Ragam

Pradi Supriatna Ingatkan Bahaya Banjir Informasi : Literasi Media Harus Turun Hingga Sekolah dan ASN Depok

adminsigiku.com
×

Pradi Supriatna Ingatkan Bahaya Banjir Informasi : Literasi Media Harus Turun Hingga Sekolah dan ASN Depok

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Anis

Kota Depok – Kemudahan mengakses informasi di era digital dinilai menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi mempercepat pengetahuan, di sisi lain membuka keran disinformasi yang mengancam kedaulatan bangsa dan kebersamaan.

Pesan tegas itu disampaikan Anggota DPRD Jawa Barat, H. Pradi Supriatna, saat menjadi Keynote Speaker dalam kegiatan Pemahaman Literasi Media Bagi Masyarakat bertema Peningkatan Kualitas SDM Penyiaran melalui Riset 5+1 di Balai Kota Depok, Jum’at (19/9/2026).

Menurut politisi yang akrab disapa H. Pradi itu, masifnya penggunaan media sosial oleh generasi milenial, Gen Z, hingga Alpha membuat kemampuan literasi tidak lagi bisa ditawar.

“Betapa pentingnya kita memberikan literasi kepada masyarakat, apalagi kepada rekan-rekan muda ke depan, bahwa kita membutuhkan informasi yang valid, mengedukasi, dan tentu salah satunya adalah pencerahan dalam rangka menjaga kedaulatan bangsa serta rasa kebersamaan di antara kita,” tutur Pradi.

Ia menilai, kecepatan arus informasi saat ini jauh melampaui kecepatan regulasi. Dalam hitungan detik, sebuah informasi – entah benar atau hoaks – sudah menyebar luas hanya lewat genggaman telepon.

“Di era arus global yang luar biasa ini, kecepatan arus informasi itu luar biasa. Regulasi kadang belum ada, informasi-informasinya itu sudah sampai,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjut Pradi, harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk memilah, memverifikasi, dan berpikir kritis sebelum mempercayai apalagi menyebarkannya.

Karena itu, ia mendorong Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jabar untuk tidak hanya berhenti melakukan literasi di level provinsi, tetapi memperluas jangkauan hingga ke kota dan kabupaten, termasuk Kota Depok.

“Kalau provinsi kami sudah sering kali, nah ini ke wilayah, kota, dan kabupaten. Menurut saya ini sesegera mungkin. Bahkan kami berharap tadi bisa kerja sama awal nanti kepada ASN-ASN dulu di Kota Depok,” ucapnya.

ASN, menurutnya, harus menjadi contoh pertama sebagai penyaring informasi yang cerdas dan bijak sebelum diteruskan ke masyarakat luas.

Tak hanya ASN, Pradi sangat mendukung literasi media masuk ke dunia pendidikan, khususnya jenjang SLTP dan SLTA yang dihuni Gen Z dan Alpha yang sangat lekat dengan teknologi.

“Sangat, sangat kami harapkan di level SLTP dan SLTA, tenaga dan pemikiran serta program-program yang sudah ada bisa masuk di level-level sekolah,” tegasnya.

Ia menjelaskan, metode literasi harus disesuaikan dengan usia. Untuk SD bisa melalui _storytelling_ yang edukatif, sementara untuk SMP-SMA melalui diskusi interaktif yang membangun nalar kritis.

“Jangan sampai mungkin hanya informasi yang sebelah. Kita harus menyeluruh menerima informasi ini. Jangan cepat menyimpulkan hal-hal yang tidak sepenuhnya utuh kita terima,” pesannya, terutama untuk Kota Depok yang masyarakatnya sangat majemuk.

Pradi juga mengingatkan pentingnya rumus dasar jurnalistik 5W+1H -what, who, when, where, why, how – sebagai filter sederhana sebelum membagikan informasi.

“Untuk apa, siapa, dari mana sumbernya, tujuannya apa. Saya rasa ini ke depan bisa kita perbaiki,” katanya.

Di akhir, ia menegaskan bahwa benteng perlindungan terbaik dari dampak negatif arus informasi bukan hanya regulasi, melainkan kesadaran dalam diri masing-masing individu.

“Protect-nya adalah bukan apa yang ada di hadapan kita, tapi ada pada diri kita. Ketika literasi ini sampai untuk dipahami, tentu kita bisa memproteksi diri kita sendiri,” tandas H. Pradi.