Lahirnya Islam Disruptif

0

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Baru saja membuka tiktok, muncul pendapat seorang cendikiawan muslim yang menjelaskan tentang kalimah “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun” dalam perspektif berbeda.

Ia mengatakan, kalimah “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun” di atas bukan untuk nanti tetapi untuk sekarang. Segera pulang mumpung kita masih hidup. Dapatkan Surga, hindari Neraka ketika masih hidup.

Segera sadar dan kembali pada Allah, pada ridha_Nya, kepada pesan pesan_Nya sesuai yang tertera dalam kitab suci. Bukan identik kembali kepada_Nya saat kita mati. Segera, kembali saat masih hidup.

Sang Cendikiawan Muslim ini pun menjelaskan dimensi Surga dan Neraka bukan nanti. Melainkan hari ini, saat ini, sekarang, kita bisa berada di Surga atau Neraka. Semua terserah kita.

Ia mengajak kita (umat manusia) untuk hidup berakhlak mulia dalam ridha_Nya, memberi manfaat pada sesama. Maka perbuatan baik kita adalah Surga bagi kita dan sesama. Perbuatan keji, adalah Neraka bagi kita dan sesama.

Ia mengatakan bahwa di Al Qur’an jelas, Surga itu didapatkan saat kita masih bernafas, ketika langit dan bumi masih ada (Surat Hud ayat 106, 107 dan 108). Ia mengatakan itu kata Qur’an, bukan kata dirinya.

Cendikiawan muslim ini selalu mengatakan bahwa agama hadir untuk hari ini, saat ini, sekarang, tidak untuk nanti. Nanti urusan Allah, bukan urusan kita. Pastikan dimana kita berada, disitulah kita berakhlak terbaik dan mulia.

Memang faktanya agama, kitab suci dan para nabi diutus untuk di dunia, hari ini, saat ini, sekarang. Narasi narasi atau dogma dogma apa pun dalam agama adalah untuk urusan dunia.

Makanya para nabi diutus untuk memperbaiki akhlak manusia agar manusia dalam ridha_Nya dan memberi manfaat pada sesamanya. Bukan memberi manfaat di alam lain selain dunia.

Agama, para nabi, kitab suci, tempat ibadat tidak ada lagi di lokus selain dunia. Di dunia lah akhlak mulia, kesejahteraan bersama, kedamaian dan kebahagiaan dalam ridha_Nya harus diwujudkan.

Surga dan Neraka baginya lebih kepada kehidupan di dunia, sebagaimana rujukannya dalam Al Qur’an. Sosok cendikiawan muslim ini sangat disruptif, menarik masa depan ke hari ini, saat ini, sekarang.

Baginya berharap Surga nanti tidak lebih baik dari menciptakan kehidupan Surgawi saat ada di dunia. Berpikir, berkata, bertindak mulia sesuai ajaran agama dan memberikan kebahagiaan pada sesama adalah utama.

Surga dan Neraka baginya adalah dimensi psikologis, bukan geografis. Maka memberikan “Surga” pada kehidupan orang lain saat ini adalah utama. Memberikan “Neraka” pada sesama adalah nista.

Adalah Clayton Christensen, seorang profesor di Harvard Business School, Ia mengenalkan teori disruptif. Di Indonesia dipopulerkan oleh Prof. Dr. Rhenal Kasali. Teori disruptif identik implementatif pada bisnis dan science.

Bila saya telaah teori disruptif dalam dunia spiritual dan agama adalah tokoh cendikiawan muslim di atas. Ia menjadi tokoh disruptif dalam memahami pragmatika dan dialektika ajaran agama.

Beberapa tahun saya pelajari tokoh yang satu ini. Bahkan sudah saya buatkan buku khusus tentang pemikirannya. Banyak hal yang mencerdaskan dan membuat saya lebih tertarik mendalami ajaran agama.

Namun tentu saja tidak semua yang disampaikan bisa dicerna dan diiyakan oleh nalar saya. Bahkan ada majelis dan ormas keagamaan yang menyimpulkan sesat. Sementara entitas lainnya mengapresiasi dan mengagumi.

Perspektif Islam disruptif nampaknya akan mewarnai keberagamaan entitas kaum muslim. Lebih pragmatik, nalar dan memberi kabar gembira, bukan narasi narasi sanksi dan penghakiman.

Sang Cendikiawan ini mengatakan “Bila kita belajar dan beragama, mulai dari tidak percaya, maka kita akan belajar dan eksplorasi, bukan ikut ikutan walau tidak mengerti”.