OPINI/Artikel

Menghina Guru, Menghina Tuhan

adminsigiku.com
×

Menghina Guru, Menghina Tuhan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Mengapa saya menulis di sejumlah buku secara akumulatif lebih dari ketebalan 1 meter, menuju 50 buku. Mengapa saya menjadi pengurus organisasi profesi guru? Apakah karena saya lahir dari keluarga guru?

Jawabannya karena saya menemukan sejumlah soalan menarik di dunia guru. Diantaranya adalah : pertama politisasi guru oleh oknum birokrat dan kepala daerah. Ini terjadi di mana mana, terutama pra alih kelola.

Kedua, politisasi organisasi profesi guru (misal PGRI), semua ketua dan pengurus PGRI bukan dari guru aktif. Pensiunan, dosen, pejabat, politisi dan profesi non guru aktif lainnya. Ini menyalahi UURI No 14 tahun 2005 dan Permendikbud Ristek No 67 tahun 2024.

Ketiga, terkait kesejahteraan guru. Selain ada disparitas kesejahteraan guru antar daerah, ada pula kebijakan kebijakan yang kurang atau tidak berpihak pada kesejahteraan guru. Guru seolah dianggap “tak perlu disejahterakan”, asal hidup saja.

Keempat terkait kompetensi guru. Banyak sekali tulisan saya yang menyentil kualitas dan loyalitas guru yang mayoritas masih jauh dari harapan. Bahkan guru hebat di sekolahan jumlahnya minor, dominan guru kurang kompeten dan jauh dari istimewa. Lihat pula hasil UKG guru, walau alat ukurnya masih debatable, tapi menggambarkan sisi wajah guru.

Kelima, ini diantara yang paling kuat membuat saya terus menulis dan menjadi pengurus organisasi profesi guru. Tiada lain adalah *penghinaan pada profesi guru* terjadi dimana mana.

Penghinaan itu mulai dari oknum preman perseorangan, LSM, Ormas, wartawan, pejabat, para penegak hukum. Sangat menarik dicermati dan terus menjadi bahan pemikiran sampai saat ini.

Dalam ajaran semua agama menghina guru, merendahkan martabat guru apalagi sampai mempublikasinya di ruang publik, sangatlah berdosa. Dosa besar bagi siapa saja yang menghina sesama, sejawat, apalagi guru.

Beberapa kisah menjelaskan orang orang yang menghina guru, ujung hidupnya mendapatkan petaka. Mengapa? Bukan karena Ia guru semata, melainkan siapa pun yang menghina sesama, pasti ada hukum semesta yang didapat.

KH Syaiful Karim mengatakan, “Bila kita ingin melihat Allah tersenyum, buatlah orang lain tersenyum”. Bisa jadi bila ada orang memarah marahi, menghina sesama, apalagi menghina guru, maka Allah akan menghinakan pelakunya.

Dalam teori LOSA, Law of Spiritual Attraction dijelaskan bahwa hidup itu terkait apa yang kita lakukan. Ada “gravitasi” semesta yang akan menimpa kita sesuai apa yang kita lakukan. Siapa yang menghina akan hina.

Apalagi menghina guru, menyerang “Rumah Ibadah Pendidikan”, plus mempublikasi dalam media sosial. Entah apa yang akan terjadi pada siapa pun pelakunya. Siapa pun yang membuka aib sesama, menyerang dan menghinakan. Apalagi pada entitas guru.