi di masa depan. Kekuatan akademik dan non akademik pada setiap anak didik saat ini adalah kekuatan masa depan bangsa.

Menarik video dan berita viral terkait siswa dan siswi dari SMPN 1 Ciawi, Kabupaten Bogor. Tayangan video ini memberi test respon publik. Bagi masyarakat kita. Baik pendidik atau pun publik umum.
Bagi yang punya mental menghakimi, langsung berpikiran negatif. Bagi yang punya mental apresiatif dan pedagogik, tersenyum dan memberi komentar positif. Tidak sedikit yang menghakimi, seolah ke Barat-baratan.

Anak yang berbakat, punya keunggulan non akademik dan istimewa dengan mudahnya dihakimi. Apalagi netizen yang bertujuan menebar hoaxs dan kebencian pada proses layanan pendidikan di sekolahan.

Hal apresiatif dan bijak disampaikan Nadiem Makarim. Ia mengatakan, “Bangga sekali dengan Keysha Aditia Putra Winardi dan Devina Anindita dari SMP 1 Ciawi yang bisa menari sekeren ini. Terus semangat untuk berkarya, berprestasi dan mengejar mimpi,”

Luar biasa civitas akademika SMPN 1 Ciawi. Kepala sekolah, guru dan khusus pembinanya sangatlah keren dalam membimbing bakat dan potensi Sang Anak. Setiap anak punya bakat positifnya, tugas sekolah membimbingnya.

Bangsa kita ini cenderung kagum pada anak penghapal. Anak didik yang menghapal dan punya kemampuan mengingat baik sangat dikagumi. Ini tidak salah, namun dunia nyata tidak hanya butuh generasi penghapal.

Bahkan generasi penghapal mulai tidak kontekstual asbab ada teknologi google dll. Kini dunia karakter, soft skill dan kemampuan diagnostik literaitif lebih utama.

Kemampuan memecahkan masalah dengan bijak dan cerdas lebih utama dari kemampuan menghapal. Generasi kritis, skeptis, quriositis dan selalu ingin mencoba hal baru sangat dibutuhkan kini. Kita akan menjadi bangsa yang tertinggal, kagetan, shok pada hal kebaruan dan hasil teknologi. Mengapa ? Karena kita cenderung menjadi bangsa pengikut, ikut-ikutan, gimana tradisi, walau sudah jadul.

Mungkin bangsa lain yang “berencana” menjadi kan bangsa kita sebagai pasar potensial ekonomi dan budaya, senang dan bahagia. Bahagia dan senang karena apa? Karena bangsa kita dan generasi kita belum digiring pada mental inovatif, kritis dan scientis.

Bangsa kita masih prioritas menghapal, hapalan bukan penelitian dan diagnostic scientific. Padahal sukses sebuah generasi terkait ilmu, seni dan implementasi ajaran agama yang dianut, bukan hanya hapalannya saja. Implementasi adalah utama.

Nadiem Makarim jeli menangkap masa depan Indonesia. Ia memastikan masa depan Indonesia akan lebih baik bila pendidikan punya agenda positif bagi anak didik. Proyek Profile Pelajar Pancasila adalah bagian dari ikhtiar memperbaiki masa depan.

Nadiem Makarim menghendaki masyarakat masa depan punya energi akhlak mulia, mandiri, gotong royong, toleran, kritis, globalis dan terampil dalam bidangnya. Religius, unggul dan berkarakter adalah endingnya.

Pendidikan dengan pendekatan berdiferensiasi memberi peluang pada setiap anak didik tumbuh kembang sesuai potensi dirinya. Allah, Tuhan yang maha Esa melahirkan setiap manusia dengan potensinya.

Kembali ke tema Siswa dan Siswi SMPN 1 Ciawi yang sempat viral “membelah” penilaian publik. Seolah menguji publik dan mengatakan, “Apakah kalian sudah paham entitas potensi kami ?”, Seolah mereka pun mengatakan, “Kami ingin diapresiasi bukan dihakimi, Kami siswa dan siswi berprestasi”. Mari kita budayakan apresiasi dan toleransi pada dinamika prestasi dan kenakalan anak didik.

Bukankah pepatah bijak mengatakan, “Tidak ada anak yang salah yang bisa dilasalahkan adalah orang dewasa”. Siapa orang dewasa ? Orangtua, guru dan publik dewasa pada umumnya. Bahkan bukankah orang dewasa pun tak bisa disalahkan bila Ia seorang prajurit ? Jenderal lah yang salah. Apalagi anak didik. Namanya juga anak, jangan dihakimi tapi diapresiasi dan dimotivasi.

Pesan dari SMPN 1 Ciawi adalah “Hai masyarakat, jangan intervensi berlebihan dan lebay pada anak didik, guru, kepala sekolah dan dunia sekolahan”. Hargai anak didik dan sekolahan dengan baik.

Jangan sampai kita semua pernah sekolah, pernah dididik dan mendapatkan ijazah dari sekolah tetapi begitu mudah intervensi dan menghakimi dinamika yang ada di sekolahan.

Agnes Mo dan Nadiem Makarim setidaknya membuat dua anak didik dari SMPN 1 Ciawi, kembali bersemangat. Mereka adalah dua anak berprestasi. Siapa tahu suatu saat keduanya menjadi pasangan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Bogor.

Hargai anak didik, guru, kepala sekolah. Pertahanan masa depan bangsa bukan di pasukan bersenjata dan berkuasanya orang dewasa saat ini. Kekuatan masa depan bangsa ada di SDM berkarakter. Dimana adanya, ya di sekolahan.