Pewarta : Ida
Kota Bandung — Mahasiswa Jurnalistik tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik. Keterampilan, pengalaman, kemampuan beradaptasi, etika, hingga portofolio menjadi modal penting untuk menghadapi dunia profesional.
Pesan tersebut mengemuka dalam Workshop Jurnalistik bertema “Kiat Sukses Studi di Jurnalistik UIN Bandung” yang digelar Program Studi Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Kamis (10/9/2026).
Workshop yang menyasar mahasiswa baru Program Studi Jurnalistik angkatan 2026 itu menghadirkan Ketua Program Studi Jurnalistik UIN Bandung, Dr. Abdul Aziz Ma’arif, S.Sos., M.Si., serta dosen Ilmu Komunikasi, Isti Uga Paralita, M.Si., sebagai narasumber.
Kegiatan tersebut dirancang untuk membekali mahasiswa baru dengan pemahaman sekaligus strategi praktis dalam menjalani proses perkuliahan dan mengembangkan kompetensi kejurnalistikan sejak semester pertama.
Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, Dr. H. Encep Dulwahab, S.Sos., M.I.Kom., membuka kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi workshop sebagai bagian dari upaya membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik sekaligus mempersiapkan diri menghadapi proses perkuliahan.
“Saya menyambut baik dan mengapresiasi terselenggaranya workshop ini. Saya berharap mahasiswa baru dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk membekali diri, baik dari sisi wawasan akademik maupun kesiapan mental dalam menjalani perkuliahan di Jurnalistik,” ujarnya.
Encep meminta mahasiswa menjadikan kegiatan tersebut sebagai pijakan awal untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan selama menempuh pendidikan.
Bangun Portofolio Sejak Semester Pertama
Ketua Program Studi Jurnalistik UIN Bandung, Dr. Abdul Aziz Ma’arif, menekankan pentingnya mahasiswa mulai mengasah keterampilan jurnalistik sejak semester awal.
Menurutnya, kemampuan tersebut tidak hanya dapat diperoleh melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga lewat berbagai aktivitas di dalam maupun luar kampus, termasuk organisasi dan kegiatan pers mahasiswa.
Ia mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan fotografi, kepenulisan dan keterampilan jurnalistik lainnya sekaligus mulai membangun portofolio secara konsisten.
“Silakan teman – teman mahasiswa angkatan 2026 untuk mengasah keterampilannya, baik di bidang fotografi, kepenulisan, dan lain-lain. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan mengikuti berbagai kegiatan dan organisasi seperti Lembaga Pers Mahasiswa. Ayo bangun portofolio dari sekarang agar bisa bermanfaat di masa depan,” katanya.
Menurut Abdul Aziz, pengalaman berorganisasi juga dapat menjadi ruang untuk mengasah kemampuan praktis sekaligus memperluas jejaring. Namun, aktivitas tersebut harus tetap berjalan seimbang dengan kewajiban akademik.
“Jangan sampai lalai dengan kewajiban sebagai mahasiswa. Jangan sampai tidak masuk kuliah hanya demi organisasi,” tegasnya.
Ia menilai keseimbangan antara akademik, pengalaman organisasi, keterampilan dan portofolio akan menjadi salah satu modal penting bagi mahasiswa ketika memasuki dunia kerja.
Etika dan Adaptasi Akademik Tak Kalah Penting
Sementara itu, Isti Uga Paralita memberikan pembekalan mengenai berbagai aspek praktis yang akan dihadapi mahasiswa selama menjalani perkuliahan.
Materi yang disampaikan meliputi penggunaan website kampus, budaya akademik, administrasi perkuliahan hingga etika berkomunikasi dengan dosen.
Menurut Isti, kemampuan beradaptasi dengan sistem dan budaya akademik harus dibangun sejak awal agar mahasiswa mampu mengikuti proses perkuliahan secara mandiri dan tidak tertinggal informasi.
“Etika sebagai mahasiswa itu penting, misalnya bagaimana cara bersikap sopan dan menjaga komunikasi yang baik dengan dosen, disiplin dalam mengikuti perkuliahan, serta menjaga tanggung jawab terhadap tugas-tugas akademik,” jelasnya.
Mahasiswa juga perlu memahami mekanisme akademik, mulai dari pengisian Kartu Rencana Studi (KRS), mengakses jadwal dan informasi perkuliahan melalui website kampus hingga memanfaatkan berbagai layanan akademik yang tersedia.
“Hal-hal seperti ini terlihat sederhana, tapi kalau tidak dipahami sejak awal, bisa membuat kalian kebingungan dan tertinggal informasi selama menjalani perkuliahan,” ujarnya.
Pelaksanaan workshop turut didukung Korps Protokol Mahasiswa Jurusan (KPMJ) Ilmu Komunikasi yang bertugas sebagai tim protokol selama kegiatan berlangsung.
Workshop tersebut diharapkan menjadi pijakan awal bagi mahasiswa Jurnalistik angkatan 2026 untuk membangun pola studi yang terarah. Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu mengikuti perkuliahan, tetapi juga aktif mengembangkan keterampilan jurnalistik, membangun portofolio, memperluas jejaring dan menjaga etika akademik.
Dengan bekal tersebut, lulusan Jurnalistik diharapkan tidak berhenti pada penguasaan teori komunikasi dan jurnalistik, tetapi memiliki kompetensi praktis, pengalaman, karakter, serta portofolio yang relevan sebagai bekal memasuki dunia profesional.













