Untuk Guru Indonesia

0
16

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Kopswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Sahabat guru di mana pun berada. Menjadi guru adalah menjadi pribadi dengan profesi paling terhormat. Jamaah Tabligh mengatakan profesi paling mulia di muka bumi adalah profesi yang diambil para nabi. Para nabi itu menyampaikan, mengajak dan memberi contoh (mendidik).

Para guru adalah pewaris para nabi. Tentu saja guru dengan kualifikasi, dedikasi, prestasi dan keteladanan akhlak terbaik. Ketika guru (maaf) tidak mampu melayani anak didik dengan optimal, bermasalah dengan sejawat, dengan atasan dan tidak “PD” berhadapan dengan pihak eksternal, tentu jadi masalah.

Dalam tulisan sebelumnya saya sampaikan *”Pastikan tidak ada orang lebih pintar dari kita (guru) dalam hal pendidikan”*. Dignity, eksistensi dan popularitas profesi guru ada di entitas guru sendiri. Ada sejumlah *Guru Istimewa* yang bisa jadi pejabat, tokoh publik bahkan kepala daerah. Ini menjelaskan kualitas gurunya istimewa.

Namun sayang, mayoritas guru masih jauh dari harapan. Mulai dari hasil UKG, hasil pencapaian murid dan dinamika prestasi entitas guru masih jauh dari ideal. Sebagai guru yang dimuliakan dalam mukadimah di atas, mari kita sadar, introsfeksi dan ubah pola agar bertumbuh lebih baik.

Sederhanakan kemuliaan, dedikasi dan prestasi guru dengan : Pertama, tidak pernah terlambat masuk jam kerja. Guru adalah model karakter disiplinitas ketepatan waktu bagi semua murid. Terutama saat di ruang kelas.

Kedua, populer di mata murid karena hal berikut : empatik, afirmatif, mendengarkan, kreatif, komunikatif, berpenampilan gagah, punya ciri khas yang menginspirasi dan menebarkan frekuensi penuh semangat. Selalu menyapa dahulu, menyebut nama dari hati yang penuh cinta.

Ketiga, tidak transaksional, modusan dan pulusan. Bekerja semata mata karena syukur telah menjadi guru. Bukan bekerja karena “SK” atau hal material. Melainkan karena sadar, spiritual dan meyakini alam semesta punya mekanisme LOSA (Law Of Spiritual Attraction). Kinerjanya tersambung dengan Ilahi.

Sahabat guru dimana pun berada, ada pepatah bijak yang mengatakan “Siapa yang ikhlas bekerja, berprestasi dan berdedikasi, sebenarnya Ia sedang menabung/mengakumulasi sukses untuk anak dan keturunannya”. Tidak sedikit guru yang hidupnya berkah karena kerja dedikatif dan berkarakter.

Kang Herman Suryatman (KHS), Sekda Provinsi Jawa Barat mengatakan, “Banyak bicara saat sudah pensiun tidak positif, saat masih tugas bekerjalah sabubukna”. Roboh ruang kelas, sekolah kena banjir tidak lebih bahaya dari “robohnya” karakter, keteladanan dan kualitas entitas guru.