OPINI/Artikel

Penerapan Sistem Yang Salah, Menciptakan Generasi Yang Lemah

adminsigiku.com
×

Penerapan Sistem Yang Salah, Menciptakan Generasi Yang Lemah

Sebarkan artikel ini

Oleh : Nia Karmila

Fakta mengejutkan baru-baru ini mengungkap bahwa Gen Z atau Generasi Z tengah menghadapi krisis paruh baya (midlife crisis) lebih awal dari seharusnya. Studi mengungkapkan bahwa sebanyak 38% dari mereka mengalami krisis paruh baya akibat tekanan finansial yang luar biasa. Generasi ini merasa terjebak dalam kecemasan, kelelahan, dan ketidakpuasan hidup.

Faktanya, hanya satu dari tiga pekerja Gen Z yang melaporkan merasa sehat secara holistic. Kesenjangan kesehatan holistik antara Gen Z dan Baby Boomer yang dikenal sebagai generasi pekerja paling sehat, kini mencapai level tertinggi.
Dilaporkan bahwa 60% perempuan dan 45% laki-laki Gen Z khawatir bahwa tingginya biaya hidup akan menjadi penghalang untuk keamanan finansial di masa depan. “Populasi di tempat kerja kini lebih beragam dibandingkan sebelumnya, dengan hadirnya berbagai generasi dalam angkatan kerja, yang tentunya memiliki kebutuhan yang berbeda-beda,” ujar Katz.
Bagi Gen Z, ini berarti perlunya dukungan untuk mengatasi utang pendidikan, biaya pengasuhan anak, asuransi hewan peliharaan, serta manfaat yang membantu mereka dalam transportasi atau menabung. Beberapa Gen Z bahkan dilaporkan menolak tawaran pekerjaan ketika budaya perusahaan dan fasilitas tempat kerja tidak sesuai dengan keinginan atau kebutuhan mereka.
(lifestyle.okezone.com)

Berbagai persoalan yang dihadapi Gen Z hari ini sejatinya adalah hasil dari penerapan sistem kapitalisme yang rusak. Krisis paruh baya yang banyak menimpa kalangan Gen Z semata karena kehidupan ini telah dirusak oleh sistem kapitalisme. Ini tecermin pada penerapan sistem sosial yang liberal, sistem ekonomi kapitalistik, , hingga sistem pendidikan yang sekuler dan mahal.

Sistem sosial yang liberal dan materialistik juga turut menjadikan Gen Z hidup tanpa arah. Mereka merasa cemas dan khawatir bahwa jika mereka tidak mengikuti tren terbaru, acara, atau perkembangan terbaru, mereka akan terlewatkan atau bahkan dianggap tidak relevan oleh teman-teman mereka. Materi pun menjadi tolak ukur kebahagiaan tertinggi mereka. Kerja keras mereka hanya demi melunasi cicilan barang untuk melengkapi gaya hidup yang Hedonis.

Sistem pendidikan yang sekuler menjadikan Gen Z tumbuh tanpa bimbingan agama. Sayang, pendidikan berkualitas nyatanya mahal dan tidak merata. Potensi Gen Z yang begitu besar jadi tertutup debu tebal. Ini menjadikan Gen Z tumbuh tanpa pendidikan yang layak. Kemampuan mereka pun ala kadarnya, Inilah yang menyebabkan Gen Z rapuh, lemah, mudah menyerah dan pada akhirnya berdampak pada kesehatan mental mereka.

Sistem ekonomi kapitalisme menjadikan Gen Z harus kerja keras dengan upah yang sangat minim. Mereka kesulitan untuk mengembangkan bisnis, karena nyatanya di dunia usaha saat ini hanya pro kepada pengusaha – pengusaha dengan modal besar. Negara yang seharusnya menjamin kebutuhan rakyatnya, malah abai yang mengakibatkan semua masyarakat termasuk Gen Z merasa frustrasi, dikarenakan meraka jauh dari kata sejahtera.

Bebeda halnya dengan Islam, Sistem Islam akan terlaksana jika kepemimpinan Islam berfungsi dengan sempurna, yakni negara menjalankan kewajibannya sebagai ra’in (pengurus dan pelayan rakyat) dengan amanah. Semua faktor penyebab munculnya (midlife crisis) akan ditutup rapat dengan aturan Islam dalam berbagai aspek. Untuk membentuk generasi cerdas dan bertakwa, negara dengan kepemimpinan Islam akan menjalankan perannya sebagai berikut.

Menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam dan menjadikannya kurikulum inti di sekolah-sekolah. Tujuan kurikulum berbasis akidah Islam adalah membentuk generasi yang memiliki pola yang sesuai dengan Islam, sehingga meraka memahami akidah Islam dengan benar, mereka akan memahami tujuan penciptaan semata hanyalah untuk beribadah kepada Allah Taala. Seluruh amal perbuatan mereka bersandar pada perintah dan larangan Allah. Mereka akan berlomba menjadi sebaik-baik manusia, yakni yang paling bermanfaat untuk sesamanya. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Ahmad, Ath-Thabrani, Ad-Daruquthni).

Negara menjadikan pendidikan sebagai layanan gratis yang dapat dinikmati seluruh anak di pelosok negeri.
Menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat melalui kemudahan akses dan pelayanan. Kemudahan dalam bekerja, harga pangan murah, harga tanah/rumah murah, dan layanan pendidikan dan kesehatan gratis. Dengan jaminan ini, Gen z maupun masyarakat pada umumnya tidak akan tertekan atau terbebani dalam memenuhi kebutuhannya.

Karena itu, dengan menerapkan aturan Allah secara kaffah (menyeluruh), harus dibangun dengan kesadaran akan pentingnya kewajiban mengembalikan kehidupan Islam. Sebabnya, aturan Islam yang diterapkan secara kaffah akan membawa keberkahan dan kemuliaan bagi peradaban umat manusia. Dengan kehidupan Islam, gen Z akan mampu mengembangkan potensinya untuk membangun peradaban.

Wallahu a’alam bishshawab.