Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Setiap orang punya gaya dan narasi. Terutama para tokoh atau para pemimpin, Ia teruji dengan gaya dan caranya dalam menyampaikan pesan. Termasuk komunikasi Kadisdik Provinsi Jawa Barat, Dr. H. Purwanto, M.Pd., dihadapan entitas kepala sekolah dan pengawas sekolah jenjang SLTA Kabupaten Bogor, pada hari Rabu tanggal 17 September 2025.
Ada beberapa hal yang sempat penulis catat dari lontaran Kadisdik Jabar. Ia berusaha menyederhanakan pesan yang Ia sampaikan dengan narasi narasi sederhana agar mudah dicerna. Sebagai praktisi dan akademisi, Ia tidak menyampaikan teori teori yang jelimet, melainkan realitas nyata.
Ia mengajak para pengawas sekolah dan kepala sekolah agar semua sekolah benar benar melayani anak didik dengan optimal. Anak didik harus dibawa pada dimensi belajar yang mendalam. Pembelajaran mendalam versinya ”Harus nyentug kana hate”. Harus jleb, kata anak Gen Z.
Berikut beberapa Ajakan Kadisdik Jabar Dr. H. Purwanto, M.Pd., Pertama, pentingnya kesamaan visi. Mulai dari Gubernur, Kadisdik, Kacadik, Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, Guru, Komite Sekolah, harus satu visi. Vibrasi dan orientasinya seirama dan satu cita rasa.
Ia mengatakan pentingnya “meramu jamuan” istimewa, terutama guru dan kepala sekolah dalam melayani semua anak didik. Lahirnya pelajar Panca Waluya buah dari kolaborasi, optimalisasi dan fungsionalnya para guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah dalam melayani setiap anak didik.
Kedua, modal utama sekolah itu adalah guru, bukah benda mati seperti sarana dan prasarana. Guru lah modal utama semua sekolahan. Bukan bangunan dan fasilitas mewah sekolah yang terpenting, melainkan hadirnya guru guru terbaik, guru guru istimewa. Guru adalah kurikulum dan profile pembelajaran mendalam.
Ketiga, kuatkan dan tingkatkan kualitas interaksi dan komunikasi di semua sekolahan. Interaksi dan komunikasi yang santun, konstruktif, edukatif akan melahirkan anak didik lebih bersiap di lapangan kehidupan. Kemampuan komunikasi tertulis dalam 8 profile mutu lulusan pembelajaran mendalam dari Kemdikbudasmen.
Keempat, rekayasa pola didik. Mendidik perlu berbagai upaya dan intervensi sesuai tuntutan zamannya. Menurutnya bila saat ini ”Masih Ngurus Guru Tidak Masuk Kelas” bukan zamannya lagi. Saatnya memikirkan pola didik terbaik, inovatif, kreatif sesuai harapan masa depan anak didik.
Kelima, anak belajar dari kesukaannya. Pastikan semua anak belajar dengan bergembira, menyukainya. Bila anak belajar dari kesukaannya, potensinya akan jauh lebih bertumbuh, beda kalau mereka tidak suka atau terpaksa. Tugas guru agar anak suka dan belajar lebih terlibat.
Keenam, waspada guru bisa digantikan oleh produk kemajuan teknologi. Era algoritma, bola salju medsos, manusia dikuasai kekuatan teknologi, anak pun bisa demikian. Waspada guru jangan kalah sama benda hasil teknologi. Bukankah demo di Indonesia, Prancis dan Nepal terkait “pengendalian” teknologi?
Ketujuh, Ia mengatakan “Tidak akan ada WC kotor, gordeng nyengled, kumel, kumuh, sobek” bila pembelajaran mendalam di sekolah berjalan optimal. Walas dan guru pastikan mampu menjadi penguat dan contoh dari pembelajaran mendalam.
Kedelapan, pastikan setiap guru selalu belajar dan belajar. Ia mengatakan. ”Guru kalau mau ngajar, belajar dahulu, kalau tidak, maka akan habis ilmu, kalah sama anak didik”. Dalam bahasa Sunda Ia mengajak setiap guru “Jangan beakeun elmu, eleh ku budak”.
Kesembilan, Ia mengajak semua orang yang ada di sekolahan agar “Continuous Improvement (CI)”. Perbaikan diri terus-menerus dari semua warga sekolahan. Dalam bahasa populer Jepang disebut Kaizenik (perbaikan berkelanjutan).
Kesepuluh, terkait kesehatan. Ia mengatakan, ”Waspada minuman dan makanan anak anak didik”. Ia mengatakan makanan dan minuman bisa menjadi ancaman berbahaya bagi setiap anak didik. Banyak anak jadi korban. Kadisdik Jabar, Dr. H. Purwanato, M.Pd., dan Prof. Dr. Abdul Mu’ti, spiritnya sama tentang kesehatan anak didik harus diperhatikan optimal.
Kesebelas, waspada “normalisasi”. Apa maksudnya? Ia mengajak agar kita semua (pendidik) tidak anomalis, menormalkan suatu hal yang buruk. Jangan menganggap normal suatu hal yang negatif. Hal ini akan diduplikasi anak didik, anak didik akan menganggap normal, bahaya!
Hadirnya Pelajar Panca Waluya buah dari kolaborasi semua pihak, transformsi semua pihak, dalam basis kesadaran sesuai tuntutan idealitas dimensi pendidikan. Sederhananya ”Mari kita ikuti pola gubernur Jawa Barat” sebagai konduktor dalam mengorkestrasi lahirnya Jabar Istimewa.











