Pewarta : Steven Gervan
Koran Sinar Pagi, Sumedang – Setelah sekian lama tidak digelar di Alun-alun Sumedang, acara Kirab Alit dan Jamasan Pusaka kembali diselenggarakan oleh Karaton Sumedang Larang pada Kamis (05/09/2024). Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Kabupaten Sumedang memadati lokasi untuk menyaksikan perhelatan budaya yang penuh makna ini.
Kirab Alit kali ini membawa Mahkota Binokasih, simbol kebesaran Sumedang, beserta tujuh pusaka leluhur lainnya, di antaranya Pedang Kimastak, Keris Ki Dukun, Keris Panunggul Naga, Badik Curug Aul 1, Badik Curug Aul 2, serta dua Keris Nagasastra milik Pangeran Panembahan. Setiap pusaka tersebut diarak dengan penuh penghormatan, menandai pentingnya warisan budaya yang dilestarikan oleh Karaton Sumedang Larang.
Dalam sambutannya, Mahapatih Karaton Sumedang Larang, Rd Lily Djamhur Soemawilaga, selaku Ketua Pelaksana acara menyatakan, “Acara Kirab Alit dan Jamasan Pusaka yang biasa dilaksanakan di Bale Agung Srimanganti, kali ini kita laksanakan di Alun-alun Sumedang, dan kegiatan merupakan agenda rutin Karaton Sumedang Larang yang telah turun temurun selalu dilaksanakan.”
Setelah prosesi kirab selesai, acara dilanjutkan dengan Jamasan Pusaka, yaitu pembersihan pusaka-pusaka yang telah diarak, sebagai bentuk penghormatan dan perawatan terhadap peninggalan leluhur.
“Karaton Sumedang Larang berusaha menjaga warisan budaya leluhur-leluhur Sumedang terdahulu,” ucap Rd Lily Djamhur Soemawilaga.
Tak hanya prosesi budaya, dalam rangka menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW 1446 H, Karaton Sumedang Larang juga mempersembahkan Gugunungan, sebuah persembahan hasil bumi yang dibagikan kepada masyarakat yang hadir.
“Hasil bumi ini dipersembahkan untuk masyarakat Sumedang sebagai bentuk rasa syukur,” tambahnya.
Acara yang berlangsung meriah ini menunjukkan antusiasme tinggi masyarakat dalam melestarikan dan menghargai warisan budaya yang telah turun-temurun dijaga oleh Karaton Sumedang Larang.
