Ragam

FAH UIN Bandung Rekonstruksi Kurikulum 2026, Siapkan Lulusan Humaniora Hadapi Era AI

adminsigiku.com
×

FAH UIN Bandung Rekonstruksi Kurikulum 2026, Siapkan Lulusan Humaniora Hadapi Era AI

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Ida

Kota Bandung – Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung meluncurkan Rekonstruksi Kurikulum 2026 berbasis Outcome Based Education (OBE). Langkah ini menjadi respons terhadap pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), transformasi digital, serta perubahan kebutuhan dunia kerja di era Society 5.0.

Kurikulum baru tersebut dirancang untuk menghasilkan lulusan dengan kompetensi yang terukur, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan memiliki daya saing global. Di saat yang sama, penguatan kompetensi digital tetap dipadukan dengan nilai-nilai keislaman serta kearifan lokal Islam Sunda-Nusantara.

Peluncuran Kurikulum OBE 2026 berlangsung di Auditorium FAH lantai 4, Selasa (18/8/2026). Kegiatan dihadiri Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag., Wakil Rektor I Prof. Dr. Dadan Rukmana, M.Ag., Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Prof. Dr. Ija Suntana, M.Ag., Dekan FAH Dr. Dedi Supriadi, M.Hum., jajaran wakil dekan, ketua dan sekretaris program studi, guru besar, dosen, serta tenaga kependidikan.

OBE Disiapkan untuk Menjawab Perubahan Dunia Kerja

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. Rosihon Anwar mengapresiasi langkah FAH merekonstruksi kurikulum. Menurutnya, perubahan teknologi dan kebutuhan pasar kerja berlangsung begitu cepat sehingga perguruan tinggi harus memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan.

“Perkembangan dunia kerja dan pangsa pasar saat ini bergerak sangat cepat. Lulusan kita tidak boleh tertinggal. Karena itu kurikulum OBE ini harus segera diimplementasikan agar mahasiswa FAH memiliki kompetensi yang relevan, terukur, dan berdaya saing global,” tegas Rosihon.

Guru Besar Ilmu Tafsir tersebut menilai transformasi kurikulum menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda, terutama di tengah perkembangan Generative AI, data science, computational linguistics, dan tuntutan kompetensi baru pada era Society 5.0.

Perguruan tinggi, kata dia, tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan akademik. Lulusan juga harus memiliki keterampilan, karakter, serta kemampuan beradaptasi agar mampu menghadapi perubahan yang terus berlangsung.

Padukan Regulasi, Kebutuhan Industri, dan Kearifan Lokal

Dekan FAH UIN Sunan Gunung Djati Bandung Dr. Dedi Supriadi menjelaskan, Rekonstruksi Kurikulum 2026 berbasis OBE dibangun di atas tiga pijakan utama.

Pertama, penyesuaian terhadap Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Kedua, proyeksi kebutuhan pasar kerja yang mengacu pada World Economic Forum Future of Jobs Report 2025. Ketiga, penguatan integrasi keilmuan Islam dan kearifan lokal Islam Sunda-Nusantara sebagai karakter akademik FAH.

Dengan pendekatan tersebut, transformasi kurikulum tidak sekadar mengejar perkembangan teknologi. Identitas keilmuan humaniora, nilai keislaman, dan akar budaya lokal tetap menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

Semangat tersebut turut ditampilkan dalam rangkaian peluncuran kurikulum. Kedatangan jajaran pimpinan universitas disambut nuansa budaya Sunda melalui alunan gamelan dan pertunjukan tari tradisional yang dibawakan mahasiswi FAH.

Empat Program Studi Diperkuat Kompetensi Digital

Kurikulum OBE 2026 memperkuat profil lulusan empat program studi di lingkungan FAH dengan kompetensi yang disesuaikan terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.

Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) diarahkan untuk memperkuat kemampuan historiografi digital, dokumentasi dan pemetaan arsip sejarah, serta analisis sosiologi-historis perkembangan Islam Nusantara dan Sunda. Kompetensi tersebut juga dikembangkan untuk mendukung sektor pariwisata sejarah dan pengelolaan cultural heritage.

Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) memadukan tradisi filologi, kajian naskah Nusantara, dan tradisi pesantren dengan pendekatan humaniora digital. Mahasiswa juga dibekali kompetensi Natural Language Processing (NLP) Bahasa Arab, korpus linguistik, serta pemanfaatan AI untuk industri kreatif dan media.

Program Studi Sastra Inggris (SI) memperkuat kemampuan komunikasi internasional, cross-cultural literacy, kajian sastra global dan digital, translatologi profesional, serta analisis wacana media global yang relevan dengan perkembangan industri kreatif.

Sementara itu, Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam (IPII) diarahkan pada transformasi tata kelola sains informasi digital. Mahasiswa diperkuat dengan kompetensi data science, manajemen perpustakaan berbasis repositori digital, kurasi pengetahuan keislaman, serta etika dan preservasi informasi di era digital.

CPL Dibuat Terukur, Pembelajaran Diperkuat Praktik

Penerapan OBE menempatkan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) sebagai salah satu elemen utama dalam perancangan pembelajaran. Setiap mata kuliah diarahkan memiliki capaian yang terukur dan selaras dengan kebutuhan dunia kerja profesional.

Pengalaman belajar mahasiswa juga diperluas melalui pendekatan experiential learning. Implementasinya mencakup magang industri, Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), KKN pemberdayaan, hingga kegiatan kewirausahaan.

Dengan model tersebut, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman praktik dan kemampuan mengaplikasikan keilmuan untuk menjawab kebutuhan industri maupun persoalan di masyarakat.

Tidak Sekadar Mengejar Tren Teknologi

Dedi menyampaikan apresiasi kepada Tim Penyusun Kurikulum Fakultas dan Program Studi, Gugus Penjaminan Mutu (GPM), dosen, alumni, serta pengguna lulusan (users) yang terlibat dalam proses rekonstruksi kurikulum.

“Transformasi ini bukan hanya soal mengikuti tren teknologi. Ini tentang mencetak lulusan Adab dan Humaniora yang berakar pada nilai keislaman dan budaya lokal, tetapi juga melek digital dan kompetitif secara global,” kata Dedi.

Menurutnya, penguatan kompetensi digital harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan pemahaman terhadap nilai keislaman serta kebudayaan.

Targetkan Lulusan Adaptif dan Berdaya Saing

Peluncuran Kurikulum OBE 2026 menandai langkah strategis FAH UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam menyiapkan lulusan humaniora menghadapi perubahan teknologi dan dinamika dunia kerja.

Melalui kurikulum tersebut, mahasiswa tidak hanya diposisikan sebagai penguasaan ilmu, tetapi juga dipersiapkan menjadi profesional, intelektual, sekaligus duta budaya yang mampu merespons tantangan zaman.

“FAH tidak hanya ingin mencetak sarjana, tetapi juga duta budaya dan intelektual yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri,” pungkas Dedi.

Dengan Kurikulum OBE 2026, FAH UIN Sunan Gunung Djati Bandung menegaskan arah pendidikan humaniora yang semakin adaptif terhadap perkembangan AI dan Society 5.0. Penguatan kompetensi digital ditempatkan sebagai kebutuhan utama, namun tetap berjalan dalam kerangka nilai keislaman dan kearifan lokal Sunda-Nusantara.

(Shandi Rakhmat Ginanjar, S.S., Haryadi/ Kontributor)