KIP dan PIP Anak Diputus, Keluarga Miskin di Cilodong Kota Depok Terancam Tak Bisa Lanjut Sekolah SMK 1 Negeri

0
474

Pewarta : Anis

Kota Depok – Anak laki – laki Ibu Dani Sri Rejeki, warga Jalan Kemakmuran RT 04 RW 01 Gang 18, Kalibaru, Cilodong, Depok, terancam putus sekolah. Bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang selama ini menopang biaya Pendidikan mereka tiba – tiba dihentikan sejak 2025. Padahal, anaknya memiliki semangat belajar serta nilai akademik yang bai ingin melanjutkan sekolah di SMA/SMK Negeri.

Ibu Sri, panggilan sehari – hari Dani Sri Rejeki, menceritakan kronologi penghentian bantuan itu. Awalnya pihak sekolah menyampaikan bahwa pencairan PIP dan KIP ditunda sementara karena proses peralihan bank.

“Dari sekolah bilang nanti pindah bank, jadi untuk sementara belum dapat dulu. Tapi sampai masuk 2026, anak kami tetap tidak dapat bantuan,” ujar Ibu Sri saat ditemui dirumahnya, di Kawasan Cilodong, Senin (8/6/2026).

Keluarga ini masuk kategori tidak mampu. Ibu Sri bekerja sebagai kuli cuci dengan penghasilan pas – pasan. sementara suaminya, Haris, hanya bekerja serabutan. Penghasilan mereka pun hanya cukup untuk makan sehari – hari dengan 4 anak.

Saat mendatangi Pemerintah Kota Depok, pasangan suami istri ini mendapat informasi bahwa mereka kini masuk dalam Desil 6 Data Terpadu Kesejahteraan Sosial DTKS. Menurut mereka, Desil 6 dikategorikan sebagai keluarga mampu.

“Kami tidak mengerti. Keadaan rumah kami seperti ini. Kami bukan minta dikasihani. Untuk makan saja kami bersyukur kepada Allah. Tapi KIP dan KIS itu satu – satunya jaminan anak kami bisa lanjut sekolah di SMK Negeri I,” kata Sri dengan nada sendu.

Saat wartawan sigiku.com meninjau langsung, kondisi tempat tinggal keluarga ini jauh dari kata layak. Namun kondisi itu kontras dengan semangat anak Ibu Sri yang memiliki motivasi belajar tinggi dan prestasi nilainya bagus.

Tanpa KIP dan PIP, mereka kehilangan akses jalur afirmasi untuk siswa kurang mampu. Itu membuat peluang masuk SMK 1 Depok atau sekolah negeri lainnya menjadi sangat kecil.

“Kami berharap Pemerintah Kota Depok bisa membantu anak kami agar tetap bisa melanjutkan sekolah di SMK 1. Itu cita-cita anak kami,” harap Sri.

Ia menitipkan harapan agar para pejabat dan aparatur di Pemkot Depok berkenan mendengar dan meninjau langsung kondisi warga miskin.

“Kenapa kami masih dalam penderitaan seperti ini ? Pasti semua orang tidak mau berada di posisi kami. Kami hanya ingin anak kami sekolah seperti anak lainnya,” ujarnya.

PIP dan KIP adalah Bantuan Pendidikan dari pemerintah untuk siswa dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa mengakses pendidikan 12 tahun. Perubahan status ke Desil 6 DTKS menjadi salah satu penyebab banyak siswa kehilangan bantuan ini dan tidak bisa melanjutkan sekolah.