Pewarta : Abd. Haris
Kabupaten Buol – Masyarakat Desa Kuala Besar, Kecamatan Paleleh, Kabupaten Buol, kembali dihadapkan pada masalah serius. Bangunan pengaman pantai yang baru dibangun pada tahun anggaran 2025 justru dilaporkan mengalami kerusakan parah, berupa retakan dan lubang-lubang yang cukup besar.
Kondisi memprihatinkan ini terlihat jelas dari foto dan video yang beredar di media sosial dan grup percakapan warga. Terlihat bagian struktur beton dan susunan batu pada bangunan pengaman tersebut sudah retak, bahkan beberapa bagian terlihat berlubang dan tidak kokoh lagi.
Wilayah pesisir Kabupaten Buol, khususnya di Kecamatan Paleleh, memang dikenal rawan terhadap abrasi atau pengikisan pantai akibat hempasan ombak dan arus laut. Untuk mengatasi masalah ini dan melindungi permukiman warga serta lahan di sekitarnya, pemerintah daerah melalui instansi terkait melaksanakan proyek pembangunan pengaman pantai di Desa Kuala Besar pada tahun 2025.
Proyek ini diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan yang kuat, menahan laju air laut, dan mencegah tanah terus terkikis. Namun, harapan tersebut kini memudar seiring dengan munculnya kerusakan pada konstruksi yang masih tergolong baru.
Berdasarkan dokumentasi yang diterima, kondisi fisik proyek tersebut menunjukkan banyak kejanggalan. Beberapa titik mengalami keretakan yang cukup panjang, sementara bagian bawah dan samping struktur terlihat berlubang dan tidak padat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan warga, mengingat fungsi utama bangunan ini adalah untuk menahan gempuran ombak yang cukup kuat, terutama saat musim angin timur.
“Proyek pengaman pantai yang dibangun tahun 2025 yang terletak di Kuala Besar pantai kecamatan Paleleh sudah retak dan berlubang,” tulis salah satu warga dalam pesan yang disertai foto bukti kerusakan.
Sementara itu, ketika dihubungi melalui telepon seluler untuk meminta keterangan terkait kerusakan tersebut, Kepala Dinas Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buol, Moh Kahfi Marjuni, justru mengeluarkan pernyataan yang dinilai tidak etis dan memancing kemarahan. Dengan nada bicara yang keras, ia menegaskan, “Angin kita bisa lawan.”

Pernyataan tersebut langsung menuai kritik tajam dari masyarakat dan berbagai pihak. Pasalnya, masalah yang terjadi sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh kekuatan angin atau ombak, melainkan diduga kuat berkaitan dengan kualitas pekerjaan yang dinilai buruk.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, terdapat dugaan kuat terkait proyek tersebut tidak sesuai dengan bestek atau spesifikasi teknis yang telah ditetapkan dalam kontrak. Hal ini terlihat dari kualitas bangunan yang mudah rusak meski baru selesai dikerjakan, serta struktur yang dinilai tidak memenuhi standar keamanan dan ketahanan yang seharusnya.
Masyarakat dan berbagai pihak berharap aparat penegak hukum maupun instansi yang berwenang dapat segera turun tangan dan menyikapi permasalahan ini dengan tegas. Pemeriksaan menyeluruh perlu segera dilakukan guna memastikan apakah benar terjadi penyimpangan atau pelanggaran dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut.
Merespons situasi ini, sorotan publik kini tertuju sepenuhnya kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang menangani proyek ini, yaitu Moh Affan. Masyarakat dan berbagai pihak menuntut agar Moh Affan bertanggung jawab penuh atas kondisi memprihatinkan yang terjadi pada proyek pengaman pantai tersebut.
Sebagai pihak yang memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam pengelolaan serta pengawasan pelaksanaan kontrak, Moh Affan dinilai harus menjawab pertanyaan publik terkait kualitas material, ketepatan pelaksanaan teknis, serta mengapa kerusakan bisa terjadi begitu cepat pada proyek yang masih baru.
Kerusakan pada bangunan pengaman pantai ini tentu sangat meresahkan. Jika dibiar













