Pewarta : Red
Bandung – Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan menggelar Karnaval Binokasih sebagai agenda budaya lintas daerah yang terintegrasi mulai awal Mei 2026. Kegiatan ini merupakan pengembangan tradisi Keraton Sumedang yang kini diperluas menjadi program strategis tingkat provinsi.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyatakan, karnaval akan resmi dimulai pada 2 Mei di Sumedang. Tradisi yang berakar dari Keraton Sumedang tersebut diintegrasikan dengan program pemerintah daerah guna memperluas dampak dan jangkauan pelestarian budaya.
Rangkaian karnaval dirancang bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain dengan mengusung narasi sejarah Sunda. Setelah pembukaan di Sumedang, kegiatan berlanjut pada 3 Mei di Kawali, Kabupaten Ciamis—yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Sunda Kawali.
Selanjutnya, rombongan akan menuju Kampung Naga di Tasikmalaya sebagai representasi kearifan lokal, kemudian bergerak ke Cianjur dengan titik akhir di kawasan gedung keresidenan yang memiliki nilai historis sebagai pusat pemerintahan Priangan pada masa kolonial.
Perjalanan dilanjutkan ke Bogor dengan rute dari kawasan Batutulis menuju Kebun Raya Bogor. Setelah jeda satu hari, karnaval akan terintegrasi dengan peringatan hari jadi Kota Depok, menonjolkan kawasan heritage peninggalan kolonial.
Rangkaian kemudian berlanjut ke Karawang dengan tujuan Pesantren Syekh Quro, sebelum mencapai puncak acara di Cirebon, dari Bale Jayadewata menuju kawasan Keraton Kasepuhan.
Menurut Dedi, Karnaval Binokasih tidak sekadar seremoni budaya, tetapi memiliki nilai strategis dalam memperkuat identitas sejarah Sunda, mulai dari era Kawali hingga terbentuknya Kesultanan Cirebon. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mendorong kesadaran kolektif masyarakat terhadap kebersihan dan penataan lingkungan.
Pemprov Jawa Barat juga menyiapkan tindak lanjut pembangunan di sejumlah titik yang dilalui karnaval, termasuk renovasi Keraton Sumedang, penataan kawasan Kawali, peningkatan fasilitas wisata di Kampung Naga, serta penguatan infrastruktur dan situs sejarah di berbagai daerah.
Dampak kegiatan ini ditargetkan meluas, tidak hanya pada sektor budaya, tetapi juga pada percepatan pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, trotoar, hingga kawasan permukiman.
Ke depan, Karnaval Binokasih akan ditetapkan sebagai agenda rutin tahunan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai bagian dari strategi pelestarian budaya dan penguatan pembangunan berbasis wilayah.













