OPINI/Artikel

Pesan KDM Dari Suryalaya

adminsigiku.com
×

Pesan KDM Dari Suryalaya

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Kembali menarik dicermati apa yang disampaikan Kang Dedi Mulyadi (KDM) saat hadir di pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Milad Suryalaya ke 120 jadi momentum KDM memberikan penguatan spiritualitas dan kesadaran pada pendengar dan publik media sosial pada umumnya.

Apa diantara “sengatan” spiritulaitas KDM? Penulis coba tafsirkan apa yang disampaikan KDM. Ia mengatakan, “Ketug jajantung (detak jantung kita) tidak pernah berhenti berdetak selain berseirama dengan vibrasi_Nya, menggetarkan Lailahaillallah”.

Perdetik, permenit, perjam, perhari, perminggu, perbulan, pertahun, detak jantung kita harus terkoneksi dengan esensi Lailahailallah. Perdetik dalam diri kita harus selalu melekat pada kalimah thayyibah, Lailahaillallah. Diri kita akan bercahaya welas asih, rahman rahim.

KDM mengatakan tidak mungkin akan ada papaseaan/pertengkaran bila Allah melekat dalam diri kita. Dalam rasa, pikiran, setiap detik bersama_Nya, maka tidak akan ada energi dan vibrasi negatif yang melahirkan konflik dan pertengkaran. Iri dengki pada sesama menjadi zero, kecuali welas asih, rahman rahim_Nya yang membersamai kita.

KDM mengatakan, “Kalau kita beragama tapi masih bertengkar, artinya kita belum sampai pada Lailahaillallah”. Bisa jadi kita menuhankan selain Ia, yakni mangeranan/menuhankan selain Ia, yang maha kuasa. Kita bisa dikuasai oleh selain Tuhan, yakni apa yang kita lihat, dengar dan segala di luar kita.

Kita harus kembali dan melekat pada Ilah besar, bukan ilah kecil. Ilah besar, Allah yang maha kuasa, ilah kecil segala godaan duniawi selain Allah. Waspadalah pada ilah kecil yang bisa menjadi Ilah besar, ini merusak tauhiditas kita. Melekatlah pada Ilah besar, Ilah yang sebenarnya.

Ilah sebenarnya adalah Lailahaillallah dalam bentuk memberi manfaat, menebar sifat rahman rahim_Nya dalam berbagai bentuk. KDM mengatakan Ilah versi dirinya harus fungsional dan memberi manfaat pada kesejahteraan umat manusia dan lingkungan.

Kalimah Lailahaillallah itu bisa diucapkan semua orang, sangat mudah. Namun kalimah Lailahillallah yang menjelasakan keberadaan Allah harus terpancar dalam realitas dan apa yang kita kerjakan. Semua profesi bila dijalankan dengan niat mulia, itulah lailahaillallah yang sebenarnya.

Lailahaillallah bagi pelajar, bagi santri belajar dan mahabbah pada gurunya. Bagi orang dewasa, gubernur dan siapa pun maka Lailahaillallah adalah “mahabbah” implementatif dalam bentuk tindakan atau kebijakan yang memberi kesejahteraan bersama dalam ridha_Nya.

KDM adalah murid ideologis Abah Anom. Ia punya energi, vibrasi dan satu frekuensi dengan ajaran Abah Anom. KDM dan Abah Anom punya substansi ajaran yang identik terkait kalimah lailahaillallah. Fungsi lailahaillallah versi KDM adalah membangun kesadaran, merubah perbudakan (ilah kecil) menjadi ke_Tuhanan (Ilah besar).

Abah Anom mengatakan, “Setiap benda ada ruhnya”. Maka setiap benda harus dihargai dan dihormati. Maka bila setiap benda dihormati, dirawat dengan sehat dan baik, akan “memantulkan” kebaikan dan kesehatan. Prinsip ini identk dengan teori LOSA (Law of Spiritual Attraction).

Lailahaillallah bagi KDM identik hidup, menghidupkan, menebar kebaikan. Ketika semua manusia punya energi substantif Lailahaillalah, siapa pun, dari mana pun, bangsa mana pun, akan lebih baik dan akan mampu menciptakan kesejahteraan bersama dalam energi_Nya.

Hal substantif dan menarik dicermati ketika KDM mengatakan soleh dan adabnya seorang manusia dengan cara dan profesinya. Inilah dinamika diferensiasi ketuhanan manusia dalam fungsi dan kontribusinya. Semua orang pada hakekatnya ber_Lailahaillallah dengan tipis tebalnya masing masing.

KDM mengatakan, “Tukang beca, sopir, ojek, petani” dan semua profesi hakekatnya berdzikir pada Tuhannya. Kalau semua manusia berdzikir hanya dalam mulut, tidak dalam pekerjaan, dunia kehidupan akan masalah. Berdzikir pada Tuhan sejatinya sempurna, lahir batin, spiritual material.

KDM mengatakan beragama itu inklusif. Artinya semua manusia harus dihargai dengan welas asih, apa pun, dari mana pun dan siapa pun, sebagai saudara beriman, ciptaan Tuhan nyang sama. Karakter dan adablah yang menjadi inti kualitas seseorang.

KDM menjelaskan setidaknya ada dua pendekatan dalam memberikan manfaat pada sesama. Pertama dengan kebahagiaan (ngabungahkeun), kabar menghibur, kabar gembira memberi semangat pada sesama. Kedua dengan tangisan, melembutkan rasa, menggugah welas asih diri.

KDM mengatakan “Sadaya kersaning Allah”. Semua dinamika dan realitas kehidupan versi KDM adalah dalam ijin dan ridaha_Nya. Dekat dan cintalah kepada_Nya, tak harus meminta dan meminta, Ia maha tahu yang terbaik untuk kita.

Pepatah para ulama mengatakan, “Barang siapa saat meninggal dunia mampu mengucap kalimah Lailahaillallah, dijamin masuk Surga”. KDM pun seolah mengajak, “Barang siapa bekerja dengan Lillah dan memberi manfaat pada sesama dan lingkungan, mereka kelompok ahli Surga”.