Pewarta : Anis
Jakarta – Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti menilai para guru memiliki pengaruh twrhadap para peserta didik dalam menentukan pilihan pada Pemilu 2024.
Untuk itu, ia meminta para guru untuk menjaga netralitas politik di ruang kelas, termasuk di media sosial karena akan menggiring peserta didiknya memilih paslon tertentu yang sama dengan pilihan gurunya.
“Ini adalah Tahun Politik dan proses pemungutan suara pun semakin dekat, maka dari itu, masyarakat dituntut berperan secara aktif mengawal proses Pemilu agar berlangsung jujur, terbuka dan berintegritas termasuk para Pendidik/Guru serta Organisasi Profesi Guru, apalagi pemilih pemula cukup tinggi angkanya,” ucap Retno. Jum’at (02/02/2024).
FSGI juga mendorong Dinas Pendidikan di berbagai daerah untuk mengingatkan jajarannya dan para pendidik untuk menjaga netralitas dalam Pemilu. Menurutnya, para pejabat Dinas Pendidikan juga harus mencontohkan keteladanan atas netralitas ini.
Bagi FSGI, lanjutnya, kekhawatiran ini sangat beralasan mengingat sudah ada peristiwa dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Kabid SMP Dinas Pendidikan kota Medan yang memberikan arahan kepada sejumlah orang dalam ruangan tertutup yang terekam dalam video yang viral.
“Video itu berisi pengarahan Kepala Bidang (Kabid) SMP Dinas Pendidikan Kota Medan, Andy Yudhistira yang diduga mengajak para guru dan kepala sekolah untuk memilih paslon nomor urut 2 pada Pemilu 2024,” ungkapnya.
“Atas kejadian tersebut, FSGI mendorong Bawaslu Kota Medan bertindak tegas dan tidak pandang bulu, ada juga pernyataan Kabid tersebut yang terkesan mengintimidasi para guru yang dilakukan secara terang-terangan,” pungkas Retno.
Tindakan yang dilakukan Kabid SMP Dinas Pendidikan Kota Medan itu, menurut Retno, diduga kuat melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara serta Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu yang bisa dijerat hukuman penjara 1 tahun atau denda paling banyak Rp12 juta.













