Pewarna : A Y Saputra.
Kab Ciamis – Viralnya potongan video yang memperlihatkan Kades Mekarmukti, Asep Ari berteriak lantang dalam forum Silaturahmi Akbar PPDI Ciamis memicu polemik besar. Potongan video tanpa konteks itu menyebar cepat dan memancing beragam asumsi publik, karena kalimat yang terdengar seolah menyerang profesi jurnalis.
Video itu muncul beberapa minggu setelah kegiatan berlangsung, namun dampaknya langsung memunculkan gelombang reaksi dari berbagai pihak. Banyak orang tidak mengetahui bahwa forum PPDI tersebut sejak awal membahas persoalan oknum mengaku jurnalis yang melakukan intimidasi dan pemerasan terhadap desa di Kecamatan Sadananya. Namun karena yang beredar hanya satu bagian kecil, narasi publik pun melompat tanpa melihat kondisi sebenarnya di lokasi acara.
Setelah video itu mencuat, Kuwu Ibro memilih tidak menghindar. Ia mengajak seluruh organisasi wartawan di Ciamis untuk bertemu langsung dan menjelaskan duduk perkaranya. Pertemuan itu dihadiri oleh Ikatan Penulis Jurnalis Indonesia (IPJI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Ikatan Wartawan Online (IWO).
Dalam forum tatap muka tersebut, atmosfer berubah drastis dibanding suasana di media sosial. Kuwu Ibro menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan menjelaskan konteks ucapannya dengan detail.
“Saya minta maaf atas kealfaan saya. Saya terlalu bersemangat saat itu, tetapi saya menegaskan bahwa yang saya kritisi adalah oknum, bukan wartawan,” ucapnya di hadapan para organisasi profesi itu.
Perwakilan organisasi wartawan mendengarkan penjelasan tersebut Mereka menimbang ulang isi potongan video dengan konteks sebenarnya yang Kuwu Ibro paparkan.
Usai berdiskusi, seluruh organisasi wartawan Ciamis sepakat menerima klarifikasi dan memutuskan memperkuat komunikasi dengan pihak desa.
Ketua IPJI Ciamis, Muhammad Rifa’i, menilai pertemuan itu sebagai momen penting untuk meredam keributan. Ia mengingatkan agar semua pihak berhati-hati terhadap aktor yang ingin “mengambil keuntungan sepihak dari kegaduhan ini”.
Akar Masalah: PPDI Menolak Intimidasi Oknum Mengaku Jurnalis
Kronologi di balik viralnya video bermula dari kegiatan Silaturahmi Akbar PPDI yang dihadiri lebih dari 1.000 perangkat desa yang ada di Kabupaten Ciamis. Forum itu muncul karena adanya laporan pemerasan dan ancaman yang dilakukan oknum mengaku jurnalis terhadap Pemerintah Desa Mangkubumi. Banyak perangkat desa dari berbagai kecamatan bahkan membawa bukti pemerasan berupa foto, kwitansi, video, hingga rekaman CCTV.
PPDI ingin memperkuat posisi desa dan memastikan hubungan desa-media tetap sehat.
Ketua PPDI, Mas Ahim, dalam orasinya menegaskan bahwa perlawanan PPDI hanya ditujukan kepada oknum, bukan kepada profesi wartawan. Pada momen inilah Kuwu Ibro masuk dengan suara lantang untuk menguatkan pesan tersebut, namun karena video yang beredar hanya menunjukkan teriakannya, publik salah menafsirkan konteksnya.
Dalam pertemuan dengan organisasi wartawan, para pihak menyayangkan beredarnya potongan video tanpa konteks lengkap. Mereka khawatir publik kembali mencurigai pemerintah desa atau sebaliknya memandang media sebagai pihak yang mudah tersinggung, padahal hubungan keduanya selama ini cukup harmonis.
Pertemuan ini sekaligus menegaskan kembali komitmen bersama antara pemerintah desa dan insan pers untuk menjaga ruang publik yang sehat dari tindakan pemerasan oleh oknum yang mengaku wartawan.
Lebih lanjut Organisasi wartawan Ciamis menyampaikan dukungan agar oknum tersebut ditindak sesuai hukum













