APBD 2018 Hanya Terserap 85%, Kota Cimahi Sisakan SILPA Ratusan Milyar

0

Pewarta : Lipsus /Red.Bs

Koran SINAR PAGI, Cimahi,–Pemerintah Kota Cimahi dalam Penyerapan Anggaran hingga akhir Desember 2018 hanya mampu menyerap anggaran sebesar 85,85 %  dari target 100 persen yang dicanangkan pada awal tahun.

Dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Cimahi pada tahun 2018 sebesar Rp 1,452 triliun, yang terserap hanya sebesar Rp 1,296 triliun.

Sementara dari data yang ada di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) pada tahun 2018, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) yang ada diperkirakan sekitar Rp 156 miliar.

Kepala BPKAD Kota Cimahi, Achmad Nuryana mengatakan, jumlah SILPA yang tercatat saat ini masih dapat berubah. Sebab, belum semua SKPD melaporkan hasil akhir dari anggaran yang terpakai.

“Sekarang (SILPA) ada di angka Rp156,824 miliar, sebelumnya diperkirakan itu kita ada SILPA sekitar Rp200 miliar. Jadi pencapaiannya cukup bagus,” katanya.

Dia menjelaskan, saat ini pihaknya belum dapat menginventarisir untuk dinas mana yang paling tinggi atau yang paling rendah dalam melakukan penyerapan. Sebab, sebetulnya bagian administrasi pembangunan (Adbang) yang akan melakukan monitoring evaluasi (Monev) terlebih dahulu.

Pasalnya, untuk mengetahui secara pasti berapa anggaran yang terserap harus ada pengecekan terlebih dahulu dari Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).

Secara terpisah, Pengamat Politik, Pemerintahan dan Anggaran dari Monitorring Community Jawa Barat, Kandar Karnawan mengatakan, serapan APBD 2018 Pemkot Cimahi yang hanya sekitar 85 persen menyebut serapan anggaran sebesar itu terbilang rendah.

Hal itu, kata Kandar, menandakan lemahnya Pemkot Cimahi dalam perencanaan dan ekseskusi program.

“Serapan APBD Cimahi yang hanya 85 persen menunjukkan lemahnya kepemimpinan dan kinerja Walikota Cimahi. Walikota Ajay tidak mampu menjadi dirijen bagi jalannya pembangunan yang baik bagi warga Kota Cimahi,” kata Kandar, Jumat (4/1/2018).

Dijelaskan Kandar, rendahnya serapan ABPD Cimahi tak bisa dilepaskan dari peran dan kepemimpinan Ajay S Priatna sebagai Walikota. Ia menilai Ajay seperti tak memiliki arah dan konsep pembangunan yang jelas sehingga target-target pembangunan yang bersifat rutinitas pun tak tercapai.

Selama masa kepemimpinan Ajay dan Ngatiyana, kata dia, tak terlihat ada perubahan berarti di Kota Cimahi. Warga Cimahi, menurut Kandar, masih menikmati hasil pembangunan peninggalan Walikota yang lalu.

“Ini menandakan kinerja Ajay sebagai Walikota tidak baik alias gagal sejauh ini. Yang sudah direncanakan banyak yang gagal karena terkendala waktu dan tender serta konflik kepentingan,” ujar pria yang akrab disapa Aan.***