Pewarta : Red
Cirebon – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berencana melakukan penataan besar terhadap empat keraton di Kota Cirebon, yakni Keraton Kasepuhan, Keraton Kacirebonan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kaprabonan, agar kembali tertata bersih, rapi, dan memiliki nilai historis yang kuat.
Penataan itu mencakup pembersihan kawasan sekitar keraton, perbaikan trotoar, hingga revitalisasi sungai agar kembali bersih dan mengalir jernih sampai ke laut.
“Tidak boleh lagi ada sampah bertebaran dan kekumuhan. Saya ingin ketika memimpin Jawa Barat dengan spirit Padjadjaran, seluruh keraton di Cirebon kembali tertata seperti masa lalu,” ujar KDM dalam Kirab Budaya Mahkota Binokasih Napaktilas Padjadjaran di Kota Cirebon, Minggu malam (10/5/2026).
Menurutnya, wajah Kota Cirebon saat ini belum mampu membuat wisatawan bertahan lama karena atmosfer kota dinilai kehilangan nuansa sejarah, kenyamanan sosial, dan daya tarik budaya.
“Kunjungan wisata ke keraton rata-rata hanya sehari lalu pulang. Orang datang melihat keraton, tetapi tidak lagi melihat Cirebon yang indah. Atmosfer historikal dan cinta kasihnya hilang,” tegasnya.
KDM mengajak pemerintah daerah untuk membangun kota dengan pendekatan budaya dan rasa memiliki terhadap warisan sejarah.
Ia juga menegaskan siap bertanggung jawab terhadap pembangunan dan renovasi kawasan keraton, dengan syarat seluruh situs budaya tersebut dirawat dan tidak dijadikan komoditas kepentingan segelintir pihak.
“Kita bukan menjual keraton, tapi merawat keraton. Kita bukan menjual makam, tapi merawat makam,” katanya.
Selain penataan keraton, KDM juga menyiapkan revitalisasi jalur Kirab Budaya Mahkota Binokasih Napaktilas Padjadjaran di sejumlah daerah dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda. Program tersebut diklaim sebagai upaya mengembalikan identitas seni, sejarah, dan budaya Jawa Barat di ruang publik.
Ia menyebut sejumlah proyek budaya akan dibangun, di antaranya Pelataran Cinta di Karawang, Pelataran Binokasih di Bogor, hingga Pelataran Caruban di Cirebon pada tahun depan.

