Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)
Saat mengikuti haul 100 hari wafatnya Prof.Dr.H.Mohamad Surya yang digagas FIP UPI Bandung, sejumlah kisah keistimewaan Beliau diungkapkan. Saya kebetuan turut sebagai narasumber yang harus memberikan testimoni terkait sosok Prof. Surya. Saya didaulat representasi dari guru dan pengurus organisasi profesi guru.
Hadir memberikan testimoni Prof. Sunaryo Kartadinata (Duta Besar Uzbekistan), Dr.Unifah Rosyidi (Ketua PB PGRI), Dr.HM.Solehuddin,M.Pd. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan), Dr.H.Agus Taufiq,M.Pd (Dekan FIP) dan Ibu Surya serta keluarga besarnya. Berbagai elemen terkait pendidikan hadir sebagai peserta, termasuk perwakilan PGRI.
Haul adalah sebuah momentum dari wafatnya seorang tokoh besar. Tokoh yang bermanfaat bagi kehidupan kemanusiaan sesuai bidang garapannya. Sejumlah apresiasi dan narasi keistimewaan almarhum Prof.Surya tersajikan dari para narasumber. Begitu mudah menggambarkan keistimewaan Prof.Surya, sosok yang penuh jasa.
Sebagai narasumber Saya pun membuka testimoni dengan mengatakan, “Bila di TNI ada Jenderal Soedirman, di Polri ada Jenderal Hoegeng maka di dunia guru ada Prof.Dr.H.Mohamad Surya”. Sosok hebat dalam setiap lembaga, organisasi dan bahkan politik selalu menonjol. Prof.Surya adalah sosok yang paling istimewa di dunia guru.
Bila TNI dan Polri gelar tertingginya adalah jenderal bintang empat, maka di dunia guru gelar tertingginya adalah profesor. Prof.Surya adalah “Panglima PGRI” pertama yang meraih profesor dan merintis karir pendidik dimulai dari guru SD.
Jalau di dunia TNI l ada prajurit karir maka di dunia guru ada guru karir. Prof.Surya adalah best practice dari sosok parjurit guru karir.
Sosok Prof.Surya adalah sosok yang lahir dari “derita” dunia guru. Ini sama dengan sosok Jenderal Soedirman dan Jenderal Hoegeng. Mereka bertiga, hidupnya totalis untuk profesi yang dibanggakannya. Mereka bertiga tidak mencari hidup diprofesinya melainkan mewakafkan diri untuk organisasi. Mereka bertiga adalah legenda dan inspirasi bagi generasi penerusnya. Sulit rasanya sa’at ini menemukan pemimpin yang totalis altruistik.
Prof.Surya, Soedirman dan Hoegeng adalah pribadi yang sudah selesai dengan keperluan dirinya. Mereka sosok maha kaya atas potensi dedikasi dan rasa cinta pada organisasi. Dirinya rela berkorbankan untuk organisasi. Prof.Surya begitu menghormati dan memuliakan guru. Soedirman begitu menghormati dan memuliakan prajurit TNI. Begitu pun Hoegeng sangat menjaga citra mulia seorang polisi.
Sahabat pembaca Prof.Surya nasibnya sama dengan Soedirman dan Hoegeng. Pepatah bijak mengatakan, “Sang Pahlawan realitasnya bukan untuk hidup senang dan bahagia melainkan Ia berani menderita dan sengsara demi kesejahteraan dan kebahagiaan generasinya”.
Soedirman adalah sosok yang tidak bergelimang harta. Namun anehnya sejumlah jenderal sa’at ini sungguh tidak ada yang miskin. Hoegeng hidup sangat sederhana. Namun anehnya para jenderal polisi sa’at ini hampir semuanya kaya raya. Prof,Surya adalah pejuang kesejahteraan guru. Saat TPG dinikmati para guru, Ia tidak pernah menikmatinya. Ia hidup sederhana.
Tahukah anda pada hakekatnya perjuangan Prof.Surya telah memberi kesejahteraan yang luar biasa pada; 1) satu juta lebih guru, 2) ratusan ribu dosen, 3) ratusan Bank, 4) semua Pemda di Indonesia dan 5) pemerintah. Mengapa Prof. Surya begitu kontributif secara finansial pada beberapa poin diatas ? Jawabannya. Bukankah dengan adanya TPG hasil perjuangan PGRI dalam kepemimpinan Prof.Surya telah mengalirkan dana trilyunan? Dana ini dinikmati oleh semuanya. Prof.Surya tidak ikut menikmatinya, karena beliau tidak sempat mendapatkan TPG.
Prof.Surya bagaikan matahari yang memancarkan kehidupan dan kesejahteraan ke semua arah. Adanya UURI No 14 Tahun 2005 hasil perjuangan Prof.Surya berdampak pada hak guru terkait sertifikasi dan berbuah TPG.
TPG ini telah menyebabkan kesejahteraan secara multiplier effect. Mulai dari pasar, dealer mobil/motor, umroh dan haji bergeliat meningkat. Ratusan ribu guru berangkat ke tanah suci pasca TPG. Pada hakekatnya semua hal di atas buah perjuangan Prof. Surya dengan PGRInya.
Prof.Surya dengan PGRI telah memberi kesejahteraan pada republik ini. Khususnya para guru. Adakah rasa cinta pada Prof.Surya dan PGRI dihati para guru yang sudah dapat TPG? Bila ada bahkan bila rasa itu kuat bersemayam dalam diri guru, maka kita adalah guru yang wow dan baik. Prof. Surya sudah tiada. Kemana rasa cinta itu kita labuhkan. Hanya kepada PGRI rasa cinta dan tasyakur itu diberikan. Tinggal PGRInya berbenah sesuai keinginan para guru di seluruh Indonesia.
Bila PGRI stag, nama Prof.Surya tak dikenang lagi maka dunia guru akan menemukan masa pralaya. Bukan masa jaya. Agar para guru memasuki masa jaya maka bersatulah para guru Indonesia dalam satu wadah terbesar, terkuat, terbaik dan sesuai dengan keinginan para guru. Begitupun bila TNI malah berpolitik lupa Soedirman maka TNI akan jauh dari rakyat. Termasuk Polri bila citranya identik menjauh dari karakter Hoegeng maka rakyat akan alergi. Nah bagaimana rakyat guru pada PGRI? Alergikah?
TNI dan Polri jumlahnya masing-masing tidak melintasi 500 ribu. Guru jumlahnya lebih dari 3 juta. Sebuah kekuatan ormas profesi yang dahsyat. Bila dikelola dan disatukan dalam satu wadah maka akan menjadi kekuatan terbesar di negeri ini. Semuanya sarjana, ada magister dan doktor bahkan sejumlah profesor pun ada. Kapan para guru Indonesia akan menyatukan diri dalam satu wadah yang kuat? Entah kapan? Mungkin akan bersatu saat egoisme, kepentingan pribadi dan politik sudah dianggap aib. Bila kepentingan pribadi, egoisme dan politik praktis masih dianggap wajar. Selama itu persatuan hanyalah sebuah persatean.











