Seni dan Budaya

Berarak Petang, Tradisi Arak-Arakan Pengantin yang Tetap Hidup di “Kota Tikar” Pedamaran

adminsigiku.com
×

Berarak Petang, Tradisi Arak-Arakan Pengantin yang Tetap Hidup di “Kota Tikar” Pedamaran

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Moh. Sangkut

Kabupaten OKI — Suasana sore di Desa Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, kembali semarak dengan tradisi budaya khas yang dikenal sebagai Berarak Petang, Senin (30/03/2026). Tradisi arak-arakan pengantin ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.

Sejak dahulu, Pedamaran yang dijuluki “Kota Tikar” dikenal sebagai daerah yang kaya akan adat istiadat. Tradisi ini tetap lestari dan dijaga oleh para sesepuh serta tokoh masyarakat, meski zaman terus berubah.

Salah seorang tamu dari Sumatera Utara, Sihabbudin Nasution, mengaku terkesan dengan kekuatan budaya yang masih terjaga di Pedamaran. Ia hadir dalam pernikahan keponakannya dan menyaksikan langsung prosesi tersebut.

“Saya sangat kagum dengan adat di Kota Tikar ini. Tradisinya luar biasa dan masih dijalankan dengan penuh semangat,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, tradisi ini memang tidak sederhana. Biaya yang dikeluarkan bisa mencapai ratusan juta rupiah, mulai dari mahar hingga hiburan seperti musik dangdut. Namun demikian, menurut Sihabbudin, pelaksanaan adat tidak selalu bergantung pada kemampuan ekonomi.

“Bagi yang mampu bisa dibuat meriah, tapi yang sederhana pun tetap bisa menjalankan tradisi, yang penting nilai adatnya tetap dijaga,” tambahnya.

Tradisi Berarak Petang biasanya digelar pada sore hari sebagai puncak rangkaian pesta pernikahan. Sepasang pengantin diarak keliling desa, diiringi ratusan perempuan serta alunan Musik Tanjidor yang menambah kemeriahan suasana.

Momen seperti ini kerap berlangsung hampir setiap bulan, namun akan mencapai puncaknya setelah perayaan Idul Fitri, ketika banyak warga memilih menggelar hajatan pernikahan.

Bagi masyarakat Pedamaran, tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol kebersamaan dan identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.

“Adat ini tidak akan pernah dilupakan oleh warga Pedamaran,” tutup Sihabbudin.