Oleh : Yuni Irawati ( Ibu Rumah Tangga)
Dua pasang bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Bandung, Dadang Supriatna-Ali Syakieb dan Sahrul Gunawan- Gun Gun Gunawan, resmi mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bandung, Kamis (29/8/2024). Kedua pasangan ini mendaftar di hari terakhir pendaftaran Pilkada Kabupaten Bandung 2024 pada Kamis malam.
Baik Dadang dan Sahrul merupakan calon petahana. Keduanya saat ini menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati hasil Pilkada Kabupaten Bandung 2020. Dadang-Ali menamakan koalisinya Bandung Bedas Jilid 2 atau jargon yang sama seperti pilkada sebelumnya.
Ini bukan kali pertama Dadang menggandeng artis sebagai wakilnya. Pada Pilkada Kabupaten Bandung 2020, nama Sahrul Gunawan dipilih untuk maju menjadi Bupati dan Wakil Bupati periode 2020-2025. Saat itu, Sahrul diusung dari partai Nasdem. Pada Pilkada 2020, pasangan Dadang-Sahrul diusung PKB, Nasdem, Demokrat, dan PKS
Adapun Sahrul-Gun Gun yang juga calon petahana, pada pilkada kali ini diusung Garuda Golkar, PKS dari partai parlemen, serta Hanura, PPP, Partai Ummat, dan Partai Garuda dari partai non parlemen.
Menurutnya, fenomena artis terjun ke politik lantaran adanya segmen pemilih yang melihat popularitas.
Sampai saat ini, pola segemen popularitas masih dimainkan untuk meraih ceruk suara yang signifikan. Terlebih kubu Dadang Supriatna.
Saat ini popularitas merupakan tambahan yang merupakan modal komunikasi politik para selebriti. Apalagi mereka yang sering tampil di acara televisi diberbagai acara dan banyak membintangi sinetron
tertentu, bahkan mereka pun memiliki banyak fans atau penggemar berat. Jadi hal ini bisa memudahkan mereka untuk bisa lebih lagi dikenal oleh masyarakat luas. Apalagi bagi masyarakat bawah, awam serta yang tidak memiliki wawasan tentang dunia politik, yang apatis
terhadap politik juga dan tidak mengetahui atau tidak mengenal karakter para calon-calon yang mereka pilih.
Namun alangkah baiknya, para
selebriti jangan hanya mengunggulkan kecantikan, atau ketampanan dan juga kepopuleranya saja tetapi juga harus mempunyai skill kapasitas untuk menjadi seorang politikus, dilatar belakangi
pendidikan yang sangat memadai, selain itu juga harus bisa membuktikan kinerja
mereka untuk masyarakat. Juga mereka senantiasa mampu untuk sekuat tenaga mengemban amanah dan tanggung jawab, mampu memperjuangkan hak dan nasib para rakyat, mensejahterakan juga seluruh rakyat, juga pengetahuan berpolitknya yang unggul di bidangnya dan berpolitik dengan cara yang benar.
Jangan sampai di dalam paraktiknya politik itu banyak diwarnai oleh perilaku jahat, kotor, bohong, dan korup, timbullah kesan umum bahwa politik (pada situasi tertentu) ini merupakan politik yang kotor dan harus dihindari.
Masyarakat perlu bijak memahami sekaligus memahamkan sistem kapitalisme yang sedang di anut sekarang. Bahwa serangan fajar tidak bisa membeli hak suara untuk seseorang, tak sebanding dengan dampak kehancuran di masa mendatang akibat hak suara yang telah kita berikan. Karena itu, masyarakat harus hati-hati dan diharapkan bisa menyadarkan lingkungan sekitar agar berbenah dan bisa lebih rasional dalam memilih calon pemimpin kita, untuk kedepannya.
Pandangan Islam Mengenai Politik
Islam adalah agama universal, meliputi semua unsur kehidupan,8 dan politik, Negara dan tanah airi adalah bagian dari islam. tidak ada yang namanya pemisahan antara agama dan politik. karena politik bagian dari risalah Islam yang sempuran.[4] Seperti ungkapan bahwa tidak ada kebaikan pada agama yang tidak ada politiknya dan tidak ada kebaikan dalam politik yang tidak ada agamanya.
Di dalam Islam pun, politik mendapat kedudukan dan tempat yang hukumnya bisa menjadi wajib. Para ulama kita terdahulu telah memaparkan nilai dan keutamaan politik. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa Dunia merupakan ladang akhirat. Agama tidak akan menjadi sempurna kecuali dengan dunia. memperjuangkan nilai kebaikan agama itu takkan efektif kalau tak punya kekuasaan politik. Memperjuangkan agama adalah saudara kembar dari memperjuangkan kekuasaan politik (al-din wa al-sulthan tawamaan).
karena itu kita harus berkontribusi untuk negeri ini dengan memilih pemimpin dengan bijaksana. Memilih pemimpin yang bisa mengatur urusan negara dengan baik, memakmurkan dan mensejahterakan rakyat, pemimpin yang jujur, tegas dalam bersikap dan mempunyai kewibaan serta pemimpin yang bisa menampung aspirasi umat islam dan didukung oleh mayoritas umat islam. Negara Indonesia adalah salah satu negara terbesar berpenduduk muslim di dunia, 85 % penduduk di negeri kita adalah beragama islam dan sebagai muslim. Oleh sebab itu layaknya kita mengharapkan pemimpin yang memperjuangkan aspirasi umat islam dan melenyapkan segala kerusakan dan kezaliman yang bisa merugikan rakyat, negeri dan agama. Utsman bin Affan Ra pernah berkata, Kezaliman yang tidak dapat dilenyapkan Alquran akan Allah Swt lenyapkan melalui tangan penguasa. Itulah aura pemimpin yang diharapkan.











