Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Sungguh saat ini terutama warga netizen lebih tertarik sosok Tiktoker dibanding sosok politisi. Dalam tulisan sebelumnya Saya katakan, “Kedaulatan ditangan netizen”. Rakyat hari ini adalah rakyat netizen.
Walau faktanya rakyat netizen lebih berdaulat dan merdeka, namun memang banyak hal negatif pun berseliweran. Aturan hukum pemerintah pada warga netizen dan citizen tentu harus adil dan objektif.
Nah baru-baru ini ada Tiktoker “berseteru” dengan pejabat yang politisi. Tentu saja bila Sang Tiktoker mengkritik dengan objektif tidaklah mengapa. Daripada mengkritik harus ke Senayan, susah, birokratik dan lambat.
Sang Tiktoker atau entitas Tiktoker, kini bisa memberi kritik secara merdeka di ruang maya, ruang Tiktok yang trend dan dominan saat ini. Dunia terus berkembang dengan tuntutan zamannya.
Bisa jadi suatu saat Sang Tiktoker kritis dan viral jauh lebih didengar dari politisi senayan yang penuh dengan identikasi negatif di mata publik. Gosip gaji besar, tidak hadir di giat paripurna, tertidur di sidang paripurna, mainin HP di giat paripurna dan hal lainnya, “menggerus” citra politisi.
Sang Tiktoker viral bisa jadi jauh lebih mendapatkan trust dari publik netizen. Bisa jadi saat Ia berhadapan, bermasalah dengan sejumlah tokoh yang dikritiknya akan mendapatkan dukungan publik. Bisa jadi malah politisi yang berkuasa akan mendapatkan cacian dari publik netizen.
Tiktoker terkesan kreatif dan kritis. Politis dan pejabat bisa terkesan administratif dan hidup mewah dengan kekuasaannya. Tiktoker seolah tak punya kekuasaan dan tak hidup mewah tapi punya “kedaulatan” netizen. Kedaulatan netizen di ruang “Paripurna Maya”.
Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari dinamika keseharian kita. Terutama para pejabat dan politisi, semoga semakin amanah dalam menjalankan tugasnya sebagai aparatur negara dan “aparatur” partai politik.
Termasuk entitas Tiktoker, semoga semakin kreatif, tetap kritis dan selalu humanis. Tidak menebarkan ujaran kebencian dan informasi palsu yang provokatif. Dunia saat ini terbelah dua, nyata dan maya. Terutama dunia maya makin “berdaulat” dan menguat.
Kalau kita mau jujur dan ditanya ke publik dalam sebuah survai, apakah lebih percaya entitas Tiktoker kritis atau para politisi ? Bisa jadi jawabannya lebih mendukung dan percaya entitas Tiktoker. Ahaa, dinamika kekinian.











