Ketua RWS Puseur Ungkap Arti Adat Sunda Yang Sopan Santun Cinta Damai Selaras Dengan Mahkota Bino Kasih

0

Pewarta : Jeky Epsa

Koran Sinar Pagi, Sumedang- Adat Sunda dikenal dengan menjunjung tinggi sopan santun. Pada umumnya masyarakat Sunda juga periang, ramah tamah, murah senyum, lemah lembut dan sangat menghargai orang tua serta karuhunnya ( leluhur nya) selain itu karakter Sunda umumnya masyarakatnya memiliki ciri khas tertentu diantaranya religius , ritual dan sangat spiritual. Ini juga tercermin dalam silih asih, silih asuh dan silih asah, silih wangian.

Sejalan diatas Ketua Umum Rukun Wargi Sumedang ( RWS) Puseur , Raden Dany Ramdani Soeria koesoemah, salah satu dari keturunan leluhur Raja Kerajaan Sumedang Larang Penerus Kerajaan Padjajaran Prabu Geusan Ulun ( Koesoemadinata II) , mengungkapkan diapun menyetujui bila masyarakat Sunda memang sangat menjujung tinggi sopan santun (etika dan adab).

” Masyarakat Sunda memang dikenal sangat menjunjung tinggi sopan santun dan itu bisa dipastikan merupakan ruh nya masyarakat Sunda, selain itu masyarakat Sunda dikenal juga dengan masyarakat yang cinta damai. Hal itu selaras dengan simbol kerajaan Padjajaran yang terakhir diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun ( Raja Sumedang Larang ) sebagai penerus nya, yaitu Mahkota Bino Kasih, atau di sebut juga Sanghyang Pake”, ujar Dany Ramdani, saat dijumpai di Rumah Kang Widy Penanjung, Selasa ( 27/6/2023).

Bino Kasih, lanjutnya, bisa diartikan juga sebagai simbol atau bentuk karakter pemimpin yang taat pada Tuhannya yang melambangkan salah satunya mencintai dan dicintai oleh Tuhan dan juga dicintai masyarakat, tentunya dengan tujuan mempersatukan dalam cinta dan kedamaian.

Dalam RWS sendiri, ucap Dany, merupakan organisasi yang berbasis turunan leluhur (Karuhun) yang berasal dari Prabu Guru Aji Putih dan Syekh Datul Kahfi, yang bertujuan mensejahterakan lahir dan
batin,

“Jadi kesopanan, ramah tamah, menghargai orang tua dan cinta damai, harus menjadi landasan bagi para wargi dan masyarakat yang ada di RWS”, ucap nya.

Namun demikian juga dikatakan Dany, keramah tamahan dan sopan santun itu jangan sampai menciderai wargi dan masyarakat Sunda sendiri, artinya dimana kita harus bersikap ramah dan sopan sesuai pada tempatnya. Jangan sampai ramah, sopan santun itu megesankan wargi dan masyarakat Sunda menjadi masyarakat yang penakut sehingga mengecilkan Sunda itu sendiri,

Panjang teu meunang dipotong, pondok teu meunang di sambung, ” saujratna wae, yang mempunyai Jati diri bangsa yang kuat dan besar”, tandas Dany.

Jua ditandaskan Dany, kita boleh sopan dan ramah tapi juga mesti menjadi wargi dan masyarakat pemberani, sepanjang berada di jalur yang benar atau memperjuangkan kebenaran, tong ngalanggar hukum jeung tong hyden agenda.

Selain itu masih dikatakannya, kita mesti menghargai jasa para leluhur bangsa lkarena tanpa ada para leluhur kita, maka takan ada kita.

“Jadi benar sekali kita mesti menghormati para orang tua kita , menghargai para leluhur (karuhun) kita dalam pengertian menjaga dan mencontoh ajaran kebaikanya, nilai perjuangannya, serta amanah lainya berupa material maupun immaterial (Waris) yang patut kita jaga dan lestarikan bersama”, pungkas nya.**
‘;’;’