Generasi Minim Literasi

0
226

Oleh: Ria R. Chantika (Aktivis Muslimah)

Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusip) Kabupaten Bandung melaksanakan Sosialisasi dan Pembekalan Peserta Duta Baca Remaja 2024 di Hotel Citere, Pangalengan, Selasa (5/3/2024).

Dalam sambutannya, Bupati Bandung Dr. H Dadang Supriatna, S.IP, M.Si., melalui Kepala Dispusip Kabupaten Bandung H. Teguh Purwayadi., S.STP, M.Si., mengatakan bahwa duta baca bukan hanya harus dapat memahami literasi, tetapi juga harus mampu mengetahui sejarah dan seluk beluk kondisi sosial masyarakat Kabupaten Bandung.

“Duta baca harus bisa menjadi ujung tombak dalam meresonansi kegiatan literasi dalam masyarakat,” kata Teguh dalam keterangannya.

Kadis Pusip juga mengungkapkan duta baca harus paham dan menguasai digitalisasi dalam menunjang penyebaran literasi untuk kesejahteraan.

Dalam berbagai kegiatan, Teguh menuturkan bahwa Bupati Bandung terus mendorong terwujudnya generasi emas 2045.

Salah satunya, dengan menumbuhkan budaya literasi yang berbasis digitalisasi sesuai dengan situasi saat ini sedang terjadi pada anak-anak dan khususnya pada remaja.

“Dengan hadirnya Duta Baca Remaja Kabupaten Bandung tahun 2024 dapat menjadi salah satu jembatan untuk menuju tahun ke-emasan 2045,” harapnya.

Tuntutan kriteria memahami digitalisasi dan literasi (sejarah) kepada duta baca tersebut tentu diarahkan pada konteks wawasan dan pengetahuan yang sejalan dengan ideologi kapitalisme sekuler (Barat). Kebahayaan bagi umat Islam, adanya upaya meminimalkan bahkan menghilangkan jejak digital dan sumber literasi (sejarah) yang sahih.

Untuk mendorong terwujudnya generasi emas remaja, tentunya pemahaman akan digitalisasi dan literasi tidak hanya diperuntukan untuk duta baca remaja saja. Akan tetapi setiap remaja muslim harus memiliki literasi (sejarah) Islam yang sahih. Hal ini dikarenakan remaja adalah sebagai penentu peradaban mendatang.

Dalam Ideologi Islam untuk mewujudkan generasi emas, yakni memahamkan akan literasi (sejarah) Islam yang shahih melalui sistem pendidikan Islam. Pendidikan dalam Ideologi Islam bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam pada generasi. Kepribadian Islam ini dibentuk oleh pemikiran dan pola sikap Islam.

Islam mempunyai cara yang khas. Dengan materi sejarah di design sedemikian rupa sehingga tujuan pendidikan bisa diwujudkan. Dan metode pengajarannya sejarah pun harus benar-benar bisa mewujudkan tujuan pendidikan tersebut. Didalamnya tercakup tiga metode dalam proses pengajaran sejarah yakni, proses pembentukannya harus sampai pada tingkat yang meyakinkan, dikaji dengan mendalam, dan dipelajari untuk diaktualisasikan.

Begitu pula, materi-materi sejarah yang sudah tersistemasikan diajarkan di seluruh jenjang pendidikan. Sejak fase pertama sebelum sekolah menengah atas. Karena hal ini merupakan tsaqafah yang lahir dari akidah dan pandangan hidup Islam. Maka ketika diajarkan sejak dini, pengetahuan ini bisa menjadi pondasi bagi generasi Islam.

Juga di tingkat menengah atas dan perguruan tinggi, literasi (sejarah) bisa diajarkan secara mendalam dan rinci sebagai bagian dari pengetahuan tsaqafah. Baik yang terkait dengan sumber dan jalur informasinya. Maupun isi dan muatannya. Termasuk literasi (sejarah) umat/negara lain, sebagai bagian dari informasi politik juga bisa diberikan. Sehingga Generasi muslim bisa mengetahui karakter mereka dan menyikapi mereka.

Dan tentu saja, dalam sistem pendidikan Islam juga membangun pusat riset dan perpustakaan terlengkap. Salah satu contohnya adalah perpustakaan Cordoba di Eropa, pada masa kekhalifahan dinasti ummayah. Banyak peninggalan perpustakaan besar pada masa kejayaan Islam adalah bukti sistem pendidikan Islam sangat terfokus pada keilmuwan.

Begitulah sistem pendidikan Islam dalam mewujudkan generasi emas melalui digitalisasi dan literasi (sejarah). Tidak hanya terfokus pada kecerdasan berfikir (aqliyah) tetapi juga dengan pembinaan kepribadian Islam sehingga menghasilkan generasi cemerlang.

Bukti keberhasilan sistem pendidikan Islam adalah dapat mencetak generasi unggul, contohnya seperti ilmuwan Lubna Al-Qurthubiyyah yang terkenal sebagai pustakawan muslimah, yang dikenal dengan keindahan tulisan khatnya, keahlian gramatikal bahasa dan syair, kepakarannya dalam matematika, keunggulannya sebagai penerjemah dan penguasaannya dalam berbagai ilmu pengetahuan.

Mariam Al-Asturlabi sang ilmuwan yang berhasil merancang Astrolab, untuk menentukan posisi matahari, planet-planet dan navigasi atau yang kita kenal GPS (Global Positioning System). Inovasi mariam Al-Asturlabi juga menjadi pondasi pengelolaan transportasi dan jalur komunikasi.

Saatnya kita kembali pada sistem peradaban warisan Rasulullah SAW yang di dalamnya terdapat sistem pendidikan Islami berdasarkan kurikulum yang berhasil mewujudkan generasi emas. Tidak hanya cukup penobatan duta baca pada salah satu remaja atau selalu mengganti kurikulum pendidikan saja, karna pada faktanya generasi saat ini jauh dari kata generasi yang cemerlang, yakni dengan maraknya kekerasan dikalangan remaja, bullying, pergaulan bebas, mental illness serta problematika lainnya.

Wallahu a’lam bis shawwab.