Unifah Rosyidi Gagal Total

0
208

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Dewan Pembina PGRI Kota Sukabumi)

Hanya periode kepemimpinan Unifah Rosyidi, PB PGRI mengalami pembelahan dan disolidaritas. Sebelumnya tidak pernah ada Ketum PB PGRI dimosi sampai 3 kali.

Seorang guru dari Kota Sukabumi malah memberi gelar Ibu Mosi, menjelaskan bahwa Unifah Gagal Total membawa PGRI lebih baik. Faktanya terbelah dan membelah.

Unifah Rosyidi telah mendapatkan Mosi Tidak Percaya, ini sebuah legacy buruk dalam sebuah kepemimpinan di organisasi profesi guru.

Pemimpin guru, idealnya humanis edukatif menyatukan, bukan membelah dan kontroversial. Spirit Hidup Guru, Hidup PGRI, Solidaritas Yes, menjadi rusak maknanya.

Mengapa rusak? Karena PGRI menjadi terbelah asbab kepemimpinan Unifah Rosyidi. Ini sangat merugikan organisasi guru dan sejarah solidaritas PGRI.

Apa pun narasi pers rilis PB PGRI, narasi para pengagum dan pemuja Unifah Rosyidi dalam membela, tetap tidak menghilangkan fakta dan jejak digital historis hadirnya Mosi Tidak Percaya.

Terang dan jelas, faktanya Ketua PGRI NTB, Ketua PGRI Banten, Ketua PGRI Riau, Ketua PGRI Sumut, Ketua PGRI Jatim, plus sejumlah para pengurus PGRI daerah menolak kepemimpinan Unifah Rosyidi.

Pelanggaran AD ART, etika organisasi, masalah keuangan, gaya kepemimpinan, disharmoni dengan Kemdikbud Ristek, anti dialog, otoriter, adu domba dan sejumlah kelemahan Unifah Rosyidi dalam memimpin, menjadi asbab Mosi Tidak Percaya.

Puluhan tahun ke depan, kisah Ibu Mosi akan menjadi pembelajaran penting bagi sejarah PGRI. Love PGRI, Love Guru, Love Solidaritas. Selamatkan Guru, Selamatkan PGRI.