Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Selalu menarik narasi dan argumentasi yang disampaikan KH Buya Syakur. Tokoh dan Kiyai yang satu ini telah memberi narasi skeptis terhadap sejumlah pemahaman umat beragama yang dianut pada umumnya.
Budaya samina wa athona pada narasi dan argumentasi mainstream, terkait pemahaman agama, dikritik KH Buya Syakur. Berpikir kritis, meragukan, menelaah dan mengkaji lebih mendalam terkait pemahaman agama, bagi KH Buya Syakur adalah penting.
Datu pernyataan yang sangat menampar, terkait ritual sholat. Ritual sholat versi KH Buya Syakur harus dipahami secara esensial dan mendalam. Sholat itu membawa misi sosial, misi keadilan sosial.
Perilaku sholat itu harus tersambung dengan spirit keadilan sosial dan kontributif pada realitas sosial. Sensitifitas manusia pelaku sholat harus korelatif pada perlakuan kepedulian sosial.
Sholat itu ritual yang baik. Namun publik, sesama dan kehidupan bermasyarakat tidak butuh sholat kita. Mereka membutuhkan implementasi dari esensi sholat kita.
Tetangga kita tidak membutuhkan haji dan umrah kita. Mereka membutuhkan mabruritas kita setelah menunaikan ibadah haji dan umrah. Apakah pelaku haji dan umrah lebih peduli sosial dan berbuat adil pada sesama? Itu yang dibutuhkan tetangga.
Orang miskin, yatim piatu, realitas keterbatasan tetangga dan sesama harus menjadi priority bagi setiap pelaku sholat. KH Buya Syakur mengatakan, “Andaikan ibadah sosial lebih diutamakan dari ritual maka kehidupan akan lebih baik”.
Ibadah sosial, keadilan sosial adalah sebuah realitas yang harus diwujud buktikan oleh semua umat manusia dan semua umat beragama. Semua umat beragama punya ritual. Kesemua esensi ritual adalah perbaikan realitas sosial dan keadilan sosial.
Almarhum Imam Besar Itiqlal, Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub menulis dalam media mainstream dengan judul “Haji Pengabdi Syeitan”. KH Ali Mustafa Yaqub menyindir pelaku ibadah haji yang niatnya tak baik. Gemar haji berulang-ulang.
Haji dan umrah berulang-ulang tapi abai nasib sesama. Kepedulian sosial yang buruk pada tetangga, sesama, tapi hajinya berulang-ulang. Bagi KH Ali Mustafa Yaquf orang yang hajinya berulang-ulang, abai pada sesama, dilabeli Haji Pengabdi Syetan.
Menurut Ali Mustafa tak ada satu pun ayat yang menyuruh umat Islam melaksanakan haji berkali-kali, sementara masih banyak kewajiban agama yang harus dilakukan. Seperti menyantuni anak yatim dan memberi makan fakir miskin.
Bisa jadi kita yang sangat disiplin sholat, tak pernah tertinggal dan selalu tepat waktu. Namun, iri dengki, suudhon dan gibah melekat dalam diri. Jadi kita sholatnya dapat apa? Kita sholat “menyembah” apa? Hasilnya apa?
Orang yang sholat sejatinya lebih memperlihatkan pribadi humanis, peduli sosial dan keadilan sosial. Bukan menuntut “keadilan diri”, bagaimana orang lain baik pada kita, bukan bagaimana kita berbuat baik dan adil pada orang lain.
PM Malayasia, Anwar Ibrahim mengatakan, “Justice dan kemanusiaan adalah hal utama”. Mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan mengatakan, “Ibadah terbaik adalah ibadah sosial”.
Melayani dan memuliakan orang lain adalah bentuk ibadah yang jauh lebih mulia dibanding ibadah melayani memuliakan diri pribadi. Tidaklah heran Nabi Muhammad saat wafat berkata, “ummati, ummati, ummati”. Orang lain, umat dan realitas sosial adalah utama.
Meletakan orang lain, anak, orangtua, saudara, tetangga, sesama dan semua manusia sebagai subjek ibadah adalah baik. Selain diri kita, siapa pun adalah “orang lain” dan orang lain adalah ladang ibadah terbaik.
Pepatah bijak mengatakan, “Siapa yang memperlakukan kebaikan kepada sesama manusia sama artinya dengan memperlakukan kebaikan pada pencipta_Nya”. Tidak ada satu pun manusia yang baik menurut Allah dengan mengabikan sesama manusia.
Mari kita tunaikan sholat dan tunaikan kepedulian sosial. Allah tak butuh sholat kita, karena Allah bukan makhluk yang butuh apa pun. Manusia lah yang butuh banyak hal, terutama pasca sholat ditunaikan. Sholatlah di luar sholat.
Sholat ritual dan sholat implementasi (sholat di luar sholat) sejatinya kopel, tidak terpisah dan berkelindan dengan kepedulian sosial dan keadilan sosial yang berujung pada kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.
Tidaklah heran semua ajaran agama mengajarkan pentingnya jamaah, kejamaahan, agar spirit beragama mampu menjamah realitas sosial. Tidak ada kebaikan bila sendirian. Kebaikan itu bagaimana kita kepada orang lain.
Apakah kita penyembah Syeitan? Penyembah dunia? Penyembah nafsu dan egoisme diri? Ataukah kita penyembah Tuhan dengan berbuat baik pada sesama manusia? Beriman dan berbuat baik pada sesama adalah esensi semua agama.
Bisa jadi ungkapan, “1000 kali ritual pribadi, kalah sama 1 kali berbuat baik pada sesama”. Esensi ritual adalah reflektif, menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar, mendekatkan diri pada perbuatan terbaik.
Ungkapan, “Sholatlah sebelum di sholatkan” sangatlah baik. Ungkapan, “Kita disholatkan orang lain saat wafat”, ungkapan ini pun sangat baik, karena orang lainlah yang memandikkan, men-sholatkan, menguburkan dan berkisah tentang kita saat kita sudah tiada.
Sholat yang tidak tersambung dengan kepedulian sosial dan keadilan sosial, harus dievaluasi. Sholat, haji dan segala giat ibadah hanya ingin terlihat baik, sesungguhnya kita menyembah apa? Bila tidak baik pada sesama.
Rezeki tertinggi itu saat kita berbagi bukan hanya saat kita menerima. Sholat itu rezeki reflektif, namun pasca sholat adalah rezeki beraksi. Implementasi dari apa yang didapat dari spirit sholat. Orang lain butuh implentasi dan aksi.










