OPINI/Artikel

Majalaya Destinasi Wisata Sarung

adminsigiku.com
×

Majalaya Destinasi Wisata Sarung

Sebarkan artikel ini

Oleh : Sumiati (Ibu Rumah Tangga)

Majalaya merupakan daerah produsen sarung semenjak abad ke-17. Dan Kementerian Pariwisata dan  Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyebut  daerah Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, berpotensi menjadi destinasi wisata dengan kekhasan sarung. Dilansir dari Bandung (ANTARA).

Menurut Direktur Event Nasional dan Internasional Kemenparekraf Dessy Ruhati mengatakan, Majalaya akan dijadikan bagian sustainable tourism, dimana nanti akan dijadikan destinasi wisata sarung yang mungkin bisa menjadi bagian salah satu desa-desa wisata yang ada di Indonesia.

Bahkan Wakil Bupati Bandung Sahrul Gunawan mengatakan, Majalaya dulunya menjadi wilayah yang terkenal dengan istilah “Kota Dollar” karena produksi sarung. Dia pun mengaku pihak Pemerintah Kabupaten Bandung ingin mengembalikan kembali istilah tersebut.

Ketika Majalaya dijadikan sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan sebagaimana yang disampaikan Direktur Event Nasional dan Internasional Kemenparekraf adalah pengembangan konsep berwisata yang akan memberikan dampak jangka panjang. Baik terhadap lingkungan, sosial, budaya, serta ekonomi untuk masa kini dan masa depan. Bahkan dijadikan kota dollar, apakah sudah tepat? Dan apakah benar demi kepentingan masyarakat di Majalaya?

Suatu wilayah yang dijadikan destinasi wisata sebenarnya hanya demi kepentingan pihak pengusaha, bukan demi kepentingan masyarakat. Realitas yang pasti bahwa masyarakat memang tidak punya andil dalam menjalankan usaha ini. Masyarakat hanya sebagai pekerja yang keuntungannya bagi pengusaha. Karena untuk membuat sarung itu membutuhkan modal usaha, dan yang mempunyai modal usaha adalah pihak pengusaha itu. Rakyat hanya bekerja dengan diberikan upah yang itu pun  tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari karena masih banyak masyarakat yang lingkungan sekitarnya menjadi tempat wisata tetapi kehidupannya sulit.

Dalam sistem saat ini yang berasaskan manfaat. Dengan beralasan untuk mensejahterakan rakyat dengan menjadikan sebuah wilayah sebagai destinasi wisata sebenarnya hanya untuk kepentingan korporasi. Untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan apakah itu bisa mensejahterakan rakyatnya atau tidak, tanpa memikirkan halal atau haram. Karena yang ada dalam benak mereka hanyalah keuntungan.

Negara ini memang sedang menggalakan pariwisata. Karena sebagai sumber devisa negara yang cukup besar. Bahkan pariwisata dipandang mampu menjadi solusi problem yang sedang membelit suatu negara bahkan membelit dunia. Perlu diingat sesungguhnya gagasan pengarusutamaan pariwisata bukan sekedar upaya mengakhiri kemiskinan. Tetapi gagasan ini berasal dari lembaga-lembaga internasional dibawah hegemoni negara-negara kapitalis. Kita pahami bersama bahwa bagi kapitalisme manusia, alam dan kekayaan intelektual wajib didedikasikan semata untuk kesejahteraan pemilik modal.

Dalam Islam pariwisata bukanlah sumber devisa negara. Sumber pemasukan negara adalah fa’i, kharaj, ganimah dan jizyah. Harta kepemilikan umum adalah zakat dan sedekah.

Negara Islam tidak akan menjadikan pariwisata sebagai sumber perekonomian apalagi ladang bisnis. Dengan penerapan Islam, pariwisata berfungsi sebagai syiar memberi kebaikan dan kemaslahatan umat manusia, lingkungan dan alam.

Wallahu’alam bishshawab

Dari : Sumiati