Hari Perempuan Internasional 2025, Ulama Perempuan di Jateng Selatan Ajak Kaumnya Menjadi Pejuang Hayatan Thayyibah

0

Pewarta: Dwi Arifin

(Koran SINAR PAGI)-, World Women’s Day yang berlangsung setiap 8 Maret merupakan hari yang diperingati sebagai upaya agar perempuan diakui atas prestasi mereka. Tanpa memandang perbedaan gender, agama, kebangsaan, etnis, bahasa, budaya, ekonomi, maupun politik. Sejak ditetepkan Hari Perempuan Internasional telah membuka dimensi global yang baru bagi perempuan di negara maju dan berkembang.

Sebagai ulama dari kalangan perempuan yang dikenal sebagai pejuang kesetaraan gender dan aktif di Divisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Banyumas. Apa yang ingin diungkapkan Dr. Ny. Hj. Umnia Labibah S.Th.i, M.Si pada momen Hari Perempuan Internasional 2025?…

Kepada seluruh perempuan di manapun berada, hal yang patut diingat adalah bahwa kita perempuan adalah manusia yang diciptakan secara terhormat dan memiliki martabat kemanusiaan yang sama dengan laki-laki. Maka mengupayakan sekecil apapun gerakan perempuan untuk memberdayakan perempuan agar keluar dari situasi yang tidak berkeadilan adalah perjuangan kemanusiaan yang sangat berharga. Dan islam adalah agama yang memuliakan manusia sebagaimana dalam QS al Isra:70

“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”

Sebagai ulama yang aktif menjadi Ketua IV Bidang Hukum, Politik dan Advokasi, di organisasi islam Fatayat Nahdlatul Ulama Banyumas, sering menjalankan aktifitas pemberdayaan kaum perempuan di Jateng Wilayah Selatan. Seperti apa kondisi kaum perempuan perkotaan dan perdesaan di masyarakat?…

Perempuan hari ini masih mempunyai banyak tantangan dan persoalan. Di antaranya masih terdapat Kasus kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, hingga persoalan rendahnya kemandirian perempuan. Masih banyak juga perempuan yang rendah pendidikanya, minim literasinya atau mudah sekali mengalami kekerasan dan eksploitasi. Serta tidak memiliki daya untuk memperjuangkan hak-haknya. Inilah yang hari ini harus terus diupayakan, bagaimana perempuan lebih mandiri dan terdidik, sehingga lebih berdaya.

Saat ini sebagian perempuan mulai terlihat di publik, ketika memilih berkarir di bidang pemerintahan, pendidikan, bisnis dan politik. Dalam prosesnya mereka ada yang dalam tahapan awal karirnya, ketika lulus kuliah atau bahkan sekolah. Mulai berupaya meraih apa yang dicita-citakannya. Lalu ketika menemukan jalan karirnya, mereka berupaya mengembangkan hingga mencapai puncak karinya. Serta pada akhir karirnya atau masa purna bakti, mereka cenderung memiliki waktu yang lebih santai dalam menikmati masa tuanya. Dari berbagai proses yang dilalui apa yang harus menjadi pedoman ideal agar semua prosesnya dapat dijalani dengan yang terbaik?…

Hidup adalah perjuangan tanpa akhir. Dan bagi perempuan perjuangan perempuan untuk meraih cita-citanya terkadang lebih sulit dan berat, karena juga harus berhadapan dengan kultur masyarakat yang masih patriarki.

Tetapi keyakinan bahwa untuk mencapai kehidupan yang bermakna / baik (Hayatan Thayyibah) manusia harus terus mengupayakan hal-hal baik dalam hidupnya. Maka, yang perlu disadari adalah bersabarlah dalam berproses, bersetialah terhadap mimpi-mimpi dan harapannya, dengan terus belajar dari tiap tahapan kehidupan. Janji Allah, dijelaskan dalam Al Qur’an Allah tidak akan menyia-nyiakan amal manusia (QS an-Najm: 39).

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ ۝

“Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya”

Kuncinya ada pada sabar berproses, belajar dari setiap hal yang kita hadapi dan keyakinan bahwa kehidupan adalah perjuangan.

Membaca Kitab & Buku Untuk Publik Baca