Pewarta : Avenk
Koran SINAR PAGI, Kota Sukabumi,- Kongres Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Ke XXII yang berlangsung di Jakarta, Jum’at (05/07/19) lalu, terasa begitu istimewa bagi PGRI Kota Sukabumi, pasalnya, dalam perhelatan akbar tersebut, Ketua PGRI Kota Sukabumi, Dudung Nurullah Koswara, terpilih menjadi Ketua Pengurus Besar (PB) PGRI Pusat.
Terpilihnya Dudung menjadi Ketua PB PGRI Pusat menjadi sebuah lompatan “karir” tak biasa di organisasi para guru ini, karena tradisi di tubuh PGRI adalah berjenjang dan bertahap.
Untuk menjadi seorang Ketua PB PGRI, yang bersangkutan terlebih dahulu harus menjadi pengurus di PGRI tingkat provinsi atau PB PGRI dahulu. Hal ini tidak berlaku bagi Dudung, dia melompati satu fase organisasi, padahal sebelumnya, Dudung adalah salah satu sosok yang digadang-gadang akan menjadi calon Ketua PGRI Provinsi Jawa Barat, namun ternyata takdir berbicara lain, dalam kongres di Jakarta itu, Dudung malah didaftarkan sejumlah daerah untuk mencalonkan diri sebagai Ketua di PB PGRI.
Kemenangan Dudung diperoleh dari suara dukungan kota dan kabupaten se Indonesia dengan 678 suara. Sebuah pencapaian yang luar biasa. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Dudung nampaknya sudah membuka jalan baru pada tradisi seorang Ketua PGRI tingkat kota dan kabupaten yang bisa melompat menjadi pengurus PGRI pusat.
Kepada koransinarpagijuara.com, Dudung Nurullah Koswara mengatakan, menjadi pengurus atau Ketua PGRI harus total, wakaf diri dan focus, “Jangan asal-asalan atau numpang nama tanpa kerja, jadilah ketua atau pengurus yang benar-benar bangga dan setiap saat berpikir tentang kemajuan organisasi,” ucapnya, Selasa (09/07/19).
Diakui Dudung, sebelumnya ia telah berhasil menghimpun kekuatan idealisme PGRI kota dan kabupaten seluruh Indonesia dalam wadah Forum Pimpinan PGRI Ko/kab (FPPK) seluruh Indonesia.
Menurutnya, forum yang dibentuknya ini secara intens mengadakan pertemuan dan diskusi keorganisasian diberbagai tempat plus gerakan masif di dunia maya semisal WA. Diskusi dan bahkan provokasi idelalisme ke PGRI terus dipompakan.
Sebagai Ketua FPPK seluruh Indonesia, wajar jika kemudian dirinya dicalonkan sejumlah daerah dan Dudung yang awalnya berkeinginan mengabdi di PGRI Jabar pun tak dapat menolak dorongan tersebut, hingga akhirnya bertekad mengikuti kontestasi menjadi Ketua PB.
Rival Dudung dalam kontestasi ini terbilang sangat berat, karena harus bersaing dengan banyak tokoh hebat di PGRI seperti, Prof.Sudarwan Danim (Ketua PGRI Prov Bengkulu), Prof.Wasir Tahlib (Ketua PGRI Prov Sulawesi Selatan), Prof.Samio (Ketua PGRI Kalimantan Barat), Widadi (Ketua PGRI Jawa Tengah) dan bahkan Dr.Edi Parmadi (Ketua PGRI Jawa Barat).
“Selain gerakan penguatan kedaulatan PGRI melalui PGRI Ko/kab, saya juga menggagas aspirasi seluruh guru di Indonesia, bahwa dalam struktur inti PGRI mulai dari ko/kab, provinsi dan pusat harus ada gurunya, karena ini organisasi para guru, sehingga bila dalam struktur pengurus inti PGRI tidak ada gurunya, sangat tak elok,” katanya.
Dikatakannya, amanah dan substansi dari UU RI No 14 Tahun 2005 harus difahami dengan bijak. PGRI “Rasa Guru” adalah sebuah keniscayaan, bila tidak, maka PGRI pelan-pelan akan ditinggalkan karena dianggap bukan rumahnya.
Dudung masuk menjadi Ketua di PGRI pusat mewakili identitas guru, “Saya adalah guru murni, sehingga lebih mengerti derita dan dinamika guru. PGRI rasa guru adalah PGRI yang lebih mengerti apa yang menjadi harapan para guru,” tegasnya.
Dudung berharap PB PGRI ke depan akan lebih aspiratif, profesional dan mengerti apa yang dimaui para guru seluruh Indonesia.
Bahkan Dudung berharap, Ketua Umum PB PGRI, Prof.Dr.Unifah Rosyidi dapat masuk di susunan Kabinet baru Jokowi agar bisa menyelamatkan nasib guru.
“Beliau (Prof.Unifah-red), sangat – sangat layak dan pantas. Menteri Pendidikan dari guru (PGRI) akan lebih berasa dan terasa gurunya,” pungkas Dudung.













