Kolaborasi antara Desa Wangunjaya, Penyuluh Kehutanan Sukabumi dan Pesantren Mabda Islam</strong>
Oleh : Sugama
(Penyuluh Kehutanan Jawa Barat)
Desa Wangunjaya Kecamatan Ciambar merupakan salah satu desa Sekitar Hutan yang berada di wilayah Kebupaten Sukabumi. Desa tersebut berbatasan langsung dengan Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) dan kawasan Perum Perhutani.
Masyarakat Desa sekitar hutan pada umumnya sangat bergantung pada sumber daya hutan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan ekonomi dan budayanya, baik yang memanfaatkan secara langsung ataupun tidak langsung dari hasil hutan tersebut.
Sebagian besar dari mereka melakukan kegiatan budidaya pertanian di dalam kawasan hutan. Lainnya hanya memetik hasil hutan non-kayu seperti rotan, getah, sarang burung, lebah madu dan tanaman obat-obatan, sebagian lainnya adalah mencari kayu bakar, menyabit rumput, berburu atau menggembalakan ternaknya di dalam kawasan hutan.
Masyarakat sekitar dan di dalam hutan pada umumnya merupakan masyarakat yang tertinggal, dengan kondisi sosial ekonomi golongan masyarakat ini pada umumnya masih rendah.
Hal ini disebabkan oleh adanya pengabaian kepentingan masyarakat setempat terhadap pelaksanaan pembangunan kehutanan. Selama ini upaya mensejahterakan masyarakat setempat belum berhasil dan belum secara cepat mengakomodasi kepentingan sosial, budaya dan ekonomi.

Dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat desa guna memperbaiki taraf hidup dan kesejahteraannya, Penyuluh Kehutanan CDK Wilayah III Sukabumi secara rutin melakukan pembinaan.
Diharapkan dengan meningkatnya pengetahuan dan taraf hidup masyarakat ini akan mengurangi perambahan hutan yang mengakibatkan kerusakan hutan tersebut.
Salah satu Upaya ini adalah dengan mengadakan Kegiatan Pelatihan Budidaya Lebah Madu Trigona (sunda: Teuweul). Kegiatan yang berlangsung mulai tanggal 2 s/d 5 Desember 2019 bertempat di Aula Desa Wangunjaya.
Pelatihan ini merupakan Kolaborasi antara Pemerintahan Desa setempat dengan Penyuluh Kehutanan, serta Pesantren Yatim Mabda Islam yang menyediakan tempat praktek dan kelas lapang serta penjelasan dari penangung jawab lapangannya.
Menurut Penjelasan Subarjo Senoaji, Penyuluh Kehutanan senior Sukabumi, dipilihnya Lebah trigona sebagai materi pelatihan, karena memelihara lebah tersebut relatif lebih aman dan mudah.
Trigona adalah sejenis lebah tanpa sengat (Stingless Bee), sehinga aman bagi pemelihara maupun tetangga sekitar. Lebah ini juga mudah dipelihara karena tidak memerlukan perhatian khusus, cukup dengan menyediakan kandang (stup) dan beberapa jenis tanaman untuk pakan lebah.

Terdapat tiga jenis bahan yang secara langsung di produksi oleh Lebah trigona, yaitu : Madu, Propolis, dan Bee Pollen. Semua produk tersebut sangat berguna bagi kebugaran dan kesehatan manusia, dan ketiganya memiliki harga yang cukup bagus dipasaran.
Keuntungan lain yang secara tidak langsung, lebah trigona itu merupakan jenis hewan penyerbuk alami yang handal bagi tanaman pertanian, sehinga dapat meningkatkan produksi pertanian, tambah Subarjo.
Selanjutnya Subarjo juga memaparkan bahwa lingkungan sekitar kawasan hutan merupakan tempat yang cocok untuk habitat lebah trigona, baik iklim nya maupun vegetasinya sebagai sumber makanan yang diperlukan.
Lebah trigona dalam hidupnya memerlukan bunga-bungaan sebagai sumber nektar penghasil madu, tanaman bergetah atau resin sebagai penghasil propolis dan wadah untuk madu, serta pollen untuk makan ratu lebah. Dan sumber makan ini cukup melimpah dikawasan sekitar hutan.
Pelatihan yang berlangsung selama empat hari ini diakhiri dengan kelas lapang di Pesantren Mabda Islam, yang berlokasi di Kampung Pasir gede Desa Nyalindung Kecamatan Nyalindung. Di Pesantren Agro Park ini terdapat kegiatan usaha tani budidaya lebah madu trigona.
Terdapat beberapa bangunan saung lebah, kebun bunga-bungaan, serta pondok pertemuan. Peserta pelatihan selain mendapat ilmu secara langsung dari praktisi lapangan, juga bisa refreshing menikmati keindahan alam, dan udara yang sejuk.













