Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Ketua Umum DPP AKSI)
Populer ungkapan “vox populi, vox dei“, suara rakyat suara Tuhan. Populer juga ungkapan “Suara Jutaan Netizen Lebih Kuat Dari Penguasa Dan Fakta”. Dua ungkapan di atas menjelaskan bahwa opini publik adalah hukum maya yang bisa mengubah alam nyata.
Termasuk kisah menyala SMAN 1 Cimarga, Lebak Banten. Ada anak merokok di sekolah dan ada kepala sekolah yang melakukan tindakan disiplinitas. Apa yang terjadi kemudian sangat unik, selama dua hari semua anak didik mogok sekolah.
Kepala daerah menonaktifkan kepala sekolah demi kondusifitas agar anak kembali bersekolah. Kepala daerah dan jajaran sangat cepat nonaktifkan kepala sekolah demi anak didik. Apa yang terjadi kemudian? Anak didik kembali bersekolah, namun netizen Indonesia “menyala”.
Anak kembali bersekolah tetapi jutaan netizen Indonesia malah “menyerang” kebijakan kepala daerah. Kepala daerah dihakimi ramai ramai. Mulai dari kata kata konstruktif sampai kata – kata sangat menyeramkan. Bu Dini Fitria mendapat dukungan warga netizen luar biasa.
Hukum dunia netizen adalah siapa yang terlihat “dianiaya” diperlakukan kurang adil dan dianggap sewenang wenang, maka siapa pun akan didukung. Sebaliknya siapa saja yang dianggap arogan dan sok berkuasa, akan diadili, dihakimi, dibuli netizen.
Sampai detik ini hampir tidak ada yang bisa “melawan” kekuatan netizen Indonesia. Mereka merdeka, bebas dan bahkan liar menyasar siapa pun yang dianggap bermasalah. Kali ini netizen Indonesia nampaknya “menyayangi” Bu Dini Fitria sebagai kepala sekolah.
Organisasi profesi, asosiasi, birokrasi, politisi dan siapa pun autoritasnya tidak lebih kuat dari serbuan netizen. Netizen bagaikan pemilik kedaulatan. Algoritma netizenis bagaikan banjir api yang membuat panas semua berita dan gadget yang ada di tangan semua orang.
Sampai detik ini tidak ada kekuatan yang bisa mengalahkan “kedaulatan” dan kekuatan entitas netizen. Dunia netizen bagaikan “Hukum Rimba” maya yang akan melahap siapa pun yang mereka anggap enemi dan bermaslah.
Kali ini netizen nampaknya sedang menghargai dan menghormati para pendidik yang berusaha melakukan disiplinitas dan menegakan sebuah aturan. Padahal netizen tahu ada sedikit “kekerasan verbal” dan sentuhan fisik. Namun netizen menganggap itu sangat wajar dalam koridor mendidik.
Beruntung Bu Dini Fitria sebagai kepala sekolah mendapatkan dukung jutaan netizen. Jutaan netizen melihat sosok Dini Fitria teraniaya oleh pragmatisasi kekuasan. Semoga kita semua bisa belajar dari kisah Cimarga. Mari mengambil pelajaran, semua manusia punya salah dan khilap. Hanya Tuhan yang tak pernah salah.
Khusus para pendidik (guru, kepala sekolah) netizen sangat menghargai profesi penegakan karakter dan disiplinitas. Generasi rebahan, anak mamah dan orangtua sewot sangat tidak disukai netizen. Para pendidik sedang dihargai netizen, tingkatkan kompetensi dan dedikasi demi generasi. Netizen memantau setiap detik!











