Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Dr. Purwanto, M.Pd., Kadisdik Provinsi Jawa Barat menyatakan “Anak didik sebaiknya belajar dari kesukaannya”. Banyak prestasi dan hal besar lahir dari apa yang disukai seseorang.
Bahkan bukankah kita pun lahir secara fisik berawal dari rasa suka kedua orangtua kita? Cinta, suka dan ikhlas seiring sejalan. Bila kita cinta, maka ada suka, dari suka, apa pun resikonya, ikhlas.
Bila anak didik suka, cinta pada sekolahnya, mereka pun akan ikhlas melintasi apa pun yang “dituntut” sekolahan. Menjadikan sekolah sebagai lokus yang sangat dicintai, disukai tentu tak mudah.
Perlu membangun spirit almamater yang menjadi kebatinan kolektif warga sekolahan. Bila sekolah dianggap ibu kandung/almamater, tentu baik baik saja. Mulai dari gerbang sekolah sampai belakang sekolah adalah tubuh ibu kandung.
Semua warga sekolah wajib mencintai ibu kandung. Cinta, suka dan ikhlas sejatinya dilimpahkan pada pengembangan sekolah. Dari kolektifitas rasa suka pada sekolahan akan melahirkan nuansa cinta.
Cinta, suka dan ikhlas pada sekolahan adalah energi dan vibrasi positif yang akan mefrekuensikan kesehatan lingkungan semesta sekolahan. Kepala sekolah harus menjaga vibrasi cinta sekolahan, agar terjaga dan menguat.
Visi Misi sekolahan hanya bisa didapatkan bila semua warga sekolah mencintai sekolahnya. Ciri sederhana cinta sekolah, semua GTKnya tidak ada yang terlambat dan malas ke sekolah.
KDM sangat memahami bahwa kepala sekolah dan guru yang rumahnya dekat dengan sekolahan, akan lebih berenergi mencintai sekolahnya. Vibrasinya tidak habis di jalan dan “Hayati Lelah”.
Bila ada guru dan kepala sekolah melintasi ratus dan puluh kilo ke sekolah tempat kerja, Ia akan kekurangan energi. *KDM mengerti betapa pentingnya “Lembur diurus, kota ditata” bukan dari energi sisa tapi dari cinta*.











