Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Setidaknya ada dua anak didik dari entitas KETM (Keluarga Ekonomi Tidak Mampu) berhasil meraih gelar doktor. Adalah Dr. Nuryati Solopari dan Dr. Raeni. Sebelumnya kisah Nuryati Solopari, beberapa kali Saya tulis.
Nuryati Solopari anak KETM yang punya mimpi berkuliah. Akhirnya Ia menjadi TKI di Arab Saudi, mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Padahal kisah getir TKI di Arab Saudi tidak sedikit yang jadi korban majikannya.
Benar kata pepatah, “Hanya pemalas, pemanja dan pengumpat yang tidak ada harapan membaik”. Siapa saja yang terus berikhtiar, jauh dari malas, cepat atau lambat Ia akan mendapatkan apa yang diimpikan. Kisah Nuryati Solopari dan Raeni layak dimaknai para generasi muda kita saat ini.
Termasuk Raeni yang pernah viral saat Ia wisuda S1 diantara oleh ayahandanya naik beca. Anak tukang beca ini meraih gelas S1 dengan nilai 3,96, nilai nyaris sempurna. Ia pun mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan pendidikan S2 nya di University of Birmingharm, Inggris.
Kini Ia sudah lulus meraih gelar doktor dari University Birmingharm Inggris. Sungguh sebuah transformasi raihan pendidikan terbaik dari keluarga KETM. Keterbatasan bukan penghalang bagi anak pintar, punya mimpi, keberanian dan kecerdasan dalam menghadapi pahitnya tantangan hidup.
Raeni mengatakan, “Jangan memutuskan untuk tidak kuliah hanya karena berasal dari keluarga tidak mampu. Saat ini pemerintah sudah menyiapkan banyak fasilitas, salah satunya KIP Kuliah bagi siswa yang tidak mampu untuk bisa kuliah,”.
Sunggguh kehidupan setiap orang punya kisah getir dan manisnya sendiri. Kisah Nuryati Solopari dan Raeni sebaiknya menginspirasi sejumlah anak didik dan generasi muda bahwa keterbatasan ekonomi bukan halangan utama. Halangan utama adalah mental dan kemampuan belajar yang asal.
Nuryati dan Raeni adalah dua doktor yang punya kisah inspiratif bagi penyuka belajar dan berpendidikan. Sunggguh Allah itu akan selalu memberi harapan dan peluang bagi siapa saja yang zero malas dan zero negatif pikir. Positif menghadapi tantangan, jauhi malas dan tetap berani menghadapi tantangan.
Kelak anak KETM, anak tukang beca Raeni dan Nuryati pasti akan meraih gelar profesor, karena keduanya adalah dosen dan berprestasi. Selalu Saya katakan pada anak didik dan siapa Saja, “Hanya jenis manusia yang bukan ciptaan Allah yang tidak punya peluang sukses”.
Sukses adalah takdir setiap manusia. Setiap manusia harus mati-matian dalam ikhtiar kebaikan dan transformasi diri, agar manusia bisa hidup. Sukses itu “kopel” dengan deritanya. Malas-malas itu kopel dengan predikat Pecundang Abadi. Malu lah sama Allah yang telah “mempercayai” kita
